Claim Missing Document
Check
Articles

Found 7 Documents
Search

PENGARUH SENAM YOGA TERHADAP TEKANAN DARAH LANSIA HIPERTENSI (STUDI LITERATUR REVIEW) Nurul Hidayah
Hospital Majapahit (JURNAL ILMIAH KESEHATAN POLITEKNIK KESEHATAN MAJAPAHIT MOJOKERTO) Vol 14 No 2 (2022): Hospital Majapahit
Publisher : LPPM Sekolah Tinggi Ilmu Kesehatan Majapahit Mojokerto

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.55316/hm.v14i2.819

Abstract

The elderly are at high risk for degenerative diseases. One of the diseases that are often experienced by the elderly is hypertension which can disrupt blood flow, this of course can interfere with activities. One of the non-pharmacological treatments that can improve the flow of oxygen in the blood is yoga. This study was conducted to determine the effect of giving yoga exercise to lowering blood pressure in the elderly with hypertension. By using the keywords ((Yoga) AND (Hypertension) AND Elderly) in the google scholar and portal garuda databases. 6 articles were selected using JBI Critical Appraisal tools. Articles were taken from a reputable database, i.e. 1 article was taken from the garuda portal data base, while 5 articles were taken from the Google Schoolar data base. The selection was taken by taking into account the PICO framework, article 6 Test Wilcoxon Test. There is a difference in blood pressure before and after doing yoga exercises for the elderly with hypertension with a value (p value = 0.000) < from the standard significant (α = 0.05). Giving yoga exercise therapy is recommended to be done in elderly people with hypertension because there is a decrease after the action, but from several studies there are differences of opinion between one researcher and other researchers regarding the results of yoga exercise on hypertension which discuss yoga exercise is not effective for lowering blood pressure in hypertension. So that further researchers can develop non-pharmacological treatment for hypertension to lower blood pressure with other alternatives to be combined, such as using other combination therapies to be more effective in lowering blood pressure in hypertension.
Pengaruh Pemberian Terapi Massage Kaki Terhadap Nilai Ankle Brachial Index Dan Sensitivitas Kaki Pada Pasien DM Tipe II Di Wilayah Puskesmas Pakisaji Malang Soraya Qonita Zakia Athuf; Supono; Nurul Hidayah; Tri Nataliswati
Borneo Nursing Journal (BNJ) Vol. 7 No. 2 (2025)
Publisher : Akademi Keperawatan Yarsi Samarinda

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.61878/bnj.v8i1.431

Abstract

Neuropati atau kerusakan saraf adalah komplikasi mikrovaskular yang umum terjadi pada pasien diabetes melitus, terapi massage kaki merupakan salah satu terapi komplementer yang minim resiko dan fleksibel serta dapat diterapkan dengan mudah untuk mengatasi masalah neuropati perifer namun jarang sekali di implementasikan sebagai intervensi tambahan. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui pengaruh pemberian terapi massage kaki terhadap nilai Ankle Brachial Index dan sensitivitas kaki pada pasien DM tipe II. Desain penelitian menggunakan quasi experiment dengan pendekatan pre-post test control group design. Populasi penelitian adalah pasien DM tipe II di wilayah kerja Puskesmas Pakisaji sebanyak 126 orang, dengan sampel berjumlah 60 responden yang dipilih melalui teknik purposive sampling. Kelompok perlakuan diberikan terapi massage kaki selama 5–10 menit setiap pagi dan sore selama dua hari. Variabel yang diamati adalah nilai ABI dan sensitivitas kaki, menggunakan instrumen berupa SOP pijat kaki, stetoskop, tensimeter, monofilamen 10g, dan lembar observasi. Rata-rata peningkatan nilai ABI sebesar 0,05 dan sensitivitas kaki sebesar 0,5. Hasil penelitian ini menunjukkan bahwa terapi massage kaki efektif sebagai tindakan alternatif dalam mencegah komplikasi neuropati diabetic. Hasil uji Paired T-Test menunjukkan adanya pengaruh signifikan terhadap nilai ABI dengan p-value = 0,008 (α < 0,05), dan hasil uji Wilcoxon menunjukkan pengaruh terhadap sensitivitas kaki dengan p-value = 0,020 (α < 0,05). Dengan demikian, terapi massage kaki dapat dijadikan alternatif intervensi keperawatan yang bersifat preventif dan promotif dalam penanganan neuropati diabetik. Penelitian lanjutan dengan durasi intervensi lebih lama dan pengukuran lanjutan disarankan untuk melihat efek jangka panjangnya.
Hubungan Beban Keluarga Dan Efikasi Diri Dengan Kepatuhan Lansia Menjalani Terapi Diabetes Melitus Tipe 2 Di Puskesmas Pandanwangi Starla Wyanti Resdianto; Nurul Hidayah; Supono
Borneo Nursing Journal (BNJ) Vol. 8 No. 2 (2026)
Publisher : Akademi Keperawatan Yarsi Samarinda

