Claim Missing Document
Check
Articles

Found 3 Documents
Search

Prinsip Etis, Logis, dan Estetis dalam Proses Penciptaan Tari Kreasi Baru Sangita Praja Wisnu Dermawan; Y. Adityanto Aji; Otok Fitrianto
Journal of Mandalika Social Science Vol 3 No 2 (2025): Journal of Mandalika Social Science
Publisher : Mandalika Institute

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.59613/jomss.v3i2.487

Abstract

Dance creation is an artistic practice that extends beyond aesthetic achievement by incorporating ethical and logical considerations into every creative decision. However, studies integrating these three dimensions within a unified conceptual framework remain limited, particularly in the context of Indonesian dance creation. This study aims to examine the application of ethical, logical, and aesthetic principles in the creative process of the dance work Sangita Praja and to formulate a conceptual model explaining the relationships among these principles. A qualitative approach employing narrative inquiry was adopted. Data were collected through in-depth interviews, participant observation, documentation of the creative process, and the choreographer's reflective notes. The data were analyzed using thematic analysis by integrating participants' narratives with interpretations grounded in choreography theory and practice-based artistic research. The findings reveal that the creation of Sangita Praja evolved through a dynamic interaction among ethical, logical, and aesthetic principles that continuously influenced one another throughout the creative process. Ethical principles guided value orientation and artistic responsibility, logical principles structured the choreography coherently, while aesthetic principles shaped expressive quality and artistic experience. Based on these findings, this study proposes the Ethical–Logical–Aesthetic Choreographic Framework (ELA Framework) as a conceptual model that explains the integration of these three principles within choreographic practice. The proposed framework contributes to the development of Practice-Based Research and choreography studies by positioning dance creation as a reflective practice that simultaneously produces artistic works and scholarly knowledge.
Penguatan Kapasitas Kreatif Komunitas Seni Melalui Workshop Penciptaan Tari Kreasi Baru Berbasis Tari Kerakyatan di Yogyakarta Wisnu Dermawan; Yosef Adityanto Aji; Agustinus Welly Hendratmoko
Jurnal Pengabdian Kepada Masyarakat Vol. 6 No. 1 (2026): Volume 6 Nomor 1 Tahun 2026
Publisher : Actual Insight

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.56393/jpkm.v6i1.3855

Abstract

Kegiatan Pengabdian Kepada Masyarakat ini dilaksanakan dalam bentuk workshop penciptaan tari kreasi baru berbasis tari kerakyatan yang bertujuan untuk memperkuat kapasitas kreatif komunitas seni dalam mengembangkan karya tari yang berakar dari nilai-nilai estetik tradisi lokal. Kegiatan ini melibatkan 80 peserta yang terdiri atas pelajar, mahasiswa, anggota komunitas seni, dan masyarakat umum yang memiliki minat terhadap seni tari. Workshop dilaksanakan di Pendopo Agung Royal Ambarrukmo, Yogyakarta, pada tanggal 4-5 November 2025. Metode pelaksanaan meliputi pemaparan materi, diskusi, dan pelatihan terbimbing dengan pendampingan narasumber yang berpengalaman di bidang tari tradisi dan koreografi. Materi workshop difokuskan pada pengenalan tari kerakyatan, metode penciptaan tari, serta penerapannya dalam proses eksplorasi, improvisasi, dan pembentukan tari kreasi baru. Penilaian dilakukan dengan mengamati dan mengevaluasi karya tari yang dipresentasikan peserta pada sesi akhir kegiatan. Hasil kegiatan menunjukkan peningkatan pemahaman, keterampilan, dan kreativitas peserta dalam mengolah tari kerakyatan menjadi karya tari kreasi baru. Luaran utama kegiatan ini berupa karya tari kreasi baru yang mendukung pelestarian budaya dan penguatan ekosistem seni pertunjukan di Yogyakarta.  
The Symbolic Meaning of Beksan Manunggal Jati Akademi Komunitas Negeri Seni dan Budaya Yogyakarta Yosef Aji Adityanto; Wisnu Dermawan
Dance and Theatre Review Vol 8, No 2: November 2025
Publisher : Institut Seni Indonesia Yogyakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24821/dtr.v8i2.17576

Abstract

AbstractBeksan Manunggal Jati diambil dari ide dan gagasan menyatunya Kasultanan Yogyakarta dan Pura Pakualaman Yogyakarta. Dalam tari klasik gaya Yogyakarta terdapat beberapa macam bentuk sajian pertunjukan tari yang berbeda.Beksan Manunggal Jati ini merupakan jenis tari kelompok yang ditarikan oleh tujuh orang penari putera dengan konsep bedhayan menjadi pijakan dalam karya tari ini. Menyatunya Kasultanan Yogyakarta dan Pura Pakualaman dalam DIY mencerminkan semangat persatuan dan nasionalisme kedua kerajaan tradisional ini dalam mendukung berdirinya Indonesia sebagai negara merdeka. Secara kontekstual, aspek-aspek koreografis yang terdapat pada sajian beksanManunggal Jati ini memuat makna, nilai simbolik, dan filosofis tentang spiritual dan ajaran luhur kehidupan yang terkandung dalam lambang Akademi Komunitas Negeri Seni dan Budaya Yogyakarta. Beksan ini mengadaptasi beberapa esensi konsep bedhaya gaya Yogyakarta serta memunculkan idiom-idiom gerak baru dalam penyajiannya. Ciri kontekstual tari bedhaya terdapat pada makna yang terkandung didalam gerak tari, pola lantai, busana, tembang atau sekar yang terdapat pada iringan juga sebagai sarana penyampaian narasi cerita dalam bedhaya.