Claim Missing Document
Check
Articles

Found 6 Documents
Search

ANALYSIS OF DA'WAH AND THE REPRESENTATION OF WOMEN'S SPIRITUALITY IN @Aniqqalfaqiroh's DA'WAH CONTENT Safariyarti Saragih; Pahri Siregar; Mohd. Rafiq
Journal Analytica Islamica Vol 15, No 3 (2026): ANALYTICA ISLAMICA
Publisher : Program Pascasarjana UIN Sumatera Utara

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.30829/jai.v15i3.29665

Abstract

This research is motivated by the increase in digital da'wah which highlights women's spirituality emotionally and reflectively. The @aniqqalfaqiroh account has become the focus because it consistently discusses motherhood, marriage wounds, and women's inner recovery. This research formulates three main questions: how is the rhetoric of da'wah used, how is the representation of women's spirituality constructed, and what forms of da'wah are displayed in digital content. This research aims to analyze the da'wah rhetoric used in conveying messages about women's spirituality, examine the representation of women's spirituality in content, and identify forms of da'wah that are raised on the themes of motherhood and marriage wounds. Theoretically, this research uses Aristotle's rhetorical theory (ethos, pathos, logos), Stuart Hall's theory of representation, and the concept of women's spirituality in Islam as a basis for analysis. The research methodology used is a descriptive qualitative approach with narrative analysis methods. Data was obtained through in-depth observation of video content and Instagram uploads, content analysis, and interviews with relevant informants. The analysis technique is carried out by categorizing rhetorical elements, forms of preaching, and the construction of spirituality representations that appear in digital narratives. The research results show that @aniqqalfaqiroh's preaching rhetoric combines ethos, for example, seen in the credibility of sharing spiritual experiences and household reflections, fostering trust in the audience, pathos, for example from gentle language, empathy, touching feelings to form a space for women to recover, and logos, for example, seen in the invitation to understand life's trials as a destiny to get closer to Allah and spiritual strengthening for women. Women's spirituality is represented as an active subject interpreting life's trials through the role of mother, parenting knowledge, and inner healing. The forms of da'wah on the @aniqqalfaqiroh account can be seen through the application of da'wah bil hal, bil verbal, and bil qalam. For example, bil hal da'wah can be seen from Muslim women through Sharia clothing styles that reflect the values of faith, verbal bil for example through advice in content videos and Muslimah seminar classes, and bil Qalam for example through the books Spiritual Motherhood and Embracing Disappointment as a spiritual reflection
Peran Komunikasi Islam dalam Mencegah Ujaran Kebencian Berbasis Agama di Media Sosial Noravita Lubis; Mohd. Rafiq
Abdi Cendekia : Jurnal Pengabdian Masyarakat Vol 5 No 2 (2026): Juni
Publisher : Yayasan Zia Salsabila

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.61253/abdicendekia.v5i2.924