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.61878/bnj.v8i2.1073

Abstract

Diabetes melitus tipe 2 merupakan penyakit kronis yang memerlukan kepatuhan jangka panjang terhadap terapi farmakologis dan non-farmakologis. Namun, kepatuhan lansia dalam menjalani terapi diabetes masih menjadi permasalahan utama yang menyebabkan kadar gula darah tidak terkontrol, komplikasi, hingga kematian. Kepatuhan dipengaruhi oleh berbagai faktor, di antaranya beban keluarga dan efikasi diri. Keluarga sebagai pendukung utama berperan penting dalam perawatan lansia, namun beban fisik, emosional, dan finansial yang berlebihan dapat menurunkan kualitas dukungan. Selain itu, efikasi diri lansia menentukan keyakinan dan kemampuan pasien dalam mengelola penyakitnya secara mandiri. Metode: Penelitian ini menggunakan desain deskriptif korelasi dengan pendekatan cross-sectional. Populasi penelitian ini sebanyak 235 pasien beserta pendapingnya, dengan sampel 148 responden yang dipilih menggunakan teknik purpovive sampling. Instrumen penelitian menggunakan kuesioner Caregiver Burden Scale, Diabetes Management Self-Efficacy Scale, dan Modifikasi Morisky Medication Scale 8. Analisis data dilakukan menggunakan uji korelasi Spearman Rank dan Regresi Linear Berganda. Hasil: Hasil penelitian menunjukkan adanya hubungan antara beban keluarga dengan kepatuhan lansia (p-value = 0,018; r = -0,194) serta hubungan antara efikasi diri dengan kepatuhan lansia (p-value = 0,0001; r = 0,269). Kesimpulan: Penelitian ini menunjukkan bahwa beban keluarga dan efikasi diri berhubungan signifikan dengan kepatuhan lansia. Namun dilihat dari nilai koefisien korelasi, efikasi diri merupakan faktor yang lebih dominan dibandingkan beban keluarga dalam memengaruhi kepatuhan lansia. Oleh karena itu, diperlukan pemberian edukasi kepada keluarga dan lansia oleh petugas kesehatan untuk meningkatkan pemahaman, keterampilan, dan kepercayaan diri dalam pengelolaan diabetes guna meningkatkan kepatuhan menjalani terapi.
Implementasi Edukasi Pencegahan Ulkus Diabetikum terhadap Perilaku Pasien Diabetes Melitus Tipe 2 di Puskesmas Gribig Krismawati; Nurul Hidayah; Budiono
Galen: Jurnal Riset Ilmu Farmasi dan Kesehatan Vol. 2 No. 2 (2026): Galen: Jurnal Riset Ilmu Farmasi dan Kesehatan Bulan Oktober
Publisher : PT Pustaka Cendekia Publisher

