Claim Missing Document
Check
Articles

Found 3 Documents
Search

Digital Burnout as a Psychological Risk Factor for Loneliness in Generation Z: The Mediating Function of Self-Esteem Mira Wahyu Kusumawati; Wenny Nugrahati Carsita; Muhammad Ichsan Basir; Elok Faradisa; Amin Aji Budiman
Viva Medika Vol 19 No 1 (2026)
Publisher : LPPM Universitas Harapan Bangsa

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.35960/vm.v18i3.2203

Abstract

Background: Adolescents aged 15–17 years, often classified as Generation Z, are considered vulnerable to mental health problems because they are in a developmental transition from childhood to adulthood. Gen Z typically has high social media use, which may reduce opportunities for direct face-to-face interaction. Objective: This study aimed to examine the association between digital burnout and loneliness, with self-esteem as a potential mediator. Methods: This study employed a path analysis design. The study was conducted at SMAN 1 Sliyeg, Indramayu Regency, Indonesia. Participants were selected using purposive sampling with the following inclusion criteria: students aged 15–18 years, not currently using psychotropic medication, willing to participate, and able to read and write. Data were collected using a demographic questionnaire, the UCLA Loneliness Scale, and the Rosenberg Self-Esteem Scale (RSES). Results: Path analysis indicated that digital burnout significantly contributed to higher loneliness, while self-esteem showed a significant protective association with lower loneliness among Gen Z adolescents (p < 0.05). Conclusion: Digital burnout may influence loneliness directly; however, the mediating role of self-esteem requires further confirmation based on the full mediation pathway.
Gerakan Mental Health Berbasis Intervensi dan Resiliensi Adaptif Pasca Bencana di Desa Kutorenon Lumajang Primasari Mahardhika Rahmawati; Suhari; Amin Aji Budiman; R. Endro Sulistyono; Dwi Ochta Pebriyanti
DEDIKASI SAINTEK Jurnal Pengabdian Masyarakat Vol. 5 No. 2 (2026): Agustus 2026
Publisher : Al-Hijrah Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.58545/djpm.v5i2.964

Abstract

Bencana alam tidak hanya menimbulkan kerusakan fisik, tetapi juga dapat memengaruhi kesehatan mental dan kemampuan adaptasi penyintas. Program GEMBIRA (Gerakan Mental Health Berbasis Intervensi dan Resiliensi Adaptif) bertujuan mendukung pengelolaan stres dan resiliensi penyintas melalui integrasi edukasi kesehatan mental, stress management, dan art therapy berbasis aktivitas kreatif-produktif. Kegiatan dilaksanakan pada 17 Juli 2026 di Desa Kutorenon, Lumajang, dengan melibatkan 20 penyintas bencana. Metode pelaksanaan meliputi edukasi, demonstrasi, praktik langsung, diskusi, refleksi, dan pendampingan. Art therapy dilaksanakan melalui pembuatan kerajinan kawat bulu sebagai media ekspresi kreatif dan relaksasi sekaligus pengembangan keterampilan produktif. Evaluasi dilakukan melalui pengukuran pengetahuan, observasi keterampilan, dan penilaian Growth Focused Resilience. Hasil menunjukkan bahwa mayoritas peserta memiliki resiliensi pada kategori tinggi, yaitu 85% pada resiliensi total, 80% pada dimensi development growth, dan 85% pada dimensi positive emotion. Tidak terdapat peserta yang termasuk dalam kategori resiliensi rendah. Peserta juga mampu mengikuti tahapan kegiatan dan menghasilkan produk kreatif dengan pendampingan. Aktivitas art therapy berpotensi mendukung resiliensi melalui ekspresi dan regulasi emosi, refleksi diri, pemaknaan pengalaman, serta penguatan emosi positif. Integrasi intervensi psikososial dengan aktivitas kreatif-produktif dalam Program GEMBIRA berpotensi menjadi pendekatan berbasis masyarakat untuk mendukung pengelolaan stres, penguatan resiliensi, keterampilan, dan kemandirian penyintas pascabencana.
Gerakan Mental Health Berbasis Intervensi dan Resiliensi Adaptif Pasca Bencana di Desa Kutorenon Lumajang Primasari Mahardhika Rahmawati; Suhari; Amin Aji Budiman; R. Endro Sulistyono; Dwi Ochta Pebriyanti
DEDIKASI SAINTEK Jurnal Pengabdian Masyarakat Vol. 5 No. 2 (2026): Agustus 2026
Publisher : Al-Hijrah Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.58545/djpm.v5i2.964

Abstract

Bencana alam tidak hanya menimbulkan kerusakan fisik, tetapi juga dapat memengaruhi kesehatan mental dan kemampuan adaptasi penyintas. Program GEMBIRA (Gerakan Mental Health Berbasis Intervensi dan Resiliensi Adaptif) bertujuan mendukung pengelolaan stres dan resiliensi penyintas melalui integrasi edukasi kesehatan mental, stress management, dan art therapy berbasis aktivitas kreatif-produktif. Kegiatan dilaksanakan pada 17 Juli 2026 di Desa Kutorenon, Lumajang, dengan melibatkan 20 penyintas bencana. Metode pelaksanaan meliputi edukasi, demonstrasi, praktik langsung, diskusi, refleksi, dan pendampingan. Art therapy dilaksanakan melalui pembuatan kerajinan kawat bulu sebagai media ekspresi kreatif dan relaksasi sekaligus pengembangan keterampilan produktif. Evaluasi dilakukan melalui pengukuran pengetahuan, observasi keterampilan, dan penilaian Growth Focused Resilience. Hasil menunjukkan bahwa mayoritas peserta memiliki resiliensi pada kategori tinggi, yaitu 85% pada resiliensi total, 80% pada dimensi development growth, dan 85% pada dimensi positive emotion. Tidak terdapat peserta yang termasuk dalam kategori resiliensi rendah. Peserta juga mampu mengikuti tahapan kegiatan dan menghasilkan produk kreatif dengan pendampingan. Aktivitas art therapy berpotensi mendukung resiliensi melalui ekspresi dan regulasi emosi, refleksi diri, pemaknaan pengalaman, serta penguatan emosi positif. Integrasi intervensi psikososial dengan aktivitas kreatif-produktif dalam Program GEMBIRA berpotensi menjadi pendekatan berbasis masyarakat untuk mendukung pengelolaan stres, penguatan resiliensi, keterampilan, dan kemandirian penyintas pascabencana.