Claim Missing Document
Check
Articles

Found 11 Documents
Search

PROSEDUR PEMERIKSAAN COLON IN LOOP PADA KLINIS CARCINOMA COLON DI INSTALASI RADIOLOGI RS PKU MUHAMMADIYAH GOMBONG Muhammad Yandi Arafah; Sofie Nornalita Dewi; Ari Anggraeni
Journal of Innovation Research and Knowledge Vol. 5 No. 5 (2025): Oktober 2025
Publisher : Bajang Institute

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.53625/jirk.v5i5.11396

Abstract

Latar Belakang: Pemeriksaan colon in loop merupakan prosedur radiografi penting dalam evaluasi kinis Carcinoma colon. di Instalasi Radiologi RS PKU Muhammadiyah Gombong, terdapat perbedaan dalam pelaksanaan prosedur, mulai dari persiapan pasien, alat dan bahan yang digunakan, teknik pemasukan media kontras, hingga pemilihan proyeksi. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui prosedur pemeriksaan, alasan modifikasi tahapan, dan fungsi masing-masing proyeksi. Metode: Penelitian menggunakan metode kualitatif deskriptif dengan pendekatan studi kasus, dilaksanakan pada Agustus–Juli 2025. Subjek penelitian adalah tiga radiografer dan satu dokter spesialis radiologi. Data diperoleh melalui observasi, wawancara, dokumentasi, dan studi pustaka, lalu dianalisis melalui tahapan reduksi, penyajian, dan penarikan kesimpulan Hasil : Hasil penelitian menunjukkan bahwa persiapan pasien terdiri dari persiapan umum dan khusus, persiapan alat dan bahan tidak menggunakan alat fluoroscopy. Teknik pemeriksaan diawali dengan proyeksi Anteroposterior (AP) abdomen polos, dilanjutkan pemasukan media kontras barium menggunakan proyeksi anteroposterior post kontras. Kemudian dilakukan teknik full filing dengan campuran 30cc media kontras positif dan 30cc negatif dimasukkan secara bersamaan, menggunakan proyeksi anteroposterior dan left posterior oblique (LPO). Modifikasi prosedur dilakukan untuk memperluas lumen usus, memastikan ada tidaknya sumbatan oleh tumor, serta meningkatkan efisiensi waktu. Proyeksi anteroposterior digunakan untuk mendapatkan gambaran menyeluruh colon, sedangkan oblique untuk memperjelas lekukan colon pada flexura hepatika dan lienalis. Kesimpulan : Prosedur di RS PKU Muhammadiyah Gombong tidak menggunakan fluoroscopy, serta menggunakan kombinasi proyeksi anterioposterior dan oblique. Disarankan penggunaan modalitas sinar-X dengan fluoroscopy dan teknik double kontras serta proyeksi post evakuasi untuk hasil diagnostik yang lebih optimal.
PENGARUH PENGGUNAAN PACS TERHADAP BEBAN KERJA RADIOGRAFER DI INSTALASI RADIOLOGI RS PKU MUHAMMADIYAH YOGYAKARTA Dwi Cahya Wibowo; Ari Anggraeni; Ike Ade Nur Liscyaningsih
Journal of Innovation Research and Knowledge Vol. 5 No. 5 (2025): Oktober 2025
Publisher : Bajang Institute

