Haris Khoirurrijal
Universitas Sunan Gunung Djati Bandung

Published : 2 Documents Claim Missing Document
Claim Missing Document
Check
Articles

Found 2 Documents
Search

Representasi Makna Cinta dalam Lagu Arab Bikilma Meenak ( بكلمة منك ) dan Lagu Indonesia Buih Jadi Permadani: Kajian Semiotika Roland Barthes dalam Perspektif Sastra Bandingan Haris Khoirurrijal; Khalid Muzakki; Fadly Husni Abdillah
Vilvatikta: Jurnal Pengembangan Bahasa dan Sastra Daerah Vol. 3 No. 1 (2025)
Publisher : Pusat Studi Penelitian dan Evaluasi Pembelajaran

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.59698/vilvatikta.v3i1.570

Abstract

Musik populer tidak hanya berperan sebagai sarana hiburan, tetapi juga menjadi media ekspresi budaya dan cerminan nilai-nilai sosial masyarakat. Lagu, sebagai bentuk sastra modern, mengandung tanda-tanda linguistik yang dapat dikaji melalui analisis semiotika untuk menyingkap makna di baliknya. Penelitian berjudul “Representasi Makna Cinta dalam Lagu Arab Bikilma Meenak dan Lagu Indonesia Buih Jadi Permadani: Kajian Semiotika Roland Barthes dalam Perspektif Sastra Bandingan” ini bertujuan untuk menguraikan bagaimana makna cinta direpresentasikan melalui tiga tingkatan makna semiotik Roland Barthes (denotasi, konotasi, dan mitos) serta membandingkan perwujudannya dalam konteks budaya Arab dan Melayu-Indonesia. Penelitian ini menggunakan metode deskriptif kualitatif dengan pendekatan kepustakaan (library research). Hasil analisis menunjukkan bahwa Bikilma Meenak merepresentasikan cinta sebagai bentuk pengabdian spiritual, sedangkan Buih Jadi Permadani menampilkan cinta sebagai simbol pengorbanan dan kesetiaan. Pada tataran mitos, budaya Arab menonjolkan nilai kepasrahan dan spiritualitas, sementara budaya Melayu-Indonesia menekankan keikhlasan serta moralitas cinta sebagai wujud kemurnian perasaan.
Representasi Cinta Modern dan Keterasingan Emosional dalam Lagu ‘Asing’ Karya Juicy Luicy: Kajian Semiotika Roland Barthes Haris Khoirurrijal; Khalid Muzakki; Muhammad Irfan Maulana Hasan; Maman Abdul jaliel
Vilvatikta: Jurnal Pengembangan Bahasa dan Sastra Daerah Vol. 2 No. 2 (2024)
Publisher : Pusat Studi Penelitian dan Evaluasi Pembelajaran

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.59698/vilvatikta.v2i2.572

Abstract

Lagu populer tidak hanya berfungsi sebagai hiburan, tetapi juga sebagai bentuk ekspresi sosial dan kultural yang mencerminkan kondisi emosional masyarakat. Lagu “Asing” karya Juicy Luicy menampilkan potret cinta modern yang penuh dengan nuansa keterasingan, kehilangan, dan kerinduan terhadap masa lalu. Penelitian ini bertujuan mengungkap bagaimana lagu tersebut merepresentasikan konsep cinta modern dan keterasingan emosional melalui pendekatan semiotika Roland Barthes. Metode yang digunakan adalah deskriptif kualitatif dengan teknik analisis semiotik, yang meliputi tahap observasi teks, dokumentasi, serta klasifikasi data. Analisis dilakukan berdasarkan tiga tataran makna Barthes: denotatif, konotatif, dan mitologis. Hasil analisis menunjukkan bahwa lirik “Asing” membangun sistem tanda yang menggambarkan pergeseran relasi emosional dari kedekatan menuju keterasingan. Penanda seperti “ungu muda”, “kacamata”, “tertawa menutupi luka”, dan “lagu yang kau putar tiap hari” memiliki makna denotatif berupa representasi cinta dan kenangan, sementara secara konotatif mengandung emosi rindu, kehilangan, dan kepalsuan perasaan. Pada tataran mitos, lagu ini menegaskan ideologi cinta modern yang rapuh serta terpecah oleh tekanan sosial dan budaya urban. Repetisi lirik “Dahulu ku mengenalmu paling” dan “Mengapa kini berubah asing” memperkuat mitos tentang cinta yang bermetamorfosis menjadi keterasingan emosional—sebuah cerminan krisis makna dalam hubungan manusia masa kini. Dengan demikian, lagu “Asing” tidak hanya merekam kisah percintaan personal, tetapi juga menghadirkan refleksi sosial mengenai alienasi emosional dalam masyarakat modern.