Claim Missing Document
Check
Articles

Found 2 Documents
Search

Distribusi Faktor Risiko Kejadian Abortus Pada Ibu Hamil di RS YARSI Tahun 2023 Wiwik Anggraini; Ahmad Arif; Selly Septina
Junior Medical Journal Vol. 3 No. 6 (2025): Desember 2025
Publisher : Fakultas Kedokteran Universitas YARSI

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.33476/jmj.v3i6.4970

Abstract

Abortus merupakan salah satu masalah kesehatan global yang signifikan, dengan 20 juta kasus terjadi setiap tahun, menyebabkan sekitar 70.000 kematian ibu. Data Survei Demografi dan Kesehatan Indonesia (SDKI) menunjukkan bahwa angka kematian ibu (AKI) Indonesia pada tahun 2017 mencapai 177 kematian per 100.000 kelahiran hidup, meskipun ada penurunan dibandingkan tahun-tahun sebelumnya. Faktor yang mempengaruhi terjadinya abortus, seperti kelainan kromosom pada janin, usia ibu, riwayat abortus sebelumnya, infeksi, serta penyakit kronis pada ibu. Penelitian ini bertujuan untuk mengeksplorasi faktor risiko yang mempengaruhi kejadian abortus pada ibu hamil di Rumah Sakit Yarsi pada tahun 2023, guna membantu pencegahan dan penanganan abortus serta menurunkan angka kematian ibu di Indonesia. jenis penelitian adalah observasi analitik dengan desain pendekatan cross sectional, subjek penelitian adalah ibu hamil dengan sampel 105 orang dari total populasi 1847 orang. Teknik pengambilan sampel teknik purposive sampling. Pengumpulan data dengan pengecekan dokumen berupa rekam medik. Analisis data dilakukan 3 tahap, analisis univariat, bivariate dan multivariate. Hasil penelitian didapatkan 69 orang (65,7%) yang mengalami abortus, umur yang berisiko 60 orang (57,1%), dan 60 orang (57,1%) dengan multipara, serta 56 orang (53,3 %) yang memiliki riwayat abortus. Analisis bivariat menunjukkan terdapat hubungan antar semua variabel baik umur, paritas dan riwayat abortus dengan kejadian abortus. Analisis multivariat menunjukan variabel usia adalah faktor yang paling dominan terhadap kejadian abortus yaitu sebesar 8,500. KEYWORDS: Umur Ibu, Paritas, Riwayat Abortus, Kejadian abortus.
Antepartum Haemorrhage Due to Total Placenta Praevia in a G2P1A0 34-35 Weeks Gestation Ariq Reynaldi; Ulul Albab; Damarizqa Dara Sjahruddin; Selly Septina
Indonesian Journal of Multidisciplinary on Social and Technology Vol. 4 No. 3 (2026): Juli - Oktober
Publisher : PT Ilmu Data Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.69693/ijmst.v4i3.13819

Abstract

Plasenta previa merupakan kelainan implantasi plasenta yang terletak di dekat atau menutupi ostium servikalis interna dan menjadi salah satu penyebab penting perdarahan antepartum serta persalinan prematur. Plasenta previa totalis merupakan bentuk plasenta previa yang menutupi seluruh ostium servikalis interna dan berpotensi menyebabkan komplikasi serius bagi ibu maupun janin. Diagnosis dini dan penatalaksanaan yang tepat diperlukan untuk mencegah peningkatan morbiditas dan mortalitas maternal serta neonatal. Laporan Kasus: Seorang wanita berusia 18 tahun dengan status obstetri G2P1A0 datang ke rumah sakit dengan keluhan perdarahan pervaginam berupa darah segar tanpa disertai nyeri. Berdasarkan hasil anamnesis, pemeriksaan fisik, pemeriksaan laboratorium, dan ultrasonografi, pasien didiagnosis mengalami kehamilan 34–35 minggu dengan plasenta previa totalis disertai anemia hipokrom mikrositik. Penatalaksanaan awal dilakukan melalui stabilisasi kondisi hemodinamik dan pemantauan kondisi ibu serta janin. Pasien mendapatkan transfusi darah, kortikosteroid untuk pematangan paru janin, serta tokolitik. Mengingat adanya perdarahan pada kehamilan dengan plasenta previa totalis, dilakukan terminasi kehamilan melalui operasi Sectio Caesarea secara emergensi. Persalinan menghasilkan bayi laki-laki dengan kondisi baik. Perdarahan yang terjadi selama tindakan operatif dapat ditangani dengan baik dan kondisi maternal selanjutnya dipantau selama masa perawatan. Kesimpulan: Kasus ini menunjukkan bahwa plasenta previa totalis dengan perdarahan antepartum membutuhkan diagnosis yang cepat, pemantauan kondisi maternal dan fetal secara menyeluruh, serta penatalaksanaan komprehensif. Stabilisasi hemodinamik, persiapan transfusi, pemberian kortikosteroid pada kehamilan preterm, dan terminasi melalui Sectio Caesarea merupakan bagian penting dalam penanganan untuk mencapai luaran maternal dan neonatal yang baik.