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.53625/jirk.v5i5.11425

Abstract

Latar belakang: PACS merupakan sistem digital yang menggantikan proses manual dalam pengarsipan, penyimpanan, dan distribusi gambar radiologi. Pada Instalasi Radiologi RS PKU Muhammadiyah Yogyakarta, PACS telah digunakan untuk memfasilitasi digitalisasi pengarsipan dan distribusi gambar. Namun, tingginya beban kerja radiografer masih menjadi kendala dalam aspek teknis operasional. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui pengaruh penggunaan PACS terhadap beban kerja dan efisiensi kerja radiografer. Metode: Jenis penelitian ini adalah mix method dengan pendekatan deskriptif yang dilaksanakan di Instalasi Radiologi RS PKU Muhammadiyah Yogyakarta sejak September 2024 hingga Juni 2025. Data kuantitatif dikumpulkan melalui dokumentasi dan dianalisis menggunakan metode Workload Indicator of Staffing Need (WISN) untuk menghitung kebutuhan ideal tenaga radiografer berdasarkan jumlah pemeriksaan, waktu standar, serta tenaga yang tersedia. Data kualitatif diperoleh melalui observasi, wawancara, dan dokumentasi terhadap tiga radiografer dan satu dokter spesialis radiologi untuk menggali pengalaman kerja dan konteks penggunaan PACS. Analisis dilakukan melalui reduksi data dan penyajian naratif untuk memperkuat hasil kuantitatif. Hasil: Hasil penelitian menunjukkan bahwa penerapan PACS meningkatkan efisiensi kerja radiografer dengan mengurangi tugas manual, beban administratif, serta mempercepat akses data dan proses pelayanan, sehingga mendukung percepatan diagnosis. Namun, analisis WISN menunjukkan jumlah radiografer yang tersedia 9 orang masih di bawah kebutuhan ideal 13 orang. Disarankan kepada manajemen Instalasi Radiologi RS PKU Muhammadiyah Yogyakarta untuk menambah tenaga radiografer sesuai hasil perhitungan WISN guna mengurangi beban kerja berlebih serta menjaga mutu dan efisiensi pelayanan radiologi
MANAJEMEN HASIL KRITIS DI INSTALASI RADIOLOGI Riska Khairunnisa; Ari Anggraeni; Muhamad Fa’ik
Journal of Innovation Research and Knowledge Vol. 5 No. 10 (2026): Maret 2026
Publisher : Bajang Institute

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Latar Belakang: Hasil kritis dalam pemeriksaan radiologi merupakan temuan yang harus segera dilaporkan kepada dokter pengirim karena dapat memengaruhi keputusan medis dan keselamatan pasien. Di Instalasi Radiologi salah satu rumah sakit, pelaporan hasil kritis memiliki standar waktu maksimal 60 menit. Namun, kondisi di lapangan tidak selalu berjalan ideal, terutama pada jam tertentu ketika jumlah petugas terbatas. Penelitian dilakukan untuk menggambarkan bagaimana proses pelaporan hasil kritis berlangsung di salah satu rumah sakit, melihat ketepatan waktunya, serta memahami faktor-faktor yang menyebabkan keterlambatan agar pelayanan dapat terus diperbaiki. Metode: Penelitian menggunakan metode mixed methods dilaksanakan pada bulan Juni-Agustus 2025. Data diperoleh melalui observasi, wawancara dengan radiografer dan dokter radiologi, serta telaah dokumentasi laporan hasil kritis. Analisis kuantitatif digunakan untuk melihat ketepatan waktu pelaporan pada kasus fraktur costae, ileus, dan pneumoperitoneum, analisis kualitatif digunakan untuk memahami kendala dan upaya perbaikan. Hasil: Hasil penelitian menunjukkan dari 16 pasien dengan hasil kritis, sebanyak 14 laporan (87,5%) berhasil disampaikan dalam waktu ≤ 60 menit. Dua laporan yang melebihi batas waktu terjadi pada malam hari ketika dokter radiologi tidak berada di instalasi, sehingga proses konfirmasi membutuhkan waktu lebih lama. Faktor lain yang berpengaruh antara lain jumlah pasien yang tinggi, antrean pelayanan, serta kendala teknis komunikasi. Kesimpulan: Pelaksanaan pelaporan hasil kritis sudah mengikuti Standar Prosedur Operasional (SPO) dengan waktu pelaporan yang ditetapkan ≤ 60 menit. Faktor-faktor yang mempengaruhi lamanya waktu pelaporan antara lain keterbatasan tenaga dokter spesialis radiologi, tingginya jumlah pasien, antrean pelayanan, serta kendala teknis. Berdasarkan SPO salah satu rumah sakit, pelaksanaan pelaporan hasil kritis di Instalasi Radiologi salah satu rumah sakit ini telah berjalan cukup baik dengan capaian ketepatan waktu sebesar 87,5%. Namun, apabila ditinjau berdasarkan standar nasional KMK HK.01.07/MENKES/1596/2024, pelaksanaan pelaporan hasil kritis tersebut belum sesuai. Saran: Diperlukan penambahan tenaga ahli, penataan jadwal kerja yang lebih proporsional, peningkatan sistem komunikasi agar pelaporan hasil kritis berlangsung lebih cepat, stabil, dan mendukung keselamatan pasien. Perlu dilakukan revisi SPO waktu pelaporan hasil kritis ≤ 30 menit agar selaras dengan KMK Republik Indonesia Nomor HK.01.07/MENKES/1596/2024.
ANALISIS PROYEKSI POSTERO ANTERIOR BILATERAL PADA PEMERIKSAAN BONE AGE DENGAN GANGGUAN PERTUMBUHAN DI RSUD SLEMAN Laura Ariwisnu; Ike Ade Nur Liscyaningsih; Ari Anggraeni
JHN: Journal of Health and Nursing Vol. 4 No. 1 (2026): JHN: Journal of Health and Nursing, May 2026
Publisher : ASIAN PUBLISHER

