Farah Dhafiya
Universitas Lambung Mangkurat

Published : 3 Documents Claim Missing Document
Claim Missing Document
Check
Articles

Found 3 Documents
Search

STRATEGI KEPALA SEKOLAH DALAM MANAJEMEN PEMANFAATAN LINGKUNGAN TK TERPADU Farah Dhafiya; Nurhalisa Khatami; Nur Syahida Zaria
LEARNING : Jurnal Inovasi Penelitian Pendidikan dan Pembelajaran Vol. 6 No. 2 (2026)
Publisher : Pusat Pengembangan Pendidikan dan Penelitian Indonesia (P4I)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.51878/learning.v6i2.9682

Abstract

Utilizing the school environment as a learning resource is one of the strategic approaches in early childhood education to instill environmental awareness from an early age. However, the success of implementing this approach is greatly influenced by the role of the school principal's leadership, teacher empowerment, and partnerships with various parties. This study aims to describe the strategies of the school principal in managing the utilization of an eco-school-based environment at TK Terpadu Omah Kepompong Banjarbaru. This research uses a qualitative approach with a case study method. Data collection techniques were carried out through observation, interviews, and documentation. The research focuses on the principal's leadership strategies, teacher empowerment strategies, and partnership strategies in utilizing the school environment. The results of the study show that the principal plays a central role in building an environmental vision, organizing task distribution systematically, and provide a role model for environmentally friendly behavior. Teachers are empowered through training, mentoring, and support for environmentally-based learning innovations, so that the school environment is optimally utilized as a contextual learning space for children. In addition, schools build active and sustainable partnerships with parents, the community, and external parties to support the consistency of the eco-school program. These findings confirm that the management of environment-based utilization through eco schools can be effective if supported by visionary leadership, empowered teachers, and participatory partnerships. ABSTRAK Pemanfaatan lingkungan sekolah sebagai sumber belajar merupakan salah satu pendekatan strategis dalam pendidikan anak usia dini untuk menanamkan karakter peduli lingkungan sejak dini. Namun, keberhasilan implementasi pendekatan tersebut sangat dipengaruhi oleh peran kepemimpinan kepala sekolah, pemberdayaan guru, serta kemitraan dengan berbagai pihak. Penelitian ini bertujuan untuk mendeskripsikan strategi kepala sekolah dalam manajemen pemanfaatan lingkungan berbasis eco school di TK Terpadu Omah Kepompong Banjarbaru. Penelitian ini menggunakan pendekatan kualitatif dengan metode studi kasus. Teknik pengumpulan data dilakukan melalui observasi, wawancara, dan dokumentasi. Fokus penelitian meliputi strategi kepemimpinan kepala sekolah, strategi pemberdayaan guru, dan strategi kemitraan dalam pemanfaatan lingkungan sekolah. Hasil penelitian menunjukkan bahwa kepala sekolah memiliki peran sentral dalam membangun visi lingkungan, mengatur pembagian tugas secara sistematis, serta memberikan keteladanan perilaku ramah lingkungan. Guru diberdayakan melalui pelatihan, pendampingan, dan dukungan inovasi pembelajaran berbasis lingkungan, sehingga lingkungan sekolah dimanfaatkan secara optimal sebagai ruang belajar kontekstual bagi anak. Selain itu, sekolah membangun kemitraan yang aktif dan berkelanjutan dengan orang tua, masyarakat, dan pihak eksternal untuk mendukung konsistensi program eco school. Temuan ini menegaskan bahwa manajemen pemanfaatan lingkungan berbasis eco school dapat berjalan efektif apabila didukung oleh kepemimpinan yang visioner, guru yang berdaya, serta kemitraan yang partisipatif.  
IMPLEMENTASI PEMBELAJARAN KONTEKSTUAL BERBASIS LAHAN BASAH SEBAGAI UPAYA OPTIMALISASI PERKEMBANGAN ANAK USIA DINI Farah Dhafiya; Aslamiah Aslamiah
TEACHING : Jurnal Inovasi Keguruan dan Ilmu Pendidikan Vol. 6 No. 3 (2026)
Publisher : Pusat Pengembangan Pendidikan dan Penelitian Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.51878/teaching.v6i3.14545

Abstract

The utilization of the surrounding environment as an early childhood learning medium has not been optimally explored in wetland-area early childhood centers. This study aims to describe the implementation of wetland-based contextual learning and examine its potential in optimizing early childhood development. A qualitative case study design was applied to five children aged 4–5 years at PAUD Cempaka Putih through participatory observation, checklists, anecdotal records, and portfolios. Specific results show that religious-moral, physical-motor, and cognitive aspects developed very optimally and evenly through concrete activities such as counting frogs and imitating jumping movements. However, expressive language and socio-emotional aspects showed diverse dynamics, where some children required gradual scaffolding to speak confidently before groups and regulate emotions during unintentional physical conflicts. In conclusion, the implementation of wetland-based contextual learning effectively optimizes holistic child development, yet it requires continuous individualized stimulation strategies. This local ecosystem-based learning proves capable of providing concrete learning experiences that support the success of early childhood developmental stimulation within early education institutions. ABSTRAK Pemanfaatan lingkungan sekitar sebagai media belajar anak usia dini belum terekspos optimal pada lembaga PAUD daerah rawa. Penelitian ini bertujuan mendeskripsikan implementasi pembelajaran kontekstual berbasis lahan basah serta mengkaji potensinya dalam mengoptimalkan perkembangan anak. Metode kualitatif studi kasus diterapkan pada lima anak usia 4–5 tahun di PAUD Cempaka Putih melalui observasi partisipatif, checklist, catatan anekdot, dan portofolio. Hasil spesifik menunjukkan aspek nilai agama-moral, fisik-motorik, dan kognitif berkembang sangat optimal serta merata melalui aktivitas menghitung jumlah kodok dan menirukan gerakan melompat. Namun, aspek bahasa ekspresif dan sosial-emosional menunjukkan dinamika beragam, di mana sebagian anak memerlukan pendampingan bertahap untuk berani berbicara di depan kelompok serta mengelola regulasi emosi saat timbul konflik fisik tidak disengaja. Kesimpulannya, implementasi pembelajaran kontekstual berbasis lahan basah efektif mengoptimalkan perkembangan anak secara holistik, tetapi tetap memerlukan strategi stimulasi individual yang berkelanjutan. Pembelajaran berbasis ekosistem lokal ini terbukti mampu menghadirkan pengalaman belajar konkret yang mendukung keberhasilan stimulasi seluruh aspek perkembangan anak secara berkelanjutan di lembaga pendidikan anak usia dini.    
IMPLEMENTASI PEMBELAJARAN KONTEKSTUAL BERBASIS LAHAN BASAH SEBAGAI UPAYA OPTIMALISASI PERKEMBANGAN ANAK USIA DINI Farah Dhafiya; Ahmad Suriansyah; Rizky Amelia
LEARNING : Jurnal Inovasi Penelitian Pendidikan dan Pembelajaran Vol. 6 No. 4 (2026)
Publisher : Pusat Pengembangan Pendidikan dan Penelitian Indonesia (P4I)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.51878/learning.v6i4.15297

