Diabetes melitus tipe 2 merupakan penyakit kronis yang memerlukan kepatuhan jangka panjang terhadap terapifarmakologis dan non-farmakologis. Namun, kepatuhan lansia dalam menjalani terapi diabetes masih menjadipermasalahan utama yang menyebabkan kadar gula darah tidak terkontrol, komplikasi, hingga kematian.Kepatuhan dipengaruhi oleh berbagai faktor, di antaranya beban keluarga dan efikasi diri. Keluarga sebagaipendukung utama berperan penting dalam perawatan lansia, namun beban fisik, emosional, dan finansial yangberlebihan dapat menurunkan kualitas dukungan. Selain itu, efikasi diri lansia menentukan keyakinan dankemampuan pasien dalam mengelola penyakitnya secara mandiri. Metode: Penelitian ini menggunakan desaindeskriptif korelasi dengan pendekatan cross-sectional. Populasi penelitian ini sebanyak 235 pasien besertapendapingnya, dengan sampel 148 responden yang dipilih menggunakan teknik purpovive sampling. Instrumenpenelitian menggunakan kuesioner Caregiver Burden Scale, Diabetes Management Self-Efficacy Scale, danModifikasi Morisky Medication Scale 8. Analisis data dilakukan menggunakan uji korelasi Spearman Rank danRegresi Linear Berganda. Hasil: Hasil penelitian menunjukkan adanya hubungan antara beban keluarga dengankepatuhan lansia (p-value = 0,018; r = -0,194) serta hubungan antara efikasi diri dengan kepatuhan lansia (p-value = 0,0001; r = 0,269). Kesimpulan: Penelitian ini menunjukkan bahwa beban keluarga dan efikasi diriberhubungan signifikan dengan kepatuhan lansia. Namun dilihat dari nilai koefisien korelasi, efikasi dirimerupakan faktor yang lebih dominan dibandingkan beban keluarga dalam memengaruhi kepatuhan lansia. Olehkarena itu, diperlukan pemberian edukasi kepada keluarga dan lansia oleh petugas kesehatan untukmeningkatkan pemahaman, keterampilan, dan kepercayaan diri dalam pengelolaan diabetes guna meningkatkankepatuhan menjalani terapi.