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.58738/jhn.v4i1.1834

Abstract

Bone age assessment is a radiographic procedure used to evaluate skeletal maturity in children with growth disorders. While the left posteroanterior (PA) projection is the standard method, the use of bilateral PA projections for specific conditions was observed at the Radiology Department of Sleman Regional General Hospital (RSUD Sleman). This study aimed to examine the bone age assessment techniques and the rationale for selecting either the left PA or bilateral PA projection for patients with growth disorders at the hospital. A qualitative case study approach was employed, focusing on two patients with growth disorders. The study was conducted at the Radiology Department of RSUD Sleman between September 2025 and June 2026. Data were gathered through observation, in-depth interviews with three radiographers, a radiologist, and a pediatrician, as well as through documentation and a literature review. Data analysis involved data reduction, data presentation, and conclusion drawing. The results revealed that bone age assessments utilized the left PA projection as the standard procedure, with bilateral PA projections reserved for specific conditions. The left PA projection was performed with the central point at the third metacarpophalangeal joint and a focal-film distance (FFD) of 100 cm, whereas the bilateral PA projection utilized a central point positioned between the two hands, also with an FFD of 100 cm. The left PA projection was selected because it met diagnostic requirements for bone age assessment and adhered to the ALARA (As Low As Reasonably Achievable) radiation protection principle. Conversely, the bilateral PA projection was selectively used for patients with suspected congenital anomalies, deformities, trauma, or asymmetrical growth to compare the ossification development of both hands.
Prosedur Pemeriksaan Radiografi Cervical Dinamik pada Klinis Herniated Nucleus Pulposus (HNP) di Instalasi Radiologi RSUD Brebes Putri Apriani; Ari Anggraeni; Ayu Mahanani
Jurnal Ilmu Kedokteran dan Kesehatan Indonesia Vol. 5 No. 3 (2025): November : Jurnal Ilmu Kedokteran dan Kesehatan Indonesia
Publisher : Lembaga Pengembangan Kinerja Dosen

