A. Tien Asmara Palintan
Pendidikan Islam Anak Usia Dini, Institut Agama Islam Negeri Parepare

Published : 1 Documents Claim Missing Document
Claim Missing Document
Check
Articles

Found 1 Documents
Search

Pengembangan Kartu Seri Bergambar dalam Meningkatkan Kemampuan Bahasa Reseptif Pada usia 5-6 tahun Luvitha Sari; Novita Ashari; Sri Mulianah; A. Tien Asmara Palintan
Jurnal Obsesi : Jurnal Pendidikan Anak Usia Dini Vol. 10 No. 4 (2026): in Progress
Publisher : LPPM Universitas Pahlawan Tuanku Tambusai

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.31004/obsesi.v10i4.8650

Abstract

Kemampuan bahasa reseptif anak usia dini masih menjadi tantangan dalam pembelajaran, khususnya dalam memahami alur cerita, menangkap pesan, dan mengikuti instruksi yang disampaikan melalui media pembelajaran. Penelitian terdahulu umumnya berfokus pada penggunaan media digital atau permainan tertentu, sedangkan pengembangan media konkret berbasis kearifan lokal untuk meningkatkan kemampuan bahasa reseptif masih relatif terbatas. Penelitian ini bertujuan mengembangkan media kartu seri bergambar berbasis dongeng cerita rakyat Parepare untuk meningkatkan kemampuan bahasa reseptif anak usia 5–6 tahun. Penelitian menggunakan metode Research and Development (R&D) model Borg & Gall dengan melibatkan 20 peserta didik yang dipilih melalui teknik purposive sampling. Data dikumpulkan melalui observasi, wawancara, dokumentasi, angket validasi ahli materi dan ahli media, angket respon guru, serta tes kemampuan bahasa reseptif anak. Hasil penelitian menunjukkan bahwa media yang dikembangkan memperoleh tingkat validitas sebesar 84,75% (sangat baik), kepraktisan sebesar 93,33% (sangat baik), dan keefektifan sebesar 72,08% (baik), dengan rata-rata keseluruhan sebesar 83,39% yang termasuk kategori sangat baik. Temuan ini menunjukkan bahwa media kartu seri bergambar berbasis cerita rakyat lokal valid, praktis, dan efektif digunakan untuk meningkatkan kemampuan bahasa reseptif anak usia dini. Secara praktis, media ini dapat menjadi alternatif bagi guru dalam menyediakan pembelajaran bahasa yang lebih interaktif, kontekstual, dan berorientasi pada pelestarian budaya lokal.