Claim Missing Document
Check
Articles

Found 4 Documents
Search

KONSEP SYUKUR DALAM PERSPEKTIF IMAM AL-GHAZALI DAN RELEVANSINYA BAGI PENYANDANG DISABILITAS Dimas Dwi Putra
Bahasa Indonesia Vol 12 No 1 (2026): TEO-SUFISME
Publisher : Program Studi Ilmu Tasawuf Universitas Pangeran Diponegoro Nganjuk, Jawa Timur

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.53429/spiritualis.v12i1.2286

Abstract

Penelitian ini membahas konsep syukur dalam perspektif Imam al-Ghazali serta relevansinya bagi kehidupan penyandang disabilitas. Isu disabilitas kerap dihadapkan pada stigma sosial dan tekanan psikologis yang berdampak pada aspek spiritual individu. Oleh karena itu, diperlukan pendekatan keagamaan yang humanis dan inklusif. Penelitian ini merupakan penelitian kepustakaan (library research) dengan pendekatan kualitatif-deskriptif bercorak filosofis dan sufistik. Sumber data primer berasal dari karya-karya Imam al-Ghazali, khususnya Ihya’ ‘Ulum al-Din dan Sabar dan Syukur, sedangkan sumber sekunder diperoleh dari buku dan artikel ilmiah yang relevan. Hasil penelitian menunjukkan bahwa menurut al-Ghazali, syukur merupakan maqām spiritual yang terdiri dari tiga unsur utama, yaitu pengetahuan (ilmu), kondisi batin (hal), dan perbuatan (amal). Konsep syukur ini relevan bagi penyandang disabilitas karena mampu membangun penerimaan diri, ketenangan batin, serta ketahanan psikologis dalam menghadapi keterbatasan dan tekanan sosial. Selain itu, konsep syukur juga memiliki implikasi sosial dalam membangun sikap empati dan inklusivitas masyarakat terhadap penyandang disabilitas.
Konsep Dialog Islam dan Barat Tariq Ramadan: Studi Kasus Prancis Dimas Dwi Putra; Ahmad Syukri
Jurnal Kajian Islam dan Sosial Keagamaan Vol. 3 No. 1 (2025): Juli - September
Publisher : CV. ITTC INDONESIA

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Artikel ini membahas pemikiran Tariq Ramadan tentang dialog antara Islam dan Barat, dengan fokus pada studi kasus Prancis. Ramadan menawarkan pendekatan dialogis berbasis nilai-nilai universal seperti keadilan, tanggung jawab sosial, dan etika spiritual. Ia menolak dikotomi antara identitas Islam dan kewarganegaraan Barat, serta memperkenalkan konsep Western Muslim sebagai bentuk sintesis antara iman dan partisipasi aktif dalam masyarakat. Di Prancis, gagasan Ramadan diuji oleh model sekularisme radikal (laïcité) yang membatasi ekspresi keagamaan umat Islam. Melalui kajian kualitatif dengan metode studi pustaka, artikel ini menunjukkan bahwa pemikiran Ramadan mampu menjadi alternatif dalam membangun hubungan yang setara dan konstruktif antara Islam dan Barat, serta sebagai wacana reformasi identitas Muslim di tengah tantangan global.
LEMBAGA BAITUL MAL PADA ABAD KE-7–15 M:KAJIAN HISTORIOGRAFI Dimas Dwi Putra
JAMBE: Jurnal Sejarah Peradaban Islam Vol. 7 No. 2 (2025): JAMBE: Jurnal Sejarah Peradaban Islam
Publisher : Jurusan Sejarah Peradaban Islam Fakultas Adab dan Humaniora UIN Sulthan Thaha Saifuddin Jambi