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.55606/jikki.v5i3.8355

Abstract

Background: Herniated Nucleus Pulposus (HNP) in the cervical region is a condition in which the intervertebral disc protrudes and may compress the nerve roots, causing pain and movement disorders. At the Radiology Department of RSUD Brebes, there are differences in cervical examination techniques compared to standard theory, namely the use of hyperflexion and hyperextension projections. Objective: This study aims to further examine the radiographic techniques used in cervical examinations with clinical indications of Herniated Nucleus Pulposus (HNP), particularly the use of additional lateral hyperflexion and hyperextension projections. Method: This research employed a qualitative method with a case study approach. Data collection was conducted through observation, interviews, documentation, and literature review at the Radiology Department of RSUD Brebes. Informants included five people: three radiographers, one radiology specialist, and one referring physician. Data were analyzed using reduction, presentation, and conclusion drawing techniques. Results: Dynamic cervical radiographic examination for clinical HNP at RSUD Brebes utilized additional hyperflexion and hyperextension projections with the patient standing sideways at the bucky stand, the Central Point (CP) located at cervical 4, and the Central Ray (CR) perpendicular horizontally. Focus Film Distance (FFD) was 100 cm, with exposure factors of 77 kV and 10 mAs. Patient preparation required no special measures, only removing metal objects around the cervical region such as earrings and necklaces. The rationale for using hyperflexion and hyperextension projections in dynamic cervical examinations for HNP cases at RSUD Brebes was to determine whether there was compression or displacement at the intervertebral disc. Conclusion: Dynamic cervical radiographic techniques for HNP cases at RSUD Brebes were conducted using hyperflexion and hyperextension projections. This examination was also used to evaluate degenerative conditions commonly occurring with aging and to assess cervical movement, since this region is more dynamic compared to thoracic and lumbar vertebrae, thus helping identify movement limitations in patients to support diagnosis.
PROSEDUR PEMERIKSAAN RADIOGRAFI BIPOLAR URETROCYSTOGRAFI DENGAN KLINIS STRIKTUR URETRA DI RSI SULTAN AGUNG SEMARANG Yossi Pratama; Ari Anggraeni; Muhammad Fakhrurreza
HEALTHY : Jurnal Inovasi Riset Ilmu Kesehatan Vol. 5 No. 4 (2026)
Publisher : Pusat Pengembangan Pendidikan dan Penelitian Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.51878/healthy.v5i4.14750

Abstract

ABSTRACT Urethral stricture is a narrowing of the urethral lumen that can cause urinary problems, requiring bipolar urethrocystography to evaluate the location and length of the urethral narrowing. This study aimed to determine the examination procedure and the reasons for using 100 ml of contrast media in the urinary bladder and 30 ml in the urethra during bipolar urethrocystography in a case of urethral stricture at RSI Sultan Agung Semarang. This qualitative study was conducted at the Radiology Installation of RSI Sultan Agung Semarang from February to June 2026. The research subjects consisted of three radiographers and one radiologist, while the research object was the bipolar urethrocystography examination procedure for clinical urethral stricture. Data were collected through observation, interviews, and documentation, then analyzed narratively and compared with relevant theories to draw conclusions. The results showed that the examination was performed without special preparation because the patient had a cystostomy catheter in place. The examination used a combination of retrograde and antegrade techniques with a plain AP pelvis projection followed by post-contrast imaging using an RPO pelvis projection. The contrast media consisted of water-soluble iodine mixed with sterile water, with a volume of approximately 30 ml for urethrography and 100 ml for cystography. The radiographic results clearly demonstrated the urethra, urinary bladder, and location of the urethral narrowing in the posterior urethra, thereby supporting the evaluation of urethral stricture. In certain cases, additional projection variations may be considered to support a more comprehensive evaluation of the urethral anatomy and abnormalities. ABSTRAK Striktur uretra merupakan penyempitan pada lumen uretra yang menyebabkan gangguan berkemih, sehingga diperlukan pemeriksaan bipolar uretrocystografi untuk mengevaluasi lokasi dan panjang penyempitan uretra. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui prosedur pemeriksaan serta alasan digunakannya media kontras 100 ml pada vesica urinaria dan 30 ml pada uretra pada pemeriksaan radiografi bipolar uretrocystografi dengan klinis striktur uretra di RSI Sultan Agung Semarang. Penelitian ini menggunakan metode kualitatif dan dilakukan di Instalasi Radiologi RSI Sultan Agung Semarang pada bulan Februari 2026 hingga Juni 2026. Subjek penelitian terdiri atas tiga radiografer dan satu dokter spesialis radiologi, sedangkan objek penelitian adalah prosedur pemeriksaan bipolar uretrocystografi dengan klinis striktur uretra. Data dikumpulkan melalui observasi, wawancara, dan dokumentasi, kemudian dianalisis secara naratif dan dibandingkan dengan teori yang relevan untuk ditarik kesimpulan. Hasil penelitian menunjukkan bahwa pemeriksaan dilakukan tanpa persiapan khusus karena pasien telah terpasang kateter cystotomi. Pemeriksaan menggunakan kombinasi teknik retrograde dan antegrade dengan proyeksi plain foto AP pelvis dan post kontras menggunakan proyeksi RPO pelvis. Media kontras yang digunakan sebanyak 30 ml pada uretra dan 100 ml pada vesica urinaria. Hasil radiograf mampu memperlihatkan uretra, vesica urinaria, dan lokasi penyempitan uretra pada pars posterior sehingga dapat mendukung evaluasi striktur uretra. Pemeriksaan radiografi bipolar uretrocystografi pada kasus striktur uretra dilakukan dengan pemasukan media kontras iodine water-soluble yang dicampur water steril melalui teknik retrograde dan antegrade. Pada kasus tertentu, penambahan variasi proyeksi dapat dipertimbangkan untuk mendukung evaluasi anatomi dan kelainan uretra secara lebih lengkap.
Teknik Pemeriksaan Radiografi Nasofaring Dengan Kasus Hipertropi Adenoid Di Instalasi Radiologi Rsud Dr. Gondo Suwarno Rizka Amelya; Ari Anggraeni; Ildsa Maulidya Mar'atush Nasokha
Journal of Innovation Research and Knowledge Vol. 6 No. 5 (2026): Oktober 2026
Publisher : Bajang Institute