Abstract

Ujaran kebencian berbasis agama di media sosial menjadi persoalan penting dalam masyarakat digital karena dapat memperkuat prasangka, memicu polarisasi, dan merusak hubungan antarumat beragama. Penelitian ini bertujuan menganalisis peran komunikasi Islam dalam mencegah ujaran kebencian berbasis agama di media sosial. Penelitian ini menggunakan pendekatan kualitatif dengan metode penelitian kepustakaan. Sumber data diperoleh dari jurnal nasional terindeks minimal SINTA 3 dan jurnal internasional bereputasi yang terbit dalam rentang 2021 sampai 2026. Data dianalisis menggunakan analisis isi tematik dengan menelaah konsep komunikasi Islam, ujaran kebencian digital, dakwah media sosial, literasi digital, dan etika komunikasi. Hasil penelitian menunjukkan bahwa komunikasi Islam memiliki peran etis, preventif, edukatif, dan korektif. Prinsip qaulan sadidan, qaulan ma‘rufan, qaulan layyinan, tabayyun, hifz al-lisan, dan ukhuwah dapat digunakan sebagai dasar pembentukan perilaku komunikasi digital yang jujur, santun, hati-hati, dan bertanggung jawab. Penelitian ini juga menemukan bahwa pencegahan ujaran kebencian berbasis agama tidak cukup dilakukan melalui deteksi otomatis dan moderasi konten. Pencegahan perlu diperkuat melalui etika komunikasi Islam yang dapat diterapkan pada tahap menerima informasi, memahami konteks, menulis respons, membagikan pesan, dan mengoreksi konflik digital. Penelitian ini menegaskan bahwa komunikasi Islam dapat dikembangkan sebagai model etika digital yang relevan melalui verifikasi informasi, pengendalian bahasa, penguatan literasi digital, penyusunan kontra narasi damai, dan peningkatan tanggung jawab sosial pengguna media sosial.kontra narasi damai, serta peningkatan tanggung jawab sosial pengguna media sosial.
Strategi Komunikasi Da’i Muda Generasi Z dalam Aktivitas Dakwah di Rantauprapat Sumatera Utara Syaiful Iman Zuhri; Mohd. Rafiq
Abdi Cendekia : Jurnal Pengabdian Masyarakat Vol 5 No 2 (2026): Juni
Publisher : Yayasan Zia Salsabila

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.61253/abdicendekia.v5i2.940

Abstract

Penelitian ini menganalisis strategi komunikasi da’i muda Generasi Z dalam aktivitas dakwah di Rantauprapat. Fokus penelitian tidak hanya diarahkan pada penggunaan media digital, tetapi juga pada cara da’i muda merumuskan pesan, memilih gaya komunikasi, membangun kedekatan dengan mad’u, mengintegrasikan dakwah luring dan daring, serta menjaga kredibilitas religius. Penelitian ini menggunakan pendekatan kualitatif deskriptif. Data dikumpulkan melalui wawancara, observasi, dan dokumentasi terhadap empat da’i muda di Rantauprapat. Hasil penelitian menunjukkan bahwa strategi komunikasi da’i muda Gen Z terbentuk melalui lima dimensi yang saling berkaitan, yaitu mengenali karakter mad’u, menyederhanakan pesan agama tanpa melemahkan substansi, menggunakan gaya santai, humoris, reflektif, akademis, dan komunikatif, memadukan media sosial dengan dakwah tatap muka, serta menjaga kredibilitas melalui adab, akhlak, keilmuan, keikhlasan, dan konsistensi perilaku. Strategi dakwah tersebut berakar pada prinsip komunikasi Islam seperti qaulan sadidan, qaulan baligha, qaulan layyinan, qaulan ma’rufa, dan qaulan maysura, serta metode dakwah bil hikmah, mau’izah hasanah, bil lisan, bil hal, dan bil qalam. Media sosial memperluas visibilitas dan akses dakwah, tetapi juga menuntut kontrol etis agar aktivitas dakwah tidak bergeser menjadi sekadar pencitraan diri. Penelitian ini menyimpulkan bahwa strategi komunikasi da’i muda Gen Z di Rantauprapat bersifat adaptif, dialogis, dan hibrid karena memadukan nilai Islam, legitimasi sosial lokal, budaya anak muda, dan budaya digital.
Komunikasi Profetik sebagai Paradigma Sistem Komunikasi Islam Kontemporer: Integritas Nilai Kenabian dalam Komunikasi Digital Ahmad Zein Daulay; Mohd. Rafiq
Abdi Cendekia : Jurnal Pengabdian Masyarakat Vol 5 No 3 (2026): September
Publisher : Yayasan Zia Salsabila

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.61253/abdicendekia.v5i3.968