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.71417/galen.v2i2.243

Abstract

Diabetes melitus tipe 2 merupakan penyakit kronis yang berisiko menimbulkan komplikasi berupa ulkus diabetikum akibat kadar gula darah yang tidak terkontrol serta kurangnya pengetahuan dan perilaku perawatan kaki. Edukasi mengenai pencegahan ulkus diabetikum diperlukan untuk meningkatkan kemampuan pasien dalam melakukan perawatan kaki dan mengendalikan kadar gula darah. Penelitian ini bertujuan mengidentifikasi dampak edukasi kesehatan terhadap pengetahuan, sikap, perilaku pencegahan ulkus diabetikum, serta pengendalian kadar gula darah pada pasien diabetes melitus tipe 2 di Puskesmas Gribig. Penelitian menggunakan desain deskriptif dengan pendekatan studi kasus dengan  2 responden pada 26 Januari - 6 Februari 2026 melalui pemberian edukasi kesehatan. Hasil penelitian menunjukkan adanya peningkatan pengetahuan menjadi kategori baik, sikap yang lebih sadar terhadap pencegahan, perubahan perilaku ke arah lebih baik, serta kadar gula darah yang lebih terkontrol setelah edukasi diberikan. Disimpulkan bahwa edukasi kesehatan berbasis booklet dapat meningkatkan pengetahuan, sikap, dan perilaku pencegahan ulkus diabetikum serta membantu pengendalian kadar gula darah pada pasien diabetes melitus tipe 2.
Implementasi Edukasi Berbasis Media Interaktif Mengenai Pengetahuan Gejala pada Pasien Diabetes Melitus Tipe 2 di Desa Sumberporong Zeni Puspa Anggraeni; Nurul Hidayah; Rossyana Septyasih
Galen: Jurnal Riset Ilmu Farmasi dan Kesehatan Vol. 2 No. 2 (2026): Galen: Jurnal Riset Ilmu Farmasi dan Kesehatan Bulan Oktober
Publisher : PT Pustaka Cendekia Publisher

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.71417/galen.v2i2.244

Abstract

Diabetes melitus tipe 2 merupakan gangguan metabolik kronis akibat penurunan fungsi insulin atau resistensi insulin yang menyebabkan peningkatan kadar gula darah. Pengelolaan penyakit ini memerlukan pengetahuan yang baik, khususnya dalam pengenalan gejala awal penyakit. Saat ini, edukasi berbasis media interaktif masih jarang diterapkan dalam pemberian pendidikan kesehatan, sehingga diperlukan implementasinya pada pasien diabetes melitus tipe 2. Tujuan penelitian ini untuk menilai hasil implementasi edukasi berbasis media interaktif mengenai pengetahuan gejala pada pasien diabetes melitus tipe 2 di Desa Sumberporong. Penelitian ini merupakan deskriptif studi kasus yang melibatkan lima subjek penelitian, dengan pengumpulan data menggunakan instrumen wawancara dan pengisian kuesioner yang telah dipersiapkan sebelumnya. Data disajikan dalam bentuk tabel, narasi, dan grafik. Hasil penelitian menunjukkan bahwa sebelum mendapatkan edukasi, tiga subjek berada pada kategori kurang, satu subjek pada kategori cukup, dan satu subjek pada kategori baik. Setelah edukasi diberikan, seluruh subjek mengalami peningkatan pengetahuan, dengan empat subjek mencapai kategori baik dan satu subjek pada kategori cukup. Hal tersebut membuktikan bahwa edukasi berbasis media interaktif menggunakan video edukasi efektif dalam meningkatkan pengetahuan gejala pasien diabetes melitus tipe 2. Rekomendasi bagi peneliti selanjutnya, diharapkan dapat mengembangkan metode edukasi yang lebih variatif dan disesuaikan dengan karakteristik subjek, guna meningkatkan efektivitas penyampaian informasi.
Implementasi Edukasi Pijat Refleksi Kaki pada Tingkat Pengetahuan dan Kualitas Tidur Lansia yang Mengalami Insomnia di Desa Sumber Porong Lawang Sheila Ifana Aulia Maharani; Lucia Retnowati; Nurul Hidayah
Galen: Jurnal Riset Ilmu Farmasi dan Kesehatan Vol. 2 No. 2 (2026): Galen: Jurnal Riset Ilmu Farmasi dan Kesehatan Bulan Oktober
Publisher : PT Pustaka Cendekia Publisher