Abstract

Early childhood learning requires concrete, meaningful learning experiences that are appropriate to the environmental context in which children grow. However, learning practices in early childhood education centers often still focus on worksheets and simple academic activities, thereby limiting children's opportunities to explore their surroundings. This study aimed to describe the implementation of constructivist theory in wetland-based learning through artificial river exploration activities for early childhood at PAUD Fantasha Banjarbaru. The study used a descriptive quantitative approach supported by qualitative data, involving six children aged 4–6 years as subjects. Data were collected through structured observation using a child development checklist instrument and documentation of learning activities, then analyzed descriptively through calculation of mean scores and achievement percentages per developmental aspect, supported by qualitative descriptions of developmental patterns and dynamics. The findings indicate that contextual learning based on wetlands can stimulate children’s development holistically, achieving an overall mean score of 2.99 out of 4.00, with 64% of total evaluations categorized as Developing as Expected (BSH) and Very Well Developed (BSB). The specific achievement scores across developmental aspects were fine motor (3.67), socio-emotional (3.33), Religious and Moral Values/NAM (3.17), cognitive (2.93), language (2.83), and creativity (2.00). Fine motor and socio-emotional aspects showed the most optimal development, while the creativity aspect requires more sustained and structured stimulation. Environmental exploration activities indicate the potential to provide children with opportunities to build knowledge through direct interaction with concrete objects, increase active engagement, and develop social skills through interaction with peers and teachers. Therefore, utilizing wetland environments as a source of contextual learning shows potential as an effective strategy in supporting the holistic development of early childhood while simultaneously strengthening the relevance of learning to the local environment of South Kalimantan. ABSTRAK Pembelajaran anak usia dini membutuhkan pengalaman belajar yang konkret, bermakna, dan sesuai dengan konteks lingkungan tempat anak tumbuh. Namun, praktik pembelajaran di PAUD masih sering berfokus pada lembar kerja dan aktivitas akademik sederhana, sehingga kesempatan anak untuk mengeksplorasi lingkungan sekitar menjadi terbatas. Penelitian ini bertujuan mendeskripsikan implementasi teori konstruktivisme dalam pembelajaran berbasis lahan basah melalui kegiatan eksplorasi sungai buatan pada anak usia dini di PAUD Fantasha Banjarbaru. Penelitian menggunakan pendekatan deskriptif kuantitatif dengan dukungan data kualitatif, melibatkan enam anak dengan rentang usia 4–6 tahun sebagai subjek penelitian. Data dikumpulkan melalui observasi terstruktur menggunakan instrumen checklist perkembangan anak dan dokumentasi kegiatan pembelajaran. Data observasi dianalisis secara deskriptif kuantitatif melalui penghitungan skor rata-rata dan persentase capaian per aspek perkembangan, didukung deskripsi kualitatif untuk menjelaskan pola dan dinamika perkembangan anak. Hasil penelitian menunjukkan bahwa pembelajaran kontekstual berbasis lahan basah mampu menstimulasi perkembangan anak secara holistik dengan rata-rata skor keseluruhan sebesar 2,99 (skala 4) dan 64% total penilaian berada pada kategori Berkembang Sesuai Harapan (BSH) dan Berkembang Sangat Baik (BSB). Rincian capaian skor per aspek perkembangan meliputi: motorik halus (3,67), sosial-emosional (3,33), Nilai Agama dan Moral/NAM (3,17), kognitif (2,93), bahasa (2,83), serta kreativitas (2,00). Aspek motorik halus dan sosial-emosional menunjukkan perkembangan yang paling optimal, sementara aspek kreativitas memerlukan stimulasi yang lebih berkelanjutan dan terstruktur. Kegiatan eksplorasi lingkungan mengindikasikan potensi keberhasilan dalam memberikan kesempatan kepada anak untuk membangun pengetahuan melalui interaksi langsung dengan objek konkret, meningkatkan keterlibatan aktif, serta mengembangkan kemampuan sosial melalui interaksi dengan teman sebaya dan guru. Dengan demikian, pemanfaatan lingkungan lahan basah sebagai sumber belajar kontekstual menunjukkan potensi sebagai strategi yang efektif dalam mendukung perkembangan anak usia dini secara holistik sekaligus memperkuat relevansi pembelajaran dengan lingkungan lokal Kalimantan Selatan.