Claim Missing Document
Check
Articles

Found 2 Documents
Search

Persepsi Permeabilitas Kota Singaraja Menurut Generasi Milenial Prita Ayuningtyas; Nyoman Susanta; Ni Made Yudantini
Jurnal Arsitektur ARCADE Vol 9 No 3 (2025): Jurnal Arsitektur ARCADE September 2025
Publisher : Prodi Arsitektur UNIVERSITAS KEBANGSAAN

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.31848/arcade.v9i3.4229

Abstract

Abstract: Singaraja City, the capital of Buleleng Regency, plays a strategic role in the historical and spatial development of North Bali. However, the city is currently facing challenges related to accessibility and spatial connectivity, particularly in areas with aging road networks and suboptimal pedestrian infrastructure. These issues reflect a low level of urban permeability, defined as the degree to which urban spaces allow free movement and functional connectivity. This study aims to explore the perceptions of the Millennial Generation toward the level of permeability in Singaraja City, focusing specifically on the Udayana Street corridor, which functions as a hub for education and daily urban mobility. Using a qualitative approach that combines field observation, in-depth interviews, and mental mapping, the study investigates accessibility quality, mobility constraints, and spatial connectivity as experienced by young adults (born 1994–2000). The findings reveal that Millennials are highly aware of the physical conditions of urban spaces, such as the lack of continuous pedestrian paths, poor street lighting, and spatial disconnection across neighborhoods. Although Udayana Street holds a strategic urban function, it is not yet fully supportive of active mobility. This study contributes to the theoretical understanding of urban permeability in medium-sized cities and provides valuable input for urban planners and policymakers to develop inclusive, youth-responsive, and sustainable mobility strategies. Keywords: Urban Permeability, Milennial Generation, Singaraja City Abstrak: Kota Singaraja sebagai ibu kota Kabupaten Buleleng memiliki peran strategis dalam sejarah dan dinamika pembangunan wilayah Bali Utara. Namun, perkembangan kota ini menghadapi tantangan dalam hal aksesibilitas dan keterhubungan ruang, terutama di kawasan dengan jaringan jalan lama dan infrastruktur pejalan kaki yang belum optimal. Permasalahan ini mencerminkan rendahnya tingkat permeabilitas kota, yaitu sejauh mana ruang kota memungkinkan pergerakan bebas dan konektivitas antarfungsi ruang. Penelitian ini bertujuan untuk mengkaji persepsi Generasi Milenial terhadap tingkat permeabilitas Kota Singaraja, khususnya di koridor Jalan Udayana yang menjadi pusat aktivitas pendidikan dan mobilitas harian. Dengan menggunakan pendekatan kualitatif melalui observasi, wawancara mendalam, dan peta mental, penelitian ini menganalisis kualitas aksesibilitas, hambatan mobilitas, dan keterhubungan antar ruang berdasarkan pengalaman generasi muda usia produktif (lahir 1994–2000). Hasil penelitian menunjukkan bahwa Generasi Milenial memiliki kepekaan terhadap kondisi fisik ruang kota, seperti keterbatasan jalur pejalan kaki, kurangnya penerangan jalan, hingga kesenjangan konektivitas antar kawasan. Kawasan Jalan Udayana dinilai memiliki fungsi strategis, namun belum sepenuhnya ramah terhadap mobilitas aktif. Penelitian ini memberikan kontribusi terhadap pemahaman konsep permeabilitas kota dalam konteks kota sedang, serta menjadi masukan penting bagi perencana kota dan pemangku kebijakan dalam merumuskan kebijakan ruang yang inklusif, responsif terhadap kebutuhan generasi muda, dan mendukung mobilitas berkelanjutan. Kata Kunci: Permeabilitas kota, Generasi Milenial, Kota Singaraja Keywords: Urban Permeability, Milennial Generation, Singaraja City
KAJIAN KARAKTERISTIK PEMBENTUK KENYAMANAN TERMAL PADA PASAR RAKYAT GIANYAR Ida Bagus Trena Windu; Made Yudantini; Nyoman Susanta
Jurnal Arsitektur ARCADE Vol 9 No 4 (2025): Jurnal Arsitektur ARCADE Desember 2025
Publisher : Prodi Arsitektur UNIVERSITAS KEBANGSAAN

