Claim Missing Document
Check
Articles

Found 2 Documents
Search

Relevansi Konsep Significant Economic Presence Terhadap Reformasi Pajak Digital Indonesia Pasca Undang-Undang Harmonisasi Peraturan Perpajakan Abd. Rahman; Alvina Priya Amanda; Sakila Sahra; Muh. Reyham; Ahmad Mundzir Aiyman
Journal of Citizenship Volume 5, Issue 2, 2026
Publisher : HK Publishing

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.37950/joc.v5i2.767

Abstract

Perkembangan ekonomi digital menimbulkan tantangan terhadap sistem perpajakan internasional yang selama ini bertumpu pada konsep kehadiran fisik (physical presence) sebagai dasar pengenaan pajak. Kondisi tersebut mendorong munculnya konsep Significant Economic Presence (SEP) sebagai alternatif nexus perpajakan bagi perusahaan digital yang memperoleh keuntungan dari suatu negara tanpa kehadiran fisik yang memadai. Meskipun berbagai penelitian telah membahas pemajakan ekonomi digital dan OECD Pillar One, kajian mengenai relevansi SEP dalam reformasi pajak digital Indonesia pasca berlakunya Undang-Undang Nomor 7 Tahun 2021 tentang Harmonisasi Peraturan Perpajakan (UU HPP) masih terbatas. Penelitian ini bertujuan menganalisis pengaturan SEP dalam sistem hukum perpajakan Indonesia serta mengkaji relevansinya dalam reformasi pajak digital nasional. Penelitian ini menggunakan metode hukum normatif dengan pendekatan perundang-undangan, konseptual, dan perbandingan. Hasil penelitian menunjukkan bahwa Indonesia telah mengadopsi SEP sebagai bentuk penyesuaian terhadap perkembangan ekonomi digital dan upaya memperluas hak pemajakan negara. SEP relevan dalam mendukung reformasi pajak digital karena mampu mengatasi keterbatasan konsep Bentuk Usaha Tetap (BUT), memperkuat keadilan pajak, melindungi hak pemajakan negara pasar, dan memperluas basis pajak nasional. Namun, implementasinya masih menghadapi tantangan berupa keberadaan Perjanjian Penghindaran Pajak Berganda (P3B), ketidakjelasan parameter SEP, keterbatasan akses data digital, serta perkembangan OECD Pillar One. Penelitian ini berkontribusi secara teoretis dengan memperkuat konsep economic presence sebagai dasar nexus perpajakan digital dan secara praktis menegaskan pentingnya harmonisasi regulasi nasional dan internasional untuk mendukung reformasi pajak digital Indonesia. Kata Kunci: Significant Economic Presence; pajak digital; reformasi perpajakan; UU HPP; OECD Pillar One.
PEMANFAATAN KAYU KELAPA SEBAGAI BAHAN STUP LEBAH TANPA SENGAT Iswara Gautama; Budiaman Budiaman; Baharuddin Baharuddin; Andi Prastiyo; Usman Arsyad; Abd. Rahman; Ririn Dwi Hariyanti; Niswatul Azizah; A. Abdillah Abulkhai; Andi Arham Badri Syah; Muhammad Asyam AR
Community Development Journal : Jurnal Pengabdian Masyarakat Vol. 7 No. 5 (2026): Vol. 7 No. 5 (2026)
Publisher : Universitas Pahlawan Tuanku Tambusai

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.31004/cdj.v7i5.62110

Abstract

Budidaya lebah tanpa sengat (Trigona) merupakan salah satu alternatif usaha berbasis hasil hutan bukan kayu yang memiliki nilai ekonomi sekaligus mendukung jasa penyerbukan tanaman. Namun, masyarakat Desa Kalepadang, Kabupaten Kepulauan Selayar, masih memiliki keterbatasan pengetahuan dan keterampilan dalam budidaya lebah Trigona serta pemanfaatan kayu kelapa sebagai bahan pembuatan stup. Kegiatan pengabdian ini bertujuan meningkatkan kapasitas masyarakat melalui penyuluhan dan pelatihan budidaya lebah Trigona berbasis pemanfaatan kayu kelapa sebagai bahan stup. Pelaksanaan kegiatan ini dilakukan pada bulan Juli 2026, dengan metode partisipatif melalui tahapan pre-test, sosialisasi, pelatihan dan praktik pembuatan stup, pemindahan koloni, penanaman bibit santos lemon sebagai tanaman pakan lebah, serta monitoring dan evaluasi. Hasil kegiatan menunjukkan adanya peningkatan pengetahuan peserta pada seluruh indikator budidaya lebah Trigona, antara lain pengetahuan tentang budidaya meningkat dari 50% menjadi 80%, pengetahuan tentang pakan utama lebah meningkat dari 20% menjadi 80%, dan pengetahuan tentang nilai jual madu meningkat dari 20% menjadi 70%. Pada aspek pemanfaatan kayu kelapa sebagai stup, pengetahuan mengenai fungsi kotak sarang meningkat dari 10% menjadi 80%, sedangkan pengetahuan tentang penggunaan kayu kelapa sebagai bahan stup meningkat dari 20% menjadi 70%. Selain itu, peserta mampu mempraktikkan pembuatan stup, pemindahan koloni, dan penanaman tanaman pakan lebah. Kegiatan ini berkontribusi dalam meningkatkan pengetahuan, keterampilan, dan kemandirian masyarakat melalui pembelajaran berbasis praktik serta mendorong pemanfaatan sumber daya lokal sebagai upaya budidaya lebah Trigona yang berkelanjutan.