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Pemeriksaan radiografi nasofaring pada kasus hipertrofi adenoid di Instalasi Radiologi Rumah Sakit Umum Daerah dr. Gondo Suwarno menggunakan proyeksi ekstensi servikal lateral. Terdapat perbedaan teori dalam penggunaan proyeksi kranial lateral kepala dengan ekstensi penuh dan pasien membuka mulut. Tujuan dari Teknik Pemeriksaan Radiografi Nasofaring pada Kasus Hipertrofi Adenoid di Instalasi Radiologi Rumah Sakit Umum Daerah dr. Gondo Suwarno adalah untuk mengetahui mengapa pemeriksaan radiografi pada kasus hipertrofi adenoid di Instalasi Radiologi Rumah Sakit Umum Daerah dr. Gondo Suwarno menggunakan proyeksi servikal lateral dengan ekstensi mulut terbuka. Pemeriksaan dilakukan menggunakan teknik jaringan lunak dengan faktor paparan 60–70 kV dan 6–10 mAs, sehingga pembesaran adenoid dapat terlihat lebih jelas dan detail pada radiografi. Metode: Penelitian ini merupakan studi kualitatif dengan pendekatan studi kasus yang didukung oleh perhitungan sederhana. Subjek penelitian terdiri dari tiga radiografer, satu ahli radiologi, dan satu pasien anak dengan hipertrofi adenoid. Penggunaan satu pasien disebabkan oleh kelangkaan pemeriksaan radiografi nasofaring dengan hipertrofi adenoid klinis di Rumah Sakit Umum Daerah dr. Gondo Suwarno. Objek penelitian adalah pemeriksaan radiografi nasofaring dengan kasus hipertrofi adenoid di Unit Radiologi Rumah Sakit Umum Daerah dr. Gondo Suwarno. Pengumpulan data dilakukan melalui observasi, wawancara, dan dokumentasi. Hasil: Hasil penelitian menunjukkan bahwa teknik pemeriksaan Radiografi Nasofaring dengan Kasus Hipertrofi Adenoid di Instalasi Radiologi Rumah Sakit Umum Daerah dr. Gondo Suwarno menggunakan proyeksi ekstensi lateral servikal mulut terbuka karena citra adenoid lebih terlihat dengan posisi berdiri menyamping dengan kepala ekstensi penuh. Metode pengukuran adenoid menggunakan pembanding berdasarkan skala usia. Rasio normal adenoid nasofaring pada anak usia 8,6 tahun = 0,568 dan rasio adenoid pada anak usia 9,6 tahun = 0,536. Jadi An. Kesimpulan: Radiografi nasofaring di Rumah Sakit Daerah Dr. Gondo Suwarno untuk hipertrofi adenoid hanya memerlukan pengangkatan benda logam, dan pasien diposisikan miring (ekstensi mulut terbuka). Sinar diarahkan tegak lurus menggunakan proyeksi servikal lateral, dan hasilnya diukur terhadap skala usia normal.
Sistem Pengelolaan Hasil Radiograf di Instalasi Radiologi RSUD dr. R. Soetijono Blora Inda Abia Ludji; Ari Anggraeni; Asih Puji Utami
Journal of Innovation Research and Knowledge Vol. 6 No. 5 (2026): Oktober 2026
Publisher : Bajang Institute

