p-Index From 2021 - 2026
0.778
P-Index
This Author published in this journals
All Journal Karimah Tauhid
Claim Missing Document
Check
Articles

Found 4 Documents
Search

Pendampingan dan Pemberdayaan UMKM melalui Edukasi Digitalisasi Administrasi Usaha dan Pembuatan Nomor Induk Berusaha (NIB) sebagai Upaya Peningkatan Legalitas di Desa Banjarwangi Deni Hendarto; Ibnu Zikra Rahman; Refal Maulana Fadillah; Herdiansyah; Muhammad Izra Pratama; Siti Amelia Fauziah; Nazwa Kamila; Deni Ardhika Badrudin; Nazwa Khaerul Nissa; Mutiara Az Zhari Wijaya
Karimah Tauhid Vol. 4 No. 10 (2025): Karimah Tauhid
Publisher : Universitas Djuanda

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.30997/karimahtauhid.v4i10.21502

Abstract

Usaha Mikro Kecil dan Menengah (UMKM) berperan penting dalam perekonomian nasional, namun masih banyak pelaku usaha yang menghadapi kendala dalam memperoleh Nomor Induk Berusaha (NIB) dan sertifikat halal. Penelitian ini bertujuan untuk mendeskripsikan proses pendampingan pembuatan NIB, mengidentifikasi tantangan sertifikasi halal, serta mengevaluasi kontribusi program Kuliah Kerja Nyata (KKN) dalam meningkatkan legalitas usaha di Desa Banjarwangi. Metode penelitian menggunakan pendekatan kualitatif dengan desain studi kasus. Informan terdiri dari pelaku UMK, petugas instansi terkait, dan konsumen, yang dipilih melalui teknik purposive dan snowball sampling. Data dikumpulkan melalui wawancara mendalam, observasi, dan studi dokumen, kemudian dianalisis menggunakan teknik analisis tematik. Hasil penelitian menunjukkan bahwa pengurusan NIB relatif lebih mudah melalui sistem OSS, namun masih terkendala oleh keterbatasan literasi digital, terutama pada pelaku usaha berusia lanjut. Sebaliknya, sertifikasi halal dianggap lebih kompleks karena membutuhkan dokumen bahan baku, penerapan standar higienitas, serta biaya tambahan. Meski demikian, keberadaan NIB dan sertifikat halal terbukti meningkatkan kepercayaan konsumen, memperluas akses pasar, dan memberikan legitimasi formal yang mendukung keberlanjutan usaha. Kesimpulannya, program pendampingan KKN berperan penting dalam mempercepat legalisasi usaha, meskipun masih dibutuhkan dukungan pemerintah berupa pelatihan literasi digital, sosialisasi, dan subsidi biaya untuk memperkuat ekosistem ekonomi halal di tingkat desa.
Evaluasi Program Hygritech (Hydroponic Agricultural Technology) HIMATIP sebagai Model Edukasi bagi Kelompok Wanita Tani (KWT) Deni Hendarto; Refal Maulana Fadillah; Ibnu Zikra Rahman; Herdiansyah; Muhammad Izra Pratama; Siti Amelia Fauziah; Nazwa Kamila; Deni Ardhika Badrudin; Nazwa Khaerul Nissa; Mutiara Az-zhari Wijaya; Muhammad Abu Ridho Abdul Haq; M Rizki Rianto; Wildan Saputra
Karimah Tauhid Vol. 4 No. 11 (2025): Karimah Tauhid
Publisher : Universitas Djuanda

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.30997/karimahtauhid.v4i11.21890

Abstract

Program Hygritech (Hydroponic Agricultural Technology) merupakan inisiatif yang dikembangkan oleh Himpunan Mahasiswa Teknologi Industri Pertanian (HIMATIP) sebagai bentuk pengabdian kepada masyarakat dalam memperkenalkan sistem pertanian modern berbasis hidroponik. Penelitian ini bertujuan untuk mengevaluasi efektivitas Program Hygritech sebagai model edukasi dan pemberdayaan bagi Kelompok Wanita Tani (KWT) Mekarwangi Sejahtera dalam meningkatkan pengetahuan, keterampilan, dan motivasi terhadap penerapan teknologi pertanian modern. Metode yang digunakan adalah kualitatif deskriptif dengan teknik pengumpulan data melalui wawancara, observasi, dokumentasi, dan kuesioner yang disebarkan kepada 20 anggota KWT peserta pelatihan. Hasil penelitian menunjukkan bahwa 88% peserta mengalami peningkatan pemahaman mengenai teknik hidroponik, terutama dalam aspek efisiensi air, pengelolaan nutrisi, dan sistem Nutrient Film Technique (NFT), serta 80% peserta mampu mengoperasikan instalasi hidroponik sederhana secara mandiri. Selain peningkatan keterampilan teknis, program ini juga berdampak positif secara sosial dan ekonomi, di mana beberapa anggota KWT mulai memanfaatkan hasil panen hidroponik sebagai komoditas bernilai jual dan memperkuat kerja sama antaranggota kelompok. Dengan demikian, Program Hygritech HIMATIP terbukti efektif dalam meningkatkan kapasitas teknis, memperkuat kemandirian ekonomi, serta mendorong partisipasi aktif perempuan dalam penerapan pertanian modern berbasis teknologi. Program ini layak direplikasi di wilayah lain dengan dukungan kolaboratif antara lembaga pendidikan, pemerintah, dan masyarakat.
Analisis Penetapan Lokasi industri pada Pengolahan Kakao menjadi Cokelat Batangan Herdiansyah; Delfitriani
Karimah Tauhid Vol. 5 No. 8 (2026): Karimah Tauhid (In Progress)
Publisher : Universitas Djuanda