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.31848/arcade.v9i4.4405

Abstract

Abstract: Traditional markets are public facilities that play an important role in supporting daily economic and social activities; therefore, thermal comfort within market buildings is an essential aspect that requires attention. In tropical humid regions such as Indonesia, high air temperature and relative humidity often lead to thermal discomfort in market buildings. This study aims to analyze the thermal comfort conditions of the Gianyar Traditional Market building and to evaluate its compliance with ASHRAE Standard 55-2017 and SNI 03-6572-2001. The research employed a quantitative method with a descriptive approach. Primary data were obtained through direct field measurements of thermal environmental parameters, including air temperature, relative humidity, air velocity, and mean radiant temperature, as well as questionnaires distributed to traders and visitors to assess thermal comfort perception. Thermal comfort analysis was conducted using the PMV Calculator V2 Modified to determine the Predicted Mean Vote (PMV) and Predicted Percentage of Dissatisfied (PPD) values. The results indicate that all floors of the Gianyar Traditional Market building fall within the neutral to slightly warm category and generally meet the comfort range specified by ASHRAE standards. User perception analysis shows that most traders and visitors feel comfortable performing their activities inside the market building. However, relative humidity levels on all floors exceed the recommended standard limits. Therefore, improvements in thermal comfort are required, particularly through humidity control strategies, such as the application of dehumidifiers and appropriate passive cooling systems that align with the characteristics of traditional market buildings. Keyword: thermal comfort, traditional market, PMV, ASHRAE 55, SNI 03-6572-2001. Abstrak: Pasar rakyat merupakan fasilitas publik yang memiliki peran penting dalam menunjang aktivitas ekonomi dan sosial masyarakat, sehingga kenyamanan termal di dalamnya perlu mendapat perhatian. Pada wilayah beriklim tropis lembap seperti Indonesia, suhu dan kelembapan udara yang tinggi sering menimbulkan ketidaknyamanan termal pada bangunan pasar. Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis tingkat kenyamanan termal Gedung Pasar Rakyat Gianyar serta mengevaluasi kesesuaiannya terhadap standar ASHRAE Standard 55-2017 dan SNI 03-6572-2001. Metode yang digunakan adalah penelitian kuantitatif dengan pendekatan deskriptif. Data primer diperoleh melalui pengukuran langsung parameter lingkungan termal yang meliputi suhu udara, kelembapan udara, kecepatan angin, dan temperatur radiasi, serta melalui kuesioner persepsi kenyamanan termal kepada pedagang dan pengunjung. Analisis kenyamanan termal dilakukan menggunakan PMV Calculator V2 Modified untuk memperoleh nilai Predicted Mean Vote (PMV) dan Predicted Percentage of Dissatisfied (PPD). Hasil penelitian menunjukkan bahwa seluruh lantai Gedung Pasar Rakyat Gianyar berada pada kategori neutral hingga slightly warm dan secara umum masih termasuk dalam rentang kenyamanan menurut standar ASHRAE. Persepsi pengguna menunjukkan bahwa mayoritas pedagang dan pengunjung merasa nyaman beraktivitas di dalam gedung pasar. Namun demikian, parameter kelembapan udara pada seluruh lantai masih berada di atas batas standar yang ditetapkan. Oleh karena itu, diperlukan upaya peningkatan kenyamanan termal melalui pengendalian kelembapan udara, antara lain dengan penggunaan dehumidifier dan sistem pendinginan pasif yang sesuai dengan karakteristik bangunan pasar rakyat. Kata Kunci: kenyamanan termal, pasar rakyat, PMV, ASHRAE 55, SNI 03-6572-2001.