Henny Setiawan
Universitas Bung Karno

Published : 2 Documents Claim Missing Document
Claim Missing Document
Check
Articles

Found 2 Documents
Search

Hubungan antara Ilmu Kedokteran Forensik dengan Proses Pembuktian Perkara Pidana Henny Setiawan; Hudi Yusuf
Jurnal Intelek Dan Cendikiawan Nusantara Vol. 3 No. 03 (2026): JUNI - JULI 2026
Publisher : PT. Intelek Cendikiawan Nusantara

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Pembuktian merupakan salah satu tahapan terpenting dalam proses peradilan pidana karena menjadi dasar bagi hakim dalam menentukan terbukti atau tidaknya suatu tindak pidana. Dalam perkembangannya, pembuktian tidak hanya mengandalkan keterangan saksi dan alat bukti konvensional, tetapi juga didukung oleh ilmu pengetahuan, salah satunya ilmu kedokteran forensik. Ilmu kedokteran forensik membantu aparat penegak hukum mengungkap fakta-fakta hukum melalui pemeriksaan medis terhadap korban, tersangka, maupun barang bukti biologis. Hasil pemeriksaan tersebut, seperti Visum et Repertum dan keterangan ahli, memiliki nilai penting dalam mendukung proses penyidikan, penuntutan, hingga pemeriksaan di persidangan. Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis hubungan antara ilmu kedokteran forensik dengan proses pembuktian perkara pidana serta mengkaji kedudukan hasil pemeriksaan forensik sebagai alat bukti dalam sistem peradilan pidana di Indonesia. Penelitian ini menggunakan metode penelitian hukum normatif dengan pendekatan perundang-undangan dan pendekatan konseptual. Hasil penelitian menunjukkan bahwa ilmu kedokteran forensik memiliki hubungan yang erat dengan proses pembuktian perkara pidana karena mampu memberikan bukti ilmiah yang objektif dan dapat dipertanggungjawabkan.
Peran Ilmu Forensik Dalam Mengidentifikasi Korban Bencana Massal melalui Prosedur Disaster Victim Identification (DVI) Henny Setiawan; Hudi Yusuf
Jurnal Intelek Dan Cendikiawan Nusantara Vol. 3 No. 03 (2026): JUNI - JULI 2026
Publisher : PT. Intelek Cendikiawan Nusantara

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Bencana massal, baik yang disebabkan oleh fenomena alam maupun kelalaian manusia seperti kecelakaan transportasi dan industri, kerap menghasilkan korban jiwa dalam jumlah signifikan dengan kondisi fisik yang terfragmentasi, membusuk, atau terbakar hebat. Kondisi tersebut menyebabkan proses pengenalan korban secara visual langsung oleh pihak keluarga menjadi sangat tidak relevan dan berisiko tinggi menimbulkan kesalahan identifikasi (misidentification). Oleh karena itu, penerapan ilmu forensik melalui kerangka kerja Disaster Victim Identification (DVI) menjadi instrumen ilmiah yang mutlak diperlukan. DVI mengintegrasikan berbagai disiplin ilmu forensik—termasuk daktiloskopi, odontologi forensik, antropologi, dan analisis DNA—untuk menjamin bahwa setiap proses identifikasi berjalan sesuai dengan standar hukum, etika, dan internasional yang ditetapkan oleh INTERPOL. Jurnal ini mengkaji secara komprehensif peran ilmu forensik dalam lima fase operasional DVI, yaitu Fase Tempat Kejadian Perkara (TKP), Postmortem, Antemortem, Rekonsiliasi, hingga Debriefing. Penekanan utama penelitian ini berfokus pada mekanisme komparasi antara data postmortem (temuan fisik dari jenazah) dan data antemortem (rekam medis dan informasi semasa hidup korban) pada tahap rekonsiliasi. Melalui kolaborasi interdisipliner tersebut, ilmu forensik tidak hanya berfungsi sebagai sarana pembuktian yuridis dan pemenuhan hak asasi manusia, tetapi juga memberikan kepastian hukum serta penutup emosional (closure) yang sangat krusial bagi keluarga korban yang ditinggalkan