Abstract

Perkembangan teknologi digital telah menciptakan transformasi besar dalam sistem komunikasi masyarakat yang menghadirkan berbagai tantangan etis, sosial, dan spiritual bagi praktik komunikasi Islam kontemporer. Penelitian ini menggunakan pendekatan kualitatif dengan jenis penelitian kepustakaan (library research) untuk mengkaji komunikasi profetik sebagai paradigma sistem komunikasi Islam di era digital. Data penelitian diperoleh dari berbagai sumber pustaka berupa buku, artikel jurnal ilmiah, dan dokumen akademik yang relevan, kemudian dianalisis menggunakan teknik content analysis melalui proses reduksi, interpretasi, dan sintesis data. Hasil penelitian menunjukkan bahwa komunikasi profetik memiliki landasan konseptual yang dibangun atas tiga pilar utama, yaitu humanisasi, liberasi, dan transendensi sebagai fondasi sistem komunikasi Islam kontemporer. Penelitian ini juga menemukan bahwa integrasi nilai-nilai profetik dengan sifat kenabian berupa ṣiddīq, amanah, tablīgh, dan faṭānah mampu membentuk model komunikasi digital yang etis, humanis, dan transformatif. Selain itu, komunikasi profetik terbukti relevan dalam menjawab berbagai persoalan komunikasi digital seperti disinformasi, ujaran kebencian, polarisasi sosial, dan komodifikasi agama di ruang digital. Analisis penelitian menunjukkan bahwa komunikasi profetik tidak hanya berfungsi sebagai kerangka etika komunikasi, tetapi juga sebagai paradigma sistem komunikasi Islam yang mampu mengintegrasikan dimensi moral, sosial, dan spiritual dalam praktik komunikasi modern. Temuan ini menegaskan pentingnya revitalisasi nilai-nilai kenabian dalam membangun ekosistem komunikasi digital yang berkeadaban. Dengan demikian, komunikasi profetik dapat diposisikan sebagai paradigma sistem komunikasi Islam kontemporer yang relevan, adaptif, dan aplikatif dalam menghadapi tantangan era digital.
Representasi konten bertema LGBT pada platform game online Roblox: analisis perspektif komunikasi Islam Ahmad Sultoni Matondang; Mohd. Rafiq; Pahri Siregar
Sinergi : Jurnal Ilmiah Multidisiplin Vol. 2 No. 7 (2026): Sinergi: Jurnal Ilmiah Multidisiplin
Publisher : PT. AHLAL PUBLISHER NUSANTARA

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.66914/ygjf0957

Abstract

Perkembangan platform game online telah mengubah fungsi permainan digital menjadi ruang komunikasi sosial yang memungkinkan pengguna membangun identitas, berinteraksi, serta memproduksi berbagai bentuk konten. Salah satu fenomena yang berkembang adalah munculnya representasi konten bertema LGBT pada platform Roblox. Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis bentuk representasi konten bertema LGBT, pola interaksi digital pengguna terhadap konten tersebut, serta menganalisisnya berdasarkan perspektif komunikasi Islam. Penelitian menggunakan pendekatan kualitatif dengan metode Qualitative Content Analysis (QCA). Data diperoleh melalui observasi nonpartisipan terhadap konten publik di Roblox, dokumentasi berupa tangkapan layar avatar, percakapan publik, deskripsi permainan, simbol visual, dan ruang komunitas virtual, serta studi pustaka yang relevan. Analisis data dilakukan menggunakan model Miles, Huberman, dan Saldaña melalui tahapan reduksi data, penyajian data, serta penarikan kesimpulan. Hasil penelitian menunjukkan bahwa representasi konten bertema LGBT pada Roblox diwujudkan melalui avatar, simbol visual, narasi permainan, dan komunitas virtual yang membentuk konstruksi identitas digital. Pola interaksi pengguna berlangsung melalui komunikasi verbal, komunikasi nonverbal berbasis avatar dan simbol, interaksi komunitas, serta partisipasi aktif dalam produksi konten digital. Dari perspektif komunikasi Islam, representasi dan interaksi tersebut perlu dipahami berdasarkan prinsip qaulan sadidan, qaulan ma'rufan, qaulan layyinan, qaulan balighan, qaulan kariman, dan qaulan maysuran yang menekankan nilai kebenaran, kesantunan, tanggung jawab, dan penghormatan terhadap sesama dalam komunikasi digital. Penelitian ini menegaskan bahwa literasi digital berbasis nilai-nilai komunikasi Islam memiliki peran penting dalam membangun ruang komunikasi virtual yang etis dan bertanggung jawab.
Etika Komunikasi Profetik Dalam Qs. ‘Abasa Ayat 1–10: Analisis Nilai, Implikasi Dakwah, Dan Relevansi Komunikasi Kontemporer Mohd. Rafiq; Muhammad Salman Alfaruqi
Ittishol: Jurnal Komunikasi dan Dakwah Vol 3, No 2 (2025): Ittishol: Jurnal Komunikasi dan Dakwah
Publisher : Universitas Islam Negeri Syekh Ali Hasan Ahmad Addary Padangsidimpuan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24952/ittishol.v3i2.17982

