Irma Valentina Manurung
Universitas Haji Sumatera Utara

Published : 2 Documents Claim Missing Document
Claim Missing Document
Check
Articles

Found 2 Documents
Search

Inovasi Web Augmented Reality dalam Meningkatkan Kesiapsiagaan Bencana Siswa Sekolah Pesisir Syahferi Anwar; Irma Valentina Manurung; Balqis Nurmauli Damanik; Hely Hely
Jurnal Masyarakat Madani Indonesia Vol. 5 No. 2 (2026): Mei
Publisher : Alesha Media Digital

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.59025/fc846732

Abstract

SMAN 1 Pantai Cermin merupakan sekolah pesisir yang terletak ±1,2 km dari garis pantai dengan ketinggian rata-rata 2 meter di atas permukaan laut, sehingga sangat rentan terhadap bencana hidrometeorologi. Survei awal menunjukkan 65% siswa belum pernah mendapatkan pelatihan kesiapsiagaan bencana, sementara 70% masyarakat sekitar belum memahami prosedur tanggap darurat. Kegiatan pengabdian masyarakat ini bertujuan meningkatkan pengetahuan dan keterampilan kesiapsiagaan bencana siswa, guru, dan masyarakat SMAN 1 Pantai Cermin melalui penerapan modul edukasi berbasis Augmented Reality (AR) dan simulasi praktik lintas sektor. Kegiatan dilaksanakan selama enam bulan dengan pendekatan community-based participatory dengan tahapan: (1) survei dan analisis kebutuhan, (2) sosialisasi, (3) pengembangan dan validasi modul WebAR berbasis AR.js/MindAR, (4) pelatihan guru dan anggota PMR, (5) simulasi kebencanaan lintas sektor bersama PMI dan BPBD, serta (6) pendampingan dan evaluasi. Evaluasi dilakukan melalui observasi keterampilan praktik, survei kepuasan peserta, dan penilaian kompetensi fasilitator. Sebanyak 200 siswa SMAN 1 Pantai Cermin berhasil memperoleh keterampilan dasar kebencanaan mencakup prosedur evakuasi, penggunaan tandu darurat, dan identifikasi titik kumpul. Sebanyak 10 guru berhasil menjadi fasilitator internal kesiapsiagaan bencana. Modul WebAR berhasil dikembangkan dan digunakan secara aktif dalam satu ruang simulasi sekolah. Keterlibatan tiga lembaga mitra (PMI, BPBD, Dinas Pendidikan) tercapai, dan seluruh luaran termasuk buku saku, video edukasi, serta artikel publikasi berhasil diselesaikan. Integrasi teknologi WebAR dalam program pelatihan kesiapsiagaan bencana terbukti efektif, terjangkau, dan dapat diterapkan di sekolah pesisir dengan keterbatasan infrastruktur. Pendekatan simulasi partisipatif lintas sektor memperkuat kapasitas institusional sekolah sebagai pusat ketahanan komunitas.
Pemetaan Spasial Growth Faltering dan Luaran Maternal-Neonatal di Wilayah Kerja Fasilitas Kesehatan Primer Irma Valentina Manurung; Marta Imelda Br Sianturi; Balqis Nurmauli Damanik
Jurnal Ventilator Vol. 4 No. 1 (2026): Jurnal Ventilator
Publisher : Stikes Kesdam IV/Diponegoro Semarang, Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.59680/ventilator.v4i1.2360

Abstract

Growth monitoring through the electronic nutrition surveillance system (e-PPGBM) is a crucial early detection instrument for stunting prevention. However, high community participation in primary care does not always reflect comprehensive nutritional outcomes. This study aimed to evaluate growth monitoring indicators for children under five, map the spatial risk of growth faltering, and analyze maternal-neonatal outcomes in the working area of Puskesmas Bebesen, Central Aceh Regency, in December 2025. This cross-sectional descriptive study applied a retrospective secondary data review involving 2,298 children under five and 61 pregnant women. Data were extracted from the e-PPGBM database and midwifery cohort registers (KIA). Spatial descriptive analysis classified villages into three risk zones based on N/D ratios. Results showed that the D/S ratio reached 100%; however, the prevalence of growth faltering was 14.19% (326 children). Spatial mapping identified six high-risk villages (Zona Merah, N/D <70%). Maternal anemia prevalence was notably low (1.63%), while one case of Low Birth Weight (LBW) was identified among 17 documented live births. High primary care accessibility does not guarantee optimal child growth quality. Targeted micro-interventions in high-risk zones and strengthened continuum of midwifery care are urgently required to break the stunting cycle.