Claim Missing Document
Check
Articles

Found 3 Documents
Search

Optimalisasi Kapabilitas Proses Filling Tepung Bumbu Menggunakan Metode DMAIC di PT XYZ Dwi Alfiansyah; Setiawan Setiawan; Yulia Aneke Putri
RIGGS: Journal of Artificial Intelligence and Digital Business Vol. 5 No. 2 (2026): Mei-Juli
Publisher : Prodi Bisnis Digital Universitas Pahlawan Tuanku Tambusai

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.31004/riggs.v5i2.8633

Abstract

Proses pengisian pada mesin filling memiliki peran penting dalam menjamin kesesuaian berat produk terhadap spesifikasi. Namun, pada kondisi awal ditemukan variasi berat produk yang tinggi sehingga kapabilitas proses belum optimal. Penelitian ini difokuskan pada perbaikan variasi berat produk tepung bumbu 210 gram di mesin X. Tujuan penelitian adalah menganalisis kapabilitas proses awal, mengidentifikasi faktor penyebab variasi, serta meningkatkan kapabilitas proses agar lebih stabil dan konsisten. Penelitian ini menerapkan pendekatan DMAIC, dengan identifikasi akar masalah menggunakan metode fishbone diagram serta 5 Why Analysis, serta evaluasi kinerja melalui analisis kapabilitas proses. Pengambilan data dilakukan menggunakan metode time-based sampling dengan total 120 data pengamatan yang dikelompokkan ke dalam 24 subgroup untuk analisis peta kendali X̄-R dan kapabilitas proses. Hasil pengukuran awal menghasilkan nilai Cp 1,07 dan Cpk 0,80 sehingga proses dinilai belum optimal dalam memenuhi spesifikasi. Hasil menunjukkan bahwa faktor dominan penyebab variasi adalah posisi sensor level hopper yang terlalu rendah sehingga menyebabkan ketidakstabilan aliran bahan. Perbaikan dilakukan melalui penyesuaian posisi sensor menjadi lebih tinggi dari kondisi awal. Hasilnya, variasi berat menurun dan kapabilitas proses meningkat dengan nilai Cp 1,36 dan Cpk 1,30, serta proses menjadi stabil. Disimpulkan bahwa penyesuaian posisi sensor efektif meningkatkan kestabilan dan kapabilitas proses. Pemantauan berkala disarankan untuk menjaga kinerja proses tetap optimal.
Implementasi Metode Six Sigma-DMAIC dalam Menurunkan Angka Defect Karat Produk Compression Ring di PT XYZ Refiana Ayu Kharisma; Setiawan Setiawan; Yulia Aneke Putri
RIGGS: Journal of Artificial Intelligence and Digital Business Vol. 5 No. 2 (2026): Mei-Juli
Publisher : Prodi Bisnis Digital Universitas Pahlawan Tuanku Tambusai

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.31004/riggs.v5i2.8920

Abstract

Dalam industri manufaktur, kualitas produk sangat penting karena berkaitan secara langsung dengan kepuasan pelanggan dan keberlangsungan bisnis. PT XYZ memproduksi komponen otomotif, yaitu ring piston, salah satunya compression ring K1N-HVN 53.5 line type G52. Dalam proses produksinya, masih ditemukan defect karat dengan jumlah yang cukup tinggi sehingga menyebabkan peningkatan produk reject. Penelitian dilakukan untuk mengidentifikasi faktor terjadinya defect karat serta menyusun palnning improvement berdasarkan metode Six Sigma dan  pendekatan DMAIC. Perhitungan yang dilakukan penulis menunjukkan bahwa selama periode April–September 2025 defect karat mencapai 17.044 pcs dari total produksi 171.522 pcs atau sebesar 9,94%. Jenis defect yang paling dominan adalah gai karat dengan kontribusi sebesar 56,09%. Lebih lanjut, perhitungan tingkat sigma berada pada angka 3,20. Hasil tersebut menunjukkan bahwa performa proses produksi masih perlu ditingkatkan agar tingkat defect dapat diminimalkan. Analisis faktor penyebab defect mengarah ke beberapa aspek, yaitu rendahnya kesadaran operator (faktor manusia), proses produksi yang belum stabil (faktor mesin dan metode), waktu tunggu produk yang terlalu lama (faktor metode dan material), kondisi produk yang belum benar-benar kering (faktor metode), serta kelembapan area kerja yang tinggi (faktor lingkungan). Usulan perbaikan yang diberikan meliputi peningkatan disiplin operator, pengendalian proses produksi, perbaikan alur perpindahan produk, dan pengaturan kondisi penyimpanan. Setelah dilakukan perbaikan, nilai sigma meningkat dari 3,20 menjadi 3,39 sehingga metode Six Sigma-DMAIC dinilai mampu membantu perusahaan dalam mengurangi defect karat serta meningkatkan kualitas proses produksi secara berkelanjutan.
Analisis Kualitas Hasil Mesin Bubut untuk Menurunkan Tingkat Defect Menggunakan Metode Failure Mode and Effect Analysis (FMEA) di PT XYZ Aries Wijayanto; Setiawan Setiawan; Cipto Purwanto
Jurnal Multidisiplin Indonesia Vol. 5 No. 5 (2026): Jurnal Multidisiplin Indonesia
Publisher : Riviera Publishing

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.58344/jmi.v5i5.2723

Abstract

PT XYZ menghadapi permasalahan tingginya tingkat defect pada proses pembubutan di Departemen Machining, dengan rata-rata persentase defect mencapai 12% dari total 1.716 unit produksi selama periode Juli hingga November 2025. Terdapat 6 jenis defect yang teridentifikasi, yaitu cacat dimensi, permukaan kasar, deformasi/distorsi, cacat geometri, masalah kualitas alat potong, dan kesalahan proses setup. Penelitian ini bertujuan untuk mengidentifikasi penyebab utama defect serta memberikan usulan perbaikan menggunakan metode Failure Mode and Effect Analysis (FMEA). Data dikumpulkan melalui observasi langsung, wawancara, dan dokumentasi data produksi. Hasil FMEA sebelum perbaikan menunjukkan bahwa deformasi/distorsi memiliki nilai RPN tertinggi sebesar 245, diikuti cacat dimensi sebesar 175 dan permukaan kasar sebesar 150. Setelah diterapkan perbaikan berupa standarisasi SOP, checklist produksi, pelatihan operator, kalibrasi alat ukur berkala, dan preventive maintenance, nilai RPN turun signifikan, di mana deformasi/distorsi menjadi 32 dan cacat dimensi menjadi 24. Penelitian ini menyimpulkan bahwa metode FMEA terbukti efektif sebagai alat pengendalian kualitas pada proses pembubutan di industri manufaktur, yang dibuktikan dengan penurunan substansial nilai RPN pada seluruh jenis defect. Temuan ini berkontribusi pada pengembangan ilmu teknik industri, khususnya dalam penerapan risk-based quality improvement untuk pengendalian kualitas proses permesinan.