Hakami Mundziri Sastra
UIN Sunan Kalijaga Yogyakarta

Published : 3 Documents Claim Missing Document
Claim Missing Document
Check
Articles

Found 3 Documents
Search

KUTUBUT-TIS'AH: KANONISASI 3 KITAB HADIS (MUSNAD AHMAD, MUWATTHA' MALIK, MUSNAD AD-DARIMI) SEBAGAI PELENGKAP KUTUBUS-SITTAH Muhammad Muqla Syauqy Tamam; Qhoirin Anisa; Maghfiroh Maghfiroh; Hakami Mundziri Sastra
EDU-RILIGIA: Jurnal Ilmu Pendidikan Islam dan Keagamaan Vol 9, No 4 (2025): Oktober-Desember
Publisher : Pascasarjana Universitas Islam Negeri Sumatera Utara Medan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.47006/er.v9i4.27500

Abstract

Seiring berkembangnya keilmuan Islam, Kutubut-Tis'ah (sembilan kitab hadis utama) telah menjadi literatur standar dalam tradisi Sunni, di mana enam kitab pertama (Kutubus-Sittah) diakui secara luas sebagai rujukan primer. Namun, posisi dan peran tiga kitab tambahan, yaitu Musnad Ahmad, Muwattha' Imam Malik, dan Sunan ad-Darimi, dalam konstruksi kanon hadis masih menjadi pembahasan, sehingga penelitian ini berupaya menganalisis kontribusi ketiganya dalam memperkaya ilmu hadis. Tujuan utama dari penelitian ini adalah untuk mengetahui bagaimana Musnad Ahmad, Muwattha' Imam Malik, dan Sunan ad-Darimiberperan dalam konstruksi Kutubut-Tis‘ah serta sejauh mana kedudukan ketiga kitab tersebut dalam standar literatur hadis. Penelitian ini menggunakan jenis penelitian kualitatif deskriptif, dengan menerapkan studi literatur dan metode analisis isi untuk mengumpulkan dan menganalisis data. Hasil kajian menunjukkan bahwa ketiga kitab ini memiliki kontribusi signifikan; Musnad Ahmad (berisi 40.000 hadis) sangat penting dalam kritik sanad meskipun mengandung hadis sahih, daif ringan, hingga maudu'. Muwattha' Imam Malik (disusun berdasarkan bab fikih) sangat kanonik dalam Mazhab Maliki dan dipuji karena kesahihan hadisnya, meskipun mencampur hadis marfu', mauquf, dan maqtu'. Sementara itu, Sunan ad-Darimi (memuat 3.498 hadis tematik) dinilai oleh beberapa ulama lebih layak menggantikan Sunan Ibnu Majah karena kualitas sanad dan hadis sahihnya yang lebih banyak. Oleh karena itu, meskipun ketiga kitab ini merupakan rujukan penting dalam penilaian sanad, fikih, dan ilmu hadis lainnya, mereka tidak terkanonisasi secara utuh sebagai standar pendidikan formal global seperti Kutubus-Sittah, melainkan lebih tepat dikategorikan sebagai kitab semi-kanonik atau pelengkap normatif dalam pengembangan ilmu hadis.
Living Hadis di Era Digital: Konsistensi Keberagamaan dan Adaptasi Media dalam Praktik Tradisi Kenabian Jama'ah Tabligh Ahmad Al Haitami; Hakami Mundziri Sastra
Journal of Hadith Studies Vol. 8 No. 2 (2025): Journal of Hadith Studies
Publisher : ASILHA (Asosiasi Ilmu Hadis Indonesia)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.32506/johs.v8i2-05