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Background: The radiology department is a service unit that has adopted digital systems to enhance operational efficiency. PACS (Picture Archiving and Communication System) is a medical image management system that facilitates rapid, secure data access without the need for film printing. Although PACS has been implemented at RSUD dr. R. Soetijono Blora, its utilization has not yet been optimized. This study aims to examine radiograph management as well as the advantages and disadvantages of the PACS system.Methods: This study employed a qualitative method with a case study approach at the Radiology Department of RSUD dr. R. Soetijono Blora between February and June 2025. Data were collected through observation, document review, and interviews with three radiographers and one radiologist. Data analysis involved transcription, data reduction, coding, categorization, theme identification, data presentation, and conclusion drawing.Results: The study results indicate that PACS is utilized for digital radiograph management, offering benefits such as reduced film usage, cost and storage space savings, easy image access, faster interpretation by physicians, and integration with the Hospital Information System (SIM-RS). The DICOM standard supports data security and compatibility. However, utilization remains suboptimal due to challenges such as network disruptions, system errors, reliance on electricity and connectivity, and limited access for external parties, such as referral hospitals and patients.Conclusion: PACS implementation enhances the efficiency, integration, and quality of radiology services; however, optimization of infrastructure and system access is required to support the sustainable utilization of PACS.
PROSEDUR PEMERIKSAAN ABDOMEN 3 POSISI SUSPECT SUBILEUS PARALYTIKUS PADA KASUS EMERGENCY POST KECELAKAAN LALU LINTAS DI RUMAH SAKIT ISLAM JAKARTA PONDOK KOPI Arvidia Salsabilla Ava Lochitesvara; Ike Ade Nur Liscyaningsih; Ari Anggraeni
JHN: Journal of Health and Nursing Vol. 4 No. 1 (2026): JHN: Journal of Health and Nursing, May 2026
Publisher : ASIAN PUBLISHER

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.58738/jhn.v4i1.1899

Abstract

Paralytic subileus is a complication of abdominal trauma resulting from traffic accidents, characterized by a partial disruption of intestinal peristaltic contractions. A three-view abdominal radiographic series (AP supine, AP semi-erect, and Left Lateral Decubitus/LLD) is typically used to aid diagnosis; however, the LLD position is difficult to implement for hemodynamically unstable trauma patients. At Jakarta Islamic Hospital Pondok Kopi, the three-view abdominal examination for suspected post-accident paralytic subileus utilizes AP supine, AP semi-erect, and AP Horizontal projections. This study aims to examine the procedure and the rationale for using the AP Horizontal projection. It is a qualitative study employing a descriptive case study approach, conducted at the Radiology Department of Jakarta Islamic Hospital Pondok Kopi from September 2025 to May 2026. The study covers patient preparation, equipment and materials, examination techniques and projections (AP supine, AP semi-erect, and AP Horizontal as a modification of LLD), and the clinical justification for the AP Horizontal projection. The study subjects consisted of three radiographers and one radiologist. Data were collected through observation, interviews, literature review, and documentation, followed by analysis involving data reduction, data presentation, and conclusion drawing. The examination was performed without special preparation, other than the removal of metal objects to prevent artifacts. The technique employed AP supine, AP semi-erect, and AP Horizontal projections—substituting the LLD view—prioritizing patient safety, as the trauma condition precluded tilting the patient's body. The AP Horizontal projection successfully demonstrated air-fluid levels and free air comparable to the LLD view, yielding optimal radiographic quality that supported the diagnosis of paralytic subileus. Modifying the LLD projection to the AP Horizontal projection proved safe, effective, and diagnostically equivalent for suspected paralytic subileus cases in emergency post-accident patients, making it a suitable practice to maintain within emergency radiography protocols.
Urethrography Procedure In Clinical Cases Of Urethral Stricture At The Radiology Department Of Rsd K.R.M.T Wongsonegoro Semarang Adam Danuarta; Retno Wati; Ari Anggraeni
International Journal of Social Science Vol. 6 No. 3 (2026): October 2026
Publisher : Bajang Institute

