Claim Missing Document
Check
Articles

Found 2 Documents
Search

Analisis Total Productive Maintenance (TPM) untuk Meningkatkan Efektivtas Mesin Tire Building Menggunakan Metode Overall Equipment Effectivefitness (OEE) dan Six Big Losses di PT XYZ Raihan Kusairi; Setiawan Setiawan; Puput Rahmawati
Jurnal Impresi Indonesia Vol. 5 No. 7 (2026): Jurnal Impresi Indonesia
Publisher : Riviera Publishing

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.58344/jii.v5i7.7936

Abstract

Industri manufaktur ban menghadapi tantangan dalam mempertahankan produktivitas dan kualitas produksi akibat tingginya ketergantungan terhadap keandalan mesin. Mesin tire building sebagai salah satu peralatan kritis dalam proses produksi ban perlu memiliki tingkat efektivitas yang optimal untuk menghindari kehilangan produksi akibat gangguan operasional. Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis efektivitas mesin tire building di PT XYZ melalui pendekatan Total Productive Maintenance (TPM) menggunakan metode Overall Equipment Effectiveness (OEE) dan Six Big Losses serta mengidentifikasi faktor penyebab utama penurunan kinerja mesin. Metode penelitian yang digunakan adalah kuantitatif deskriptif dengan pendekatan studi kasus menggunakan data operasional mesin periode September–Desember. Analisis dilakukan melalui perhitungan tiga komponen OEE, yaitu availability rate, performance rate, dan quality rate, kemudian dilanjutkan dengan identifikasi kerugian produksi berdasarkan Six Big Losses dan analisis prioritas menggunakan diagram Pareto. Hasil penelitian menunjukkan bahwa nilai rata-rata OEE mesin tire building sebesar 62,28%, masih berada di bawah standar world class sebesar 85%. Nilai availability rate mencapai 94,74%, sedangkan performance rate sebesar 76,83% dan quality rate sebesar 85,39%. Faktor kerugian terbesar berasal dari reduce speed losses sebesar 21,93% dengan kontribusi kumulatif 36,24%, diikuti oleh idling and minor stoppages losses, process defect losses, dan reduce yield losses. Berdasarkan hasil tersebut, peningkatan efektivitas mesin perlu difokuskan pada pengurangan kehilangan kecepatan produksi, peningkatan stabilitas operasi, dan pengendalian kualitas produk. Penelitian ini memberikan rekomendasi strategis bagi perusahaan dalam mengoptimalkan program pemeliharaan mesin berbasis TPM secara berkelanjutan.
Evaluasi Risiko Keselamatan Kerja Berbasis Metode HIRARC pada Produksi Furniture Ariansyah Ardi Suherman; Fibi Eko Putra; Puput Rahmawati
RIGGS: Journal of Artificial Intelligence and Digital Business Vol. 5 No. 2 (2026): Mei-Juli
Publisher : Prodi Bisnis Digital Universitas Pahlawan Tuanku Tambusai

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.31004/riggs.v5i2.11452

Abstract

Keselamatan dan Kesehatan Kerja (K3) merupakan aspek penting dalam menciptakan lingkungan kerja yang aman, sehat, dan produktif, terutama pada industri furnitur yang memiliki berbagai potensi bahaya akibat penggunaan mesin, peralatan kerja, serta bahan kimia. Namun, penerapan K3 pada industri furnitur skala kecil dan menengah masih menghadapi berbagai kendala, seperti rendahnya kepatuhan penggunaan alat pelindung diri (APD), belum tersedianya standar operasional prosedur (SOP), serta terbatasnya sistem pengendalian risiko. Penelitian ini bertujuan untuk mengidentifikasi potensi bahaya, menilai tingkat risiko kerja, serta menyusun rekomendasi pengendalian risiko pada area produksi CV. Interia Studio menggunakan metode Hazard Identification, Risk Assessment, and Risk Control (HIRARC). Penelitian menggunakan pendekatan deskriptif kualitatif dengan teknik pengumpulan data melalui observasi, wawancara, dan dokumentasi. Hasil penelitian menunjukkan bahwa aktivitas pemotongan kayu memiliki tingkat risiko tertinggi dengan skor risiko 16 yang termasuk kategori tinggi, sedangkan aktivitas pengamplasan, pengecatan, dan pengangkatan material berada pada kategori risiko sedang, serta aktivitas perakitan berada pada kategori risiko rendah. Tingginya tingkat risiko dipengaruhi oleh belum optimalnya penggunaan APD, belum adanya SOP tertulis, kurangnya pelatihan K3, serta belum tersedianya fasilitas keselamatan seperti APAR, kotak P3K, dan rambu keselamatan. Berdasarkan hasil analisis HIRARC, rekomendasi pengendalian difokuskan pada penerapan hierarki pengendalian risiko melalui rekayasa teknik, pengendalian administratif, penyediaan APD yang memadai, serta penguatan budaya keselamatan kerja. Implementasi rekomendasi tersebut diharapkan mampu menurunkan tingkat risiko kecelakaan kerja, meningkatkan kepatuhan terhadap penerapan K3, serta mendukung terciptanya lingkungan kerja yang lebih aman dan produktif pada industri furnitur.