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.30631/jambe.v7i2.217

Abstract

Penelitian ini membahas tentang fungsi Lembaga Baitul Mal dalam sejarah Islam, khususnya peranannya dalam pengelolaan keuangan negara dan distribusi kesejahteraan sosial. Baitul Mal merupakan lembaga keuangan publik yang berfungsi mengumpulkan dan menyalurkan berbagai sumber pendapatan negara Islam seperti zakat, kharaj, jizyah, dan ghanimah. Dalam perkembangan sejarah, Baitul Mal tidak hanya berperan sebagai tempat penyimpanan harta, tetapi juga sebagai instrumen penting dalam mewujudkan keadilan sosial dan ekonomi umat. Melalui kajian deskriptif-historis, penelitian ini menyoroti dinamika pengelolaan Baitul Mal dari masa Rasulullah ﷺ, Khulafaur Rasyidin, hingga pemerintahan Islam klasik. Hasil penelitian menunjukkan bahwa sistem Baitul Mal berkontribusi signifikan dalam menciptakan keseimbangan sosial, pemerataan ekonomi, serta menjadi inspirasi bagi pengembangan lembaga keuangan Islam modern.
Rekonstruksi Abu Bakar As Siddiq Dalam Media Kompas 2020-2025: Studi Historiografi Islam Dimas Dwi Putra; Ahmad Widodo
Thaqafiyyat : Jurnal Bahasa, Peradaban dan Informasi Islam Vol 25, No. 1 (2026): Thaqāfiyyāt
Publisher : Fakultas Adab dan Ilmu Budaya UIN Sunan Kalijaga Yogyakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.14421/thaq.2026.25103

Abstract

Abstrak: Penelitian ini mengkaji rekonstruksi figur Abu Bakar as-Siddiq dalam pemberitaan Kompas periode 2020–2025 sebagai bentuk perkembangan historiografi Islam kontemporer di Indonesia. Dengan menggunakan pendekatan Analisis Wacana Kritis Norman Fairclough dan perspektif historiografi Islam, penelitian ini menganalisis bagaimana Kompas merepresentasikan Abu Bakar serta merekonstruksi narasi sejarah dalam konteks masyarakat modern. Hasil penelitian menunjukkan bahwa Kompas cenderung merepresentasikan Abu Bakar sebagai simbol kepemimpinan etis, teladan moral dan spiritual, figur rasional dalam pengambilan keputusan, serta penjaga persatuan umat. Representasi tersebut menunjukkan adanya pergeseran dari historiografi politik klasik menuju narasi sejarah yang lebih kontekstual dan berorientasi pada nilai-nilai sosial. Penelitian ini juga menemukan bahwa media digital tidak hanya berfungsi sebagai sarana penyebaran pengetahuan sejarah, tetapi turut berperan sebagai agen pembentuk memori kolektif dan kesadaran sejarah Islam masyarakat kontemporer. Kebaruan penelitian ini terletak pada penggabungan kajian historiografi Islam dan media digital dalam melihat bagaimana media massa merekonstruksi tokoh sejarah Islam sesuai dengan kebutuhan sosial masa kini. Penelitian ini berkontribusi dalam memperkaya kajian mengenai hubungan antara historiografi Islam, wacana media, dan budaya publik digital di Indonesia. Kata Kunci: Historiografi Islam; Abu Bakar as-Siddiq; Kompas; Analisis Wacana Kritis; Media Digital Abstract: This study examines the reconstruction of Abu Bakr as-Siddiq's figure in Kompas news coverage from 2020 to 2025 as a manifestation of contemporary Islamic historiography in Indonesia. Employing Norman Fairclough's Critical Discourse Analysis (CDA) and the perspective of Islamic historiography, this research analyzes how Kompas represents Abu Bakr and reconstructs historical narratives within the context of modern society. The findings reveal that Kompas predominantly portrays Abu Bakr as a symbol of ethical leadership, moral and spiritual role model, rational decision-maker, and guardian of social unity. These representations indicate a shift from classical political historiography toward a more contextual and value-oriented narrative. The study further demonstrates that digital media functions not only as a channel for disseminating historical knowledge but also as an active agent in shaping collective memory and contemporary Islamic historical consciousness. The novelty of this research lies in its integration of Islamic historiography and digital media studies, showing how mass media reconstructs historical Islamic figures to align with contemporary social values. This study contributes to a broader understanding of the relationship between Islamic historiography, media discourse, and digital public culture in Indonesia. Keywords: Islamic Historiography; Abu Bakr as-Siddiq; Kompas; Critical Discourse Analysis; Digital Media