Claim Missing Document
Check
Articles

Found 2 Documents
Search

Pembinaan Pemuda Kampung Yongsu Desoyo Dalam Pemanfaatan Sampah Organik dan Ampas Sagu Menjadi Pupuk Bokashi Yulius Gae Lada; Paulus Mandibondibo; Frank Leonard Apituley; Amadion Andika Wanaputra; Silvans Tande Bura
Jompa Abdi: Jurnal Pengabdian Masyarakat Vol. 5 No. 1 (2026): Jompa Abdi: Jurnal Pengabdian Masyarakat
Publisher : Yayasan Jompa Research and Development

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.57218/jompaabdi.v5i1.2638

Abstract

Kampung Yongsu Desoyo memiliki potensi hortikultura melimpah di kaki Gunung Cycloop, namun pengembangannya terhambat oleh aksesibilitas yang hanya dapat dijangkau melalui jalur laut. Ketergantungan pada pupuk kimia dari kota menjadi kendala utama karena harga pupuk yang mahal dan biaya transportasi perahu motor yang tinggi. Selama ini, petani hanya mengandalkan proses pelapukan alami dari sisa pangkasan tanaman dan limbah organik, namun cara ini dinilai kurang efektif karena proses dekomposisi yang lama dan risiko penumpukan sampah lingkungan. Selain itu, limbah ampas sagu yang melimpah di dusun sekitar juga belum dimanfaatkan secara optimal. Kegiatan Pengabdian kepada Masyarakat (PkM) ini bertujuan untuk meningkatkan pengetahuan dan keterampilan pemuda kampung dalam mengolah limbah organik rumah tangga, sisa pangkasan tanaman, dan ampas sagu menjadi pupuk bokashi. Metode yang digunakan adalah pelatihan partisipatif melalui demonstrasi plot dan pendampingan teknis. Pemuda dilatih mengolah berbagai biomassa lokal tersebut menggunakan aktivator organik berupa EM4 untuk mempercepat proses fermentasi. Hasil kegiatan menunjukkan adanya peningkatan pemahaman mitra mengenai teknik budidaya intensif dan manajemen limbah. Pemanfaatan sampah organik dari rumah tangga, sisa pangkasan dari tanaman di sekitar dan ampas sagu menjadi pupuk bokashi terbukti efektif menyediakan nutrisi bagi tanaman buah seperti rambutan, pete, pisang, pinang, durian tanpa harus bergantung pada input atau pasokan pupuk kimia dari luar kampung. Kesimpulannya, pembinaan ini berhasil menciptakan kemandirian pupuk, mengurangi beban limbah lingkungan, dan memberdayakan pemuda sebagai aktor penggerak pertanian berkelanjutan yang adaptif terhadap kondisi geografis wilayah pesisir.
Dekolonisasi Ekonomi dan Konservasi Hutan Berbasis Adat dalam Kosmologi Ekologis Masyarakat Tepera di Distrik Ravenirara Kabupaten Jayapura Efraim Mangaluk; Yulius Gae Lada; Paulus Mandibondibo; Frank Leonardo Apituley; Amadion Andika Wanaputra; Silvans Tande Bura
Jurnal Noken: Ilmu-Ilmu Sosial Vol. 12 No. 1 (2026): Juni 2026
Publisher : Universitas Muhammadiyah Sorong

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.33506/jn.v12i1.5581

Abstract

The ecological crisis of the Anthropocene demands a re-evaluation of the technocratic conservation paradigm, which tends to subordinate the ontologies of Indigenous peoples. This study aims to reconstruct the ecological cosmology of the Tepera indigenous community in Yongsu Desoyo Village, Ravenirara District, Jayapura Regency, and to formulate a model of economic decolonization grounded in local wisdom. Employing a critical ethnographic approach through in-depth interviews with customary leaders and participant observation, the research is framed by Habermasian Modernity theory and a Critical-Practical Policy perspective. The findings reveal three principal results. First, the philosophy of Bu Suwe Kani Suwe (The Power of Water is the Power of Land) articulates a triadic water-land-tree paradigm that constitutes the ontological foundation of pre-colonial conservation practices, while the concept of Desoyo as "I am the Village Sprout" affirms that customary sovereignty is rooted in the ancestral ethnoecological verification protocols. Second, the "Sago Tree" metaphor functions as a socio-political mechanism of resilience that positions customary leadership as a source of equitable livelihood distribution. Third, the 2019 flash flood exemplifies the colonization of the lifeworld by system logic, generating a twofold vulnerability of ecological degradation and economic precarity. This study proposes a "government-as-distributor" model to sever dependency on extractive economies, while advocating the integration of customary law into public policy to facilitate Yongsu Desoyo's transition toward Customary Village (Kampung Adat) status.