Claim Missing Document
Check
Articles

Found 2 Documents
Search

Representasi konten bertema LGBT pada platform game online Roblox: analisis perspektif komunikasi Islam Ahmad Sultoni Matondang; Mohd. Rafiq; Pahri Siregar
Sinergi : Jurnal Ilmiah Multidisiplin Vol. 2 No. 7 (2026): Sinergi: Jurnal Ilmiah Multidisiplin
Publisher : PT. AHLAL PUBLISHER NUSANTARA

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.66914/ygjf0957

Abstract

Perkembangan platform game online telah mengubah fungsi permainan digital menjadi ruang komunikasi sosial yang memungkinkan pengguna membangun identitas, berinteraksi, serta memproduksi berbagai bentuk konten. Salah satu fenomena yang berkembang adalah munculnya representasi konten bertema LGBT pada platform Roblox. Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis bentuk representasi konten bertema LGBT, pola interaksi digital pengguna terhadap konten tersebut, serta menganalisisnya berdasarkan perspektif komunikasi Islam. Penelitian menggunakan pendekatan kualitatif dengan metode Qualitative Content Analysis (QCA). Data diperoleh melalui observasi nonpartisipan terhadap konten publik di Roblox, dokumentasi berupa tangkapan layar avatar, percakapan publik, deskripsi permainan, simbol visual, dan ruang komunitas virtual, serta studi pustaka yang relevan. Analisis data dilakukan menggunakan model Miles, Huberman, dan Saldaña melalui tahapan reduksi data, penyajian data, serta penarikan kesimpulan. Hasil penelitian menunjukkan bahwa representasi konten bertema LGBT pada Roblox diwujudkan melalui avatar, simbol visual, narasi permainan, dan komunitas virtual yang membentuk konstruksi identitas digital. Pola interaksi pengguna berlangsung melalui komunikasi verbal, komunikasi nonverbal berbasis avatar dan simbol, interaksi komunitas, serta partisipasi aktif dalam produksi konten digital. Dari perspektif komunikasi Islam, representasi dan interaksi tersebut perlu dipahami berdasarkan prinsip qaulan sadidan, qaulan ma'rufan, qaulan layyinan, qaulan balighan, qaulan kariman, dan qaulan maysuran yang menekankan nilai kebenaran, kesantunan, tanggung jawab, dan penghormatan terhadap sesama dalam komunikasi digital. Penelitian ini menegaskan bahwa literasi digital berbasis nilai-nilai komunikasi Islam memiliki peran penting dalam membangun ruang komunikasi virtual yang etis dan bertanggung jawab.
YOUTUBE DAN TRANSFORMASI SOSIAL DIGITAL DI INDONESIA: ANALISIS LINTAS SEKTOR PENDIDIKAN, SOSIAL, POLITIK, DAN EKONOMI Eva Riyanty Lubis; Lola Sapriani Hasibuan; Ahmad Sultoni Matondang; Rosmayani Rambe; Sholeh Fikri
AT-TAWASUL Vol 5 No 1 (2026): AT TAWASUL
Publisher : Program Studi Komunikasi dan Penyiaran Islam

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.51192/ja.v5i1.2407

Abstract

YouTube has evolved into a digital platform that influences various sectors of social life. However, academic studies in Indonesia still tend to examine its impacts in a fragmented and sector-specific manner. This study aims to synthesize previous research findings in order to understand YouTube’s cross-sectoral role in education, social life, politics, and the economy in Indonesia. This research employs a qualitative approach using an integrative literature review method, drawing on accredited national journal articles and reputable international journals published between 2018 and 2025. The findings indicate that YouTube functions as a digital social infrastructure that expands access to learning, facilitates identity expression and alternative public spheres, shapes attention-driven political communication, and supports the growth of a content-based creative economy. Nevertheless, the literature also highlights structural risks, including gaps in digital literacy, social polarization, political disinformation, and inequality among content creators, all of which are interconnected through algorithmic mechanisms and the attention economy. This study contributes conceptually by proposing a cross-sectoral analytical framework that links algorithms, attention, and monetization as the central mechanisms of YouTube-driven digital social transformation, while also offering implications for strengthening digital literacy and media policy in Indonesia.