Claim Missing Document
Check
Articles

Found 2 Documents
Search

Development of Fine Motor Skills in Early Childhood Through Beading Activities at Imanuel Christian Preschool Palangka Raya Resa Agustina; Wirastiani Binti Yusuf; Agus Sutrisno Muljono
Jurnal Indonesia Sosial Sains Vol. 7 No. 7 (2026): Jurnal Indonesia Sosial Sains
Publisher : CV. Publikasi Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.59141/jiss.v7i7.2449

Abstract

Fine motor development is an essential aspect of early childhood growth because it supports children's ability to control hand and finger movements, coordinate eye and hand movements, and perform daily activities independently. However, learning practices at Imanuel Christian Kindergarten Palangka Raya still show limitations in providing varied and stimulating activities, causing some children to experience difficulties in precision, coordination, and concentration. This study aims to describe the development of fine motor skills in early childhood and analyze the implementation of beading activities (meronce) as a learning strategy to stimulate fine motor development at Imanuel Christian Kindergarten Palangka Raya. This study employed a qualitative descriptive approach. Data were collected through non-participant observation, semi-structured interviews, and documentation involving one classroom teacher and children aged 5–6 years. Data analysis was conducted using the Miles and Huberman model, consisting of data reduction, data presentation, and conclusion verification. The results showed that beading activities contributed positively to children's fine motor development. Through five learning meetings with different themes, children demonstrated gradual improvements in eye-hand coordination, finger flexibility, accuracy, concentration, creativity, and independence. The implementation of beading activities was carried out systematically through preparation, teacher demonstration, children’s practice, and evaluation. Supporting factors included teacher guidance, attractive learning materials, and children's motivation, while inhibiting factors involved differences in children's initial abilities and concentration levels. In conclusion, beading activities are effective as a meaningful and enjoyable learning medium for stimulating fine motor development in early childhood. This activity is recommended as an alternative learning strategy to support children's developmental needs.
Aktivitas Menggambar dalam Mengembangkan Kecerdasan Visual Spasial Anak Usia 5–6 Tahun di TK Nanda Palangka Raya Dea Dea; Yoan Colina; Agus Sutrisno Muljono
Jurnal sosial dan sains Vol. 6 No. 8 (2026): Jurnal Sosial dan Sains
Publisher : Green Publisher Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.59188/jurnalsosains.v6i8.32773

Abstract

Kecerdasan visual spasial merupakan aspek fundamental dalam perkembangan kognitif anak usia dini yang berperan penting dalam kemampuan memahami konsep bentuk, warna, ukuran, arah, posisi, dan hubungan antarobjek. Namun demikian, pengembangannya masih belum mendapat perhatian memadai dalam praktik pembelajaran PAUD yang cenderung berorientasi pada kemampuan akademik dasar. Kondisi serupa ditemukan di TK Nanda Palangka Raya, di mana sebagian anak kelompok B usia 5-6 tahun masih mengalami kesulitan mengenal konsep ruang. Penelitian ini bertujuan mendeskripsikan pelaksanaan aktivitas menggambar dalam mengembangkan kecerdasan visual spasial anak usia 5-6 tahun serta mengidentifikasi faktor pendukung dan penghambatnya. Penelitian menggunakan pendekatan kualitatif deskriptif dengan subjek satu guru dan 15 anak kelompok B. Data dikumpulkan melalui observasi partisipan moderat, wawancara mendalam, dan dokumentasi. Analisis data menggunakan model Miles, Huberman, dan Saldaña. Keabsahan data diuji melalui triangulasi Teknik. Aktivitas menggambar dilaksanakan secara sistematis melalui tiga metode, yaitu menggambar bebas, meniru contoh, dan menggambar sesuai tema, yang menstimulasi pengenalan bentuk, warna, ukuran, arah, posisi, dan hubungan antarobjek. Faktor pendukung meliputi kompetensi guru, ketersediaan media, lingkungan kondusif, dukungan orang tua, dan antusiasme anak. Faktor penghambat meliputi perbedaan kemampuan anak, konsentrasi yang belum stabil, dan pencahayaan kelas yang kurang optimal. Aktivitas menggambar terbukti efektif mengembangkan kecerdasan visual spasial anak usia 5-6 tahun di TK Nanda Palangka Raya.  Penelitian ini memberikan kontribusi teoretis berupa pengayaan implementasi teori kecerdasan majemuk Gardner dalam PAUD serta kontribusi praktis berupa rekomendasi bagi guru dan lembaga PAUD dalam merancang kegiatan menggambar yang lebih efektif. Guru disarankan mengembangkan variasi kegiatan menggambar dengan pendampingan yang disesuaikan kemampuan anak. Peneliti selanjutnya disarankan mengkaji pengembangan kecerdasan visual spasial melalui media atau kegiatan lain dengan subjek dan pendekatan lebih luas.