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.30997/karimahtauhid.v5i8.25348

Abstract

Industri pengolahan kakao memiliki peran penting dalam meningkatkan nilai tambah komoditas perkebunan di Indonesia. Proses pengolahan kakao menjadi cokelat batangan memerlukan tahapan produksi yang terstruktur agar diperoleh produk dengan mutu yang baik dari segi rasa, aroma, dan tekstur. Penelitian ini bertujuan untuk mendeskripsikan tahapan pengolahan kakao menjadi cokelat batangan serta menentukan alternatif lokasi industri terbaik menggunakan metode Multi Factor Evaluation Process (MPE) dan Bayes. Metode yang digunakan berupa studi literatur dan analisis kuantitatif berdasarkan beberapa faktor penilaian lokasi, yaitu bahan baku, transportasi, tenaga kerja, biaya lahan, dan pasar. Alternatif lokasi yang dianalisis meliputi Sulawesi Tengah, Jawa Timur, dan Sumatera Utara. Hasil analisis menunjukkan bahwa pada metode MPE, Sulawesi Tengah memperoleh nilai tertinggi sebesar 81,75 sehingga dinilai paling unggul berdasarkan ketersediaan bahan baku dan biaya lahan. Sementara itu, metode Bayes menunjukkan bahwa Sumatera Utara memperoleh nilai tertinggi sebesar 12,58 karena memiliki keseimbangan yang lebih baik pada seluruh faktor penilaian. Selain itu, proses pengolahan kakao juga mengalami penyusutan massa sekitar 1% pada setiap tahapan akibat penguapan air, hilangnya senyawa volatil, serta bahan yang tertinggal pada alat produksi. Dengan demikian, pemilihan lokasi industri dan pengendalian proses produksi menjadi faktor penting dalam menunjang efisiensi dan kualitas produk cokelat.
Review Pengendalian Mutu : Analisis Strategis Pengendalian Mutu Produksi pada Agroindustri Pangan dalam Perspektif Manajemen Mutu Total Herdiansyah; Raden Siti Nurlaela; Distya Riski Hapsari
Karimah Tauhid Vol. 5 No. 8 (2026): Karimah Tauhid (In Progress)
Publisher : Universitas Djuanda

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.30997/karimahtauhid.v5i8.25493

Abstract

Pengendalian mutu merupakan instrumen strategis dalam pengembangan agroindustri pangan karena berkaitan langsung dengan kepuasan konsumen, efisiensi biaya, dan keberlanjutan pasar. Komoditas pangan memiliki sifat mudah rusak, sehingga memerlukan penanganan terintegrasi dari hulu ke hilir. Artikel ini bertujuan untuk mengkaji sistem pengendalian mutu pada berbagai rantai produksi pangan lokal, mengidentifikasi titik kritis rekayasa proses, serta merumuskan rekomendasi perbaikan berbasis Total Quality Management (TQM). Penelitian ini menggunakan metode studi pustaka kualitatif deskriptif terhadap draf publikasi penelitian nasional dan materi pendukung manajemen mutu terpadu. Data dikumpulkan secara sistematis dan dianalisis melalui pendekatan deskriptif komparatif. Hasil kajian menunjukkan bahwa titik kritis hulu berpusat pada konsistensi pasokan bahan baku komoditas (Nurlaela, 2020), yang jika diabaikan akan memicu pembengkakan biaya akibat pengerjaan ulang (rework) dan pemborosan kapasitas mesin (Nurlaela dkk., 2024). Pada tahapan proses, intervensi teknologi seperti penggunaan oven mampu menstabilkan karakteristik fisikokimia tepung cabai rawit merah (Nurlaela dkk., 2023), sementara aplikasi asap cair dan kitosan efektif menekan kontaminasi mikroba pada produk bakso sapi tanpa merusak citra rasa asli (Nurlaela dkk., 2022). Dari perspektif green industry, limbah kulit buah kakao terbukti memiliki nilai tambah tinggi melalui ekstraksi selulosa (Nurlaela dan Mellya, 2021). Kesimpulannya, pengadopsian karakteristik TQM seperti keterlibatan aktif kerja tim dan kontrol berbasis data sangat krusial untuk mengeliminasi biaya cacat produksi dan membangun budaya mutu pangan berdaya saing global.