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.71417/galen.v2i2.245

Abstract

Insomnia merupakan gangguan tidur yang sering dialami oleh lansia dan dapat menurunkan kualitas tidur serta kondisi fisik dalam menjalankan aktivitas sehari-hari. Salah satu terapi nonfarmakologis yang berpotensi meningkatkan kualitas tidur adalah pijat refleksi kaki, namun penerapannya masih belum optimal. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui implementasi edukasi pijat refleksi kaki terhadap peningkatan pengetahuan dan kualitas tidur pada lansia yang mengalami insomnia. Penelitian menggunakan desain deskriptif dengan pendekatan studi kasus pretest-posttest terhadap dua lansia yang dipilih menggunakan teknik purposive sampling. Instrumen penelitian meliputi Insomnia Severity Index (ISI), Pittsburgh Sleep Quality Index (PSQI), kuesioner tingkat pengetahuan, dan lembar observasi. Intervensi berupa edukasi dan praktik pijat refleksi kaki diberikan selama enam hari berturut-turut pada malam hari sebelum tidur. Hasil penelitian menunjukkan bahwa edukasi yang diberikan mampu meningkatkan pengetahuan lansia mengenai pijat refleksi kaki sebagai terapi nonfarmakologis. Selain itu, kualitas tidur mengalami perbaikan yang ditandai dengan berkurangnya kesulitan memulai tidur, menurunnya frekuensi terbangun pada malam hari, serta meningkatnya kondisi tubuh yang lebih segar saat bangun tidur. Disimpulkan bahwa edukasi dan pijat refleksi kaki efektif meningkatkan pengetahuan serta kualitas tidur lansia yang mengalami insomnia dan berpotensi diterapkan sebagai intervensi keperawatan berbasis komunitas.
Pengaruh Terapi Murottal terhadap Penyembuhan Luka Ulkus Diabetik pada Pasien Diabetes Melitus Tipe 2 di Pediscare Kota Malang Fuad Maulana; Arief Bachtiar; Nurul Hidayah; Marsaid Marsaid
Borneo Nursing Journal (BNJ) Vol. 8 No. 2 (2026)
Publisher : Akademi Keperawatan Yarsi Samarinda

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.61878/bnj.v8i2.1041

Abstract

Latar Belakang: Ulkus diabetik merupakan komplikasi kronis pada pasien diabetes melitus tipe 2 yang memerlukan waktu penyembuhan lama akibat gangguan vaskular, inflamasi berkepanjangan, serta stress yang meningkatkan hormon kortisol dan menghambat regenerasi jaringan. Terapi murottal sebagai intervensi non-farmakologis dapat membantu menurunkan stress dan mendukung penyembuhan luka secara holistik. Tujuan: Tujuan penelitian ini untuk mengetahui pengaruh terapi murottal terhadap penyembuhan luka ulkus diabetik pada pasien diabetes melitus tipe 2 di Pediscare Kota Malang. Tujuan khusus yaitu menganalisis perubahan kondisi luka ulkus diabetik sebelum dan sesudah pemberian terapi murottal. Metode: Penelitian menggunakan desain time series experiment dengan 34 responden yang dipilih melalui total sampling. Teknik sampling yang digunakan adalah non-probability sampling dengan pendekatan total sampling, yaitu pemilihan subjek tertentu dari populasi berdasarkan tujuan dan rancangan penelitian. Intervensi berupa terapi murottal surah Ar-Rahman diberikan selama 14 hari. Kondisi luka dinilai menggunakan Bates-Jensen Wound Assessment Tool (BJWAT) pada tahap Pre-Test dan Post-Test. Data diuji menggunakan Shapiro-Wilk dan Wilcoxon Signed Rank Test. Hasil: Rata-rata skor luka menurun dari 35,88 pada Pre-Test menjadi 31,32 pada Post-Test, menunjukkan adanya perbaikan kondisi luka setelah intervensi. Dengan nilai Std. Deviation Pre-Test 2,972 Post-Test 2,507. Uji Wilcoxon menunjukkan nilai signifikansi 0,001 (p < 0,05), yang berarti terdapat perbedaan skor luka sebelum dan sesudah terapi murottal. Kesimpulan: Terapi murottal berpengaruh secara signifikan terhadap perbaikan kondisi luka ulkus diabetik, ditunjukkan dengan penurunan skor luka dan perubahan klinis ke arah penyembuhan. Terapi ini dapat digunakan sebagai intervensi komplementer dalam perawatan luka pasien diabetes.