Abrasi pantai parah di Kecamatan Sayung, Kabupaten Demak, telah menurunkan produktivitas tambak secara signifikan, memaksa masyarakat pesisir beradaptasi ekonomi radikal, beralih dari budidaya bandeng tradisional ke kerang hijau. Penelitian ini bertujuan menganalisis dan membandingkan rata-rata produksi, biaya, pendapatan, serta tingkat efisiensi budidaya antara tambak bandeng dan kerang hijau sebagai strategi adaptasi di daerah terdampak abrasi. Penelitian ini menggunakan metode deskriptif-analitis dengan pendekatan kuantitatif. Lokasi dipilih sengaja di Desa Sriwulan, Bedono, dan Timbulsloko, melibatkan 60 responden terbagi rata menjadi 30 petambak bandeng dan 30 pembudidaya kerang hijau. Analisis data meliputi perhitungan biaya, pendapatan, penghasilan, serta analisis efisiensi menggunakan Rasio Pendapatan/Biaya (R/C) dan Data Envelopment Analysis (DEA) model Variable Returns to Scale (VRS), dilengkapi Independent Samples T-Test. Hasil menunjukkan budidaya kerang hijau berkinerja lebih baik daripada bandeng, mencapai produksi rata-rata 3.623 kg per unit, total biaya Rp10.427.680, dan pendapatan Rp25.412.362,50, dibanding produksi bandeng 1.320 kg, biaya Rp19.332.691, serta pendapatan Rp17.162.633,33. Secara ekonomi, budidaya kerang hijau lebih efisien dengan Rasio R/C sebesar 3,7543 dibandingkan 1,8317 untuk bandeng. Secara teknis, pembudidaya kerang hijau mencapai skor efisiensi lebih tinggi (0,78003) daripada petambak bandeng (0,51427). Perbedaan efisiensi ini signifikan secara statistik, meskipun pendapatan individu tetap sebanding. Kesimpulannya, budidaya kerang hijau berfungsi sebagai strategi adaptasi yang lebih efisien dan menguntungkan. Disarankan agar petambak bandeng mengevaluasi input tenaga kerja eksternal guna mengurangi inefisiensi, sementara pemerintah harus mendorong transformasi bisnis melalui kebijakan pesisir adaptif.