Abstract

This study examines the practice of living hadith within the Jamaah Tabligh (JT) movement, positioning it as a religious actor undergoing transformation in the digital sphere, particularly through the platform YouTube. Theoretically, the study is grounded in the question of how hadith, traditionally embodied through oral transmission, face-to-face interaction, and collective spiritual formation, is re-mediated within the ecosystem of digital media. It aims to analyze patterns of hadith representation, shifts in the structure of religious authority, and the theological as well as social implications of the digitalization of JT’s da‘wah activities. This research employs a qualitative approach, combining digital ethnography with content analysis. Data were collected through online observation of sermon videos on the “Jamaah Tablig Dunia” channel, along with analysis of audience interactions in the comment sections as sites for negotiating meaning and legitimizing authority. The findings indicate that JT’s presence on YouTube does not merely relocate conventional preaching into a new medium; rather, it reconfigures the modes through which hadith is presented and authorized. Hadith continues to function as a form of practical pedagogy internalized through collective discipline rather than as an object of textual-critical inquiry. Nevertheless, digital mediation shifts the basis of authority from embodied relationships to forms grounded in visuality, channel legitimacy, and platform algorithmic logic. This adaptation preserves theological substance while generating new dynamics between tradition and digital media rationality in contemporary Islamic practice.
KUTUBUT-TIS'AH: KANONISASI 3 KITAB HADIS (MUSNAD AHMAD, MUWATTHA' MALIK, MUSNAD AD-DARIMI) SEBAGAI PELENGKAP KUTUBUS-SITTAH Muhammad Muqla Syauqy Tamam; Qhoirin Anisa; Maghfiroh Maghfiroh; Hakami Mundziri Sastra
EDU-RILIGIA: Jurnal Ilmu Pendidikan Islam dan Keagamaan Vol 9, No 4 (2025): Oktober-Desember
Publisher : Pascasarjana Universitas Islam Negeri Sumatera Utara Medan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.47006/er.v9i4.27500

Abstract

Seiring berkembangnya keilmuan Islam, Kutubut-Tis'ah (sembilan kitab hadis utama) telah menjadi literatur standar dalam tradisi Sunni, di mana enam kitab pertama (Kutubus-Sittah) diakui secara luas sebagai rujukan primer. Namun, posisi dan peran tiga kitab tambahan, yaitu Musnad Ahmad, Muwattha' Imam Malik, dan Sunan ad-Darimi, dalam konstruksi kanon hadis masih menjadi pembahasan, sehingga penelitian ini berupaya menganalisis kontribusi ketiganya dalam memperkaya ilmu hadis. Tujuan utama dari penelitian ini adalah untuk mengetahui bagaimana Musnad Ahmad, Muwattha' Imam Malik, dan Sunan ad-Darimiberperan dalam konstruksi Kutubut-Tis‘ah serta sejauh mana kedudukan ketiga kitab tersebut dalam standar literatur hadis. Penelitian ini menggunakan jenis penelitian kualitatif deskriptif, dengan menerapkan studi literatur dan metode analisis isi untuk mengumpulkan dan menganalisis data. Hasil kajian menunjukkan bahwa ketiga kitab ini memiliki kontribusi signifikan; Musnad Ahmad (berisi 40.000 hadis) sangat penting dalam kritik sanad meskipun mengandung hadis sahih, daif ringan, hingga maudu'. Muwattha' Imam Malik (disusun berdasarkan bab fikih) sangat kanonik dalam Mazhab Maliki dan dipuji karena kesahihan hadisnya, meskipun mencampur hadis marfu', mauquf, dan maqtu'. Sementara itu, Sunan ad-Darimi (memuat 3.498 hadis tematik) dinilai oleh beberapa ulama lebih layak menggantikan Sunan Ibnu Majah karena kualitas sanad dan hadis sahihnya yang lebih banyak. Oleh karena itu, meskipun ketiga kitab ini merupakan rujukan penting dalam penilaian sanad, fikih, dan ilmu hadis lainnya, mereka tidak terkanonisasi secara utuh sebagai standar pendidikan formal global seperti Kutubus-Sittah, melainkan lebih tepat dikategorikan sebagai kitab semi-kanonik atau pelengkap normatif dalam pengembangan ilmu hadis.