SMAN 1 Pantai Cermin merupakan sekolah pesisir yang terletak ±1,2 km dari garis pantai dengan ketinggian rata-rata 2 meter di atas permukaan laut, sehingga sangat rentan terhadap bencana hidrometeorologi. Survei awal menunjukkan 65% siswa belum pernah mendapatkan pelatihan kesiapsiagaan bencana, sementara 70% masyarakat sekitar belum memahami prosedur tanggap darurat. Kegiatan pengabdian masyarakat ini bertujuan meningkatkan pengetahuan dan keterampilan kesiapsiagaan bencana siswa, guru, dan masyarakat SMAN 1 Pantai Cermin melalui penerapan modul edukasi berbasis Augmented Reality (AR) dan simulasi praktik lintas sektor. Kegiatan dilaksanakan selama enam bulan dengan pendekatan community-based participatory dengan tahapan: (1) survei dan analisis kebutuhan, (2) sosialisasi, (3) pengembangan dan validasi modul WebAR berbasis AR.js/MindAR, (4) pelatihan guru dan anggota PMR, (5) simulasi kebencanaan lintas sektor bersama PMI dan BPBD, serta (6) pendampingan dan evaluasi. Evaluasi dilakukan melalui observasi keterampilan praktik, survei kepuasan peserta, dan penilaian kompetensi fasilitator. Sebanyak 200 siswa SMAN 1 Pantai Cermin berhasil memperoleh keterampilan dasar kebencanaan mencakup prosedur evakuasi, penggunaan tandu darurat, dan identifikasi titik kumpul. Sebanyak 10 guru berhasil menjadi fasilitator internal kesiapsiagaan bencana. Modul WebAR berhasil dikembangkan dan digunakan secara aktif dalam satu ruang simulasi sekolah. Keterlibatan tiga lembaga mitra (PMI, BPBD, Dinas Pendidikan) tercapai, dan seluruh luaran termasuk buku saku, video edukasi, serta artikel publikasi berhasil diselesaikan. Integrasi teknologi WebAR dalam program pelatihan kesiapsiagaan bencana terbukti efektif, terjangkau, dan dapat diterapkan di sekolah pesisir dengan keterbatasan infrastruktur. Pendekatan simulasi partisipatif lintas sektor memperkuat kapasitas institusional sekolah sebagai pusat ketahanan komunitas.
Copyrights © 2026