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Latar Belakang: Striktur uretra adalah penyempitan lumen uretra yang dapat menghambat aliran urin, sehingga memerlukan pemeriksaan radiologi untuk menentukan lokasi dan karakteristik penyempitan tersebut. Uretrografi adalah pemeriksaan radiologi yang mampu memvisualisasikan uretra menggunakan media kontras. Di Departemen Radiologi RSD ( Rumah Sakit Daerah) KRMT Wongsonegoro Semarang, prosedur ini menggunakan ujung kanula IV (abocath tanpa jarum) sebagai alat pemberian kontras. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui prosedur uretrografi pada kasus klinis striktur uretra dan rasionalitas di balik penggunaan ujung kanula IV untuk injeksi kontras. Metode: Penelitian kualitatif ini menggunakan pendekatan studi kasus, yang dilakukan dari Februari hingga Juni 2026 di Departemen Radiologi RSD KRMT Wongsonegoro Semarang. Subjek penelitian terdiri dari tiga radiografer dan satu ahli radiologi, sedangkan objek penelitian adalah prosedur uretrografi untuk striktur uretra klinis. Data dikumpulkan melalui observasi, wawancara, dan dokumentasi, kemudian dianalisis menggunakan pendekatan deskriptif kualitatif melalui transkripsi, reduksi, kategorisasi, perbandingan teoritis, dan penarikan kesimpulan. Hasil: Pemeriksaan dimulai dengan persiapan pasien, penyiapan peralatan dan bahan, dan rontgen panggul polos dalam proyeksi Anteroposterior (AP). Ini diikuti dengan pemberian media kontras secara retrograd menggunakan ujung kanula IV tanpa jarum (abocath), dan pencitraan selanjutnya dalam proyeksi Oblique Posterior Kanan (RPO) dan Oblique Posterior Kiri (LPO). Campuran 20 mL media kontras yodium dan 20 mL NaCl 0,9% (rasio 1:1) disiapkan, dengan 20 cc digunakan untuk masing-masing proyeksi RPO dan LPO hingga lumen uretra terisi optimal (pengisian penuh), sehingga lokasi dan derajat striktur dapat divisualisasikan dengan jelas. Ujung kanula IV 20G/22G, dilumasi dengan gel, dimasukkan sekitar 1-2 cm. Ujung kanula IV dipilih karena desainnya yang pendek dan fleksibel mengurangi risiko tertekuk, menghindari gangguan pada visualisasi uretra anterior, dan meningkatkan kenyamanan pasien. Kesimpulan: Uretrografi pada kasus klinis striktur uretra menggunakan proyeksi AP, RPO, dan LPO dengan media kontras yodium yang diencerkan dalam NaCl 0,9% dengan rasio 1:1. Penggunaan ujung kanula IV tanpa jarum mendukung visualisasi optimal uretra anterior, meminimalkan risiko tertekuk, dan meningkatkan kenyamanan pasien. Penggunaan kontras dapat disesuaikan sesuai dengan kondisi pasien dan kebutuhan diagnostik.