Early childhood learning requires concrete, meaningful learning experiences that are appropriate to the environmental context in which children grow. However, learning practices in early childhood education centers often still focus on worksheets and simple academic activities, thereby limiting children's opportunities to explore their surroundings. This study aimed to describe the implementation of constructivist theory in wetland-based learning through artificial river exploration activities for early childhood at PAUD Fantasha Banjarbaru. The study used a descriptive quantitative approach supported by qualitative data, involving six children aged 4–6 years as subjects. Data were collected through structured observation using a child development checklist instrument and documentation of learning activities, then analyzed descriptively through calculation of mean scores and achievement percentages per developmental aspect, supported by qualitative descriptions of developmental patterns and dynamics. The findings indicate that contextual learning based on wetlands can stimulate children’s development holistically, achieving an overall mean score of 2.99 out of 4.00, with 64% of total evaluations categorized as Developing as Expected (BSH) and Very Well Developed (BSB). The specific achievement scores across developmental aspects were fine motor (3.67), socio-emotional (3.33), Religious and Moral Values/NAM (3.17), cognitive (2.93), language (2.83), and creativity (2.00). Fine motor and socio-emotional aspects showed the most optimal development, while the creativity aspect requires more sustained and structured stimulation. Environmental exploration activities indicate the potential to provide children with opportunities to build knowledge through direct interaction with concrete objects, increase active engagement, and develop social skills through interaction with peers and teachers. Therefore, utilizing wetland environments as a source of contextual learning shows potential as an effective strategy in supporting the holistic development of early childhood while simultaneously strengthening the relevance of learning to the local environment of South Kalimantan. ABSTRAK Pembelajaran anak usia dini membutuhkan pengalaman belajar yang konkret, bermakna, dan sesuai dengan konteks lingkungan tempat anak tumbuh. Namun, praktik pembelajaran di PAUD masih sering berfokus pada lembar kerja dan aktivitas akademik sederhana, sehingga kesempatan anak untuk mengeksplorasi lingkungan sekitar menjadi terbatas. Penelitian ini bertujuan mendeskripsikan implementasi teori konstruktivisme dalam pembelajaran berbasis lahan basah melalui kegiatan eksplorasi sungai buatan pada anak usia dini di PAUD Fantasha Banjarbaru. Penelitian menggunakan pendekatan deskriptif kuantitatif dengan dukungan data kualitatif, melibatkan enam anak dengan rentang usia 4–6 tahun sebagai subjek penelitian. Data dikumpulkan melalui observasi terstruktur menggunakan instrumen checklist perkembangan anak dan dokumentasi kegiatan pembelajaran. Data observasi dianalisis secara deskriptif kuantitatif melalui penghitungan skor rata-rata dan persentase capaian per aspek perkembangan, didukung deskripsi kualitatif untuk menjelaskan pola dan dinamika perkembangan anak. Hasil penelitian menunjukkan bahwa pembelajaran kontekstual berbasis lahan basah mampu menstimulasi perkembangan anak secara holistik dengan rata-rata skor keseluruhan sebesar 2,99 (skala 4) dan 64% total penilaian berada pada kategori Berkembang Sesuai Harapan (BSH) dan Berkembang Sangat Baik (BSB). Rincian capaian skor per aspek perkembangan meliputi: motorik halus (3,67), sosial-emosional (3,33), Nilai Agama dan Moral/NAM (3,17), kognitif (2,93), bahasa (2,83), serta kreativitas (2,00). Aspek motorik halus dan sosial-emosional menunjukkan perkembangan yang paling optimal, sementara aspek kreativitas memerlukan stimulasi yang lebih berkelanjutan dan terstruktur. Kegiatan eksplorasi lingkungan mengindikasikan potensi keberhasilan dalam memberikan kesempatan kepada anak untuk membangun pengetahuan melalui interaksi langsung dengan objek konkret, meningkatkan keterlibatan aktif, serta mengembangkan kemampuan sosial melalui interaksi dengan teman sebaya dan guru. Dengan demikian, pemanfaatan lingkungan lahan basah sebagai sumber belajar kontekstual menunjukkan potensi sebagai strategi yang efektif dalam mendukung perkembangan anak usia dini secara holistik sekaligus memperkuat relevansi pembelajaran dengan lingkungan lokal Kalimantan Selatan.