Abstract

This study examines prophetic communication ethics in QS. “Abasa (80): 1-10 as a normative foundation for developing a humanistic and inclusive model of Islamic communication. The research is motivated by the urgency of constructing da‘wah communication patterns that are free from social bias, responsive to audience needs, and oriented toward divine values. Employing a qualitative approach based on library research, this study analyzes classical and contemporary Qur’anic exegesis as well as scholarly works on Islamic communication ethics. The findings reveal that QS. ‘Abasa (80): 1–10 articulates four core principles of prophetic communication ethics: audience equality, communicative empathy, prioritization of spiritual readiness, and da‘wah integrity. These principles carry significant implications for da‘wah practices, particularly in fostering communicative relationships that are just, sensitive, and oriented toward seekers of truth. Furthermore, the study demonstrates that the moral message of QS. ‘Abasa remains highly relevant in modern communication contexts, including digital communication practices that are often susceptible to social hierarchies, image construction, and popular bias. This study concludes that QS. ‘Abasa can serve as a comprehensive reference for constructing an adaptive and prophetically grounded model of Islamic communication ethics, offering strategic guidance for the development of da‘wah in the contemporary era.Penelitian ini mengkaji etika komunikasi profetik dalam QS. ‘Abasa ayat 1–10 sebagai landasan normatif bagi pengembangan model komunikasi Islam yang humanistik dan inklusif. Latar belakang penelitian berangkat dari pentingnya membangun pola komunikasi dakwah yang bebas dari bias sosial, responsif terhadap kebutuhan audiens, serta berorientasi pada nilai-nilai ketuhanan. Penelitian ini menggunakan pendekatan kualitatif berbasis studi pustaka, dengan analisis terhadap literatur tafsir klasik dan kontemporer serta penelitian akademik terkait etika komunikasi Islam. Hasil penelitian menunjukkan bahwa QS. ‘Abasa ayat 1–10 mengandung empat prinsip utama etika komunikasi profetik: kesetaraan audiens, empati komunikatif, prioritas kesiapan spiritual, dan integritas dakwah. Nilai-nilai tersebut memberi implikasi signifikan bagi praksis dakwah, terutama dalam membangun relasi komunikatif yang adil, sensitif, dan berorientasi pada pencari kebenaran. Selain itu, penelitian ini menemukan bahwa pesan moral QS. ‘Abasa tetap relevan dalam konteks komunikasi modern, termasuk dalam praktik komunikasi digital yang rentan terhadap hierarki sosial, pencitraan, dan bias populer. Penelitian ini menyimpulkan bahwa QS. ‘Abasa dapat dijadikan rujukan komprehensif untuk membangun konstruksi model etika komunikasi Islam yang adaptif dan bernilai profetik, sehingga mampu menjadi pedoman strategis bagi pengembangan dakwah pada era kontemporer.