Claim Missing Document
Check
Articles

Found 2 Documents
Search

Teacher-Mediated Curriculum Negotiation: Integrating Islamic Values and the National Curriculum through Digital Learning at an Indonesian Madrasah Amalia Dinda Khairunnisa; Ulfa Adilla; Novita Nurul Hidayah; Siti Khamim; Hikmayani; Faliza
Jurnal Ilmu Sosial dan Humaniora Vol. 1 No. 3 (2023): Juli
Publisher : CV Putra Publisher

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.58540/isihumor.v1i3.1601

Abstract

Perluasan pedagogi digital di sekolah-sekolah Islam telah mengintensifkan ketegangan antara transmisi nilai-nilai agama dan pemenuhan persyaratan akademik dan berbasis kompetensi dari kurikulum nasional Indonesia, namun bukti empiris tentang bagaimana guru benar-benar mendamaikan keduanya di tingkat kelas masih langka. Penelitian ini meneliti bagaimana guru di MTsS Minhajul Ishlah Tebo, sekolah menengah pertama swasta Islam di Provinsi Jambi, menegosiasikan nilai-nilai Islam dan tuntutan kurikulum nasional melalui praktik pembelajaran digital. Desain studi kasus kualitatif digunakan, berdasarkan data dari 14 informan, kepala madrasah, enam guru mata pelajaran agama dan umum, dan tujuh siswa dari kelas VIII dan IX yang dipilih secara sengaja. Data dihasilkan melalui 14 wawancara semi-terstruktur selama 45-60 menit, 12 observasi kelas menggunakan protokol terstruktur, dan analisis 21 dokumen perencanaan pelajaran dan bahan ajar digital. Analisis tematik mengikuti model interaktif Miles, Huberman, dan SaldaƱa, dengan kredibilitas yang terjamin melalui triangulasi sumber dan metode dan pemeriksaan anggota. Lima tema yang saling terkait muncul: konvergensi kurikulum terjadi pada tingkat implementasi pedagogis daripada revisi dokumen formal; guru bertindak sebagai mediator nilai di seluruh mata pelajaran agama dan umum; media digital (grup WhatsApp, video instruksional, dan e-modul) berfungsi sebagai pembawa pesan moral dan agama; pembelajaran digital memperkuat motivasi siswa, pembentukan karakter, dan literasi digital; dan integrasi terkendala oleh kesenjangan infrastruktur dan kompetensi digital guru yang tidak merata. Studi ini menyimpulkan bahwa negosiasi tingkat kelas, yang didukung oleh agensi guru dan mediasi digital, menawarkan model yang layak untuk pengembangan pelajar holistik di sekolah-sekolah Islam dan menunjukkan perlunya pengembangan kapasitas kelembagaan.
Implementation of the Inquiry Learning Model to Enhance Students' Conceptual Understanding in Islamic Religious Education: A Qualitative Study at a State Vocational High School in Tebo, Indonesia Qori'atun Munawaroh; Andryadi; Sugeng Kurniawan; Novita Nurul Hidayah; Sriyani; Siti Khamim
Jurnal Ilmu Pendidikan dan Sosial Vol. 4 No. 1 (2025): April
Publisher : CV Putra Publisher

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.58540/jipsi.v4i1.1609

Abstract

Pendidikan Agama Islam (IRE) di tingkat menengah atas di Indonesia terus didominasi oleh pengajaran berbasis ceramah, yang membatasi keterlibatan aktif peserta didik dengan konstruksi spiritual abstrak seperti mahabbah (cinta), khauf (ketakutan), raja' (harapan), dan tawakkal (kepercayaan kepada Tuhan). Studi ini mengkaji bagaimana model inkuiri-pembelajaran dioperasionalkan di ruang kelas IRE di sekolah menengah kejuruan negeri dan mengidentifikasi kondisi yang memungkinkan atau membatasi implementasinya. Desain deskriptif kualitatif diterapkan di SMK Negeri 2 Rimbo Bujang, Kabupaten Tebo, antara bulan Juni hingga September 2024. Data dihasilkan melalui delapan observasi kelas non-peserta, dua belas wawancara semi-terstruktur dengan kepala sekolah, guru IRE, dan siswa kelas-XI, dan analisis dokumen rencana pelajaran dan artefak pengajaran. Data dianalisis menggunakan model interaktif Miles-Huberman, dan kredibilitas ditetapkan melalui triangulasi sumber dan teknik serta pemeriksaan anggota. Temuan ini menunjukkan bahwa model inkuiri-pembelajaran terungkap di lima tahap operasional dan diberlakukan melalui delapan teknik pedagogis, termasuk pembingkaian kontekstual, pertanyaan terpandu, diskusi kasus, bermain peran, jurnal reflektif, dan pemetaan konsep. Implementasi didukung oleh ruang kelas dan sumber belajar yang memadai, namun terkendala oleh peralatan media yang terbatas, kesiapan guru yang tidak merata, kebisingan lingkungan, dan keterlambatan siswa. Model ini memperkuat keterlibatan peserta didik dan pemahaman konseptual ketika guru merancang pertanyaan yang menghubungkan konstruksi spiritual dengan pengalaman hidup peserta didik. Studi ini menyumbangkan catatan berbasis konteks tentang pembelajaran inkuiri dalam IRE kejuruan dan menawarkan kerangka kerja praktis bagi guru dan pemimpin sekolah yang bertujuan untuk bergerak melampaui pengajaran ekspositori.