Masa remaja merupakan fase perkembangan yang ditandai dengan pencarian identitas (identity versus role confusion) sehingga individu rentan mengalami berbagai konflik sosial dan psikologis. Lingkungan pesantren sebagai institusi pendidikan Islam memiliki peran strategis dalam membentuk identitas santri melalui internalisasi nilai-nilai keislaman yang berorientasi pada kasih sayang (love induction). Penelitian ini bertujuan menganalisis implementasi pendidikan berbasis cinta dalam membangun identitas santri remaja melalui pengalaman sosial, penyelesaian konflik, dan internalisasi nilai-nilai Islam di lingkungan pesantren. Penelitian menggunakan pendekatan kualitatif dengan metode studi kasus. Data diperoleh melalui pertanyaan terbuka terhadap 56 santri remaja berusia 13–15 tahun di salah satu pondok pesantren di Kabupaten Majalengka. Analisis data dilakukan menggunakan analisis tematik melalui proses reduksi data, pengkodean, kategorisasi, dan penarikan tema-tema utama. Hasil penelitian menunjukkan bahwa konflik sosial yang dialami santri, seperti perundungan, pengucilan, kehilangan barang, ketidakadilan, dan konflik pertemanan, menjadi bagian dari dinamika pembentukan identitas remaja. Implementasi pendidikan berbasis cinta tercermin melalui penanaman nilai kesabaran, empati, musyawarah, ukhuwah, tolong-menolong, memaafkan, serta penguatan spiritual melalui ibadah, zikir, dan membaca Al-Qur'an sebagai strategi regulasi emosi. Nilai-nilai tersebut berkontribusi dalam membentuk identitas santri yang lebih adaptif, resilien, dan berkepribadian Islami. Penelitian ini menegaskan bahwa love induction tidak hanya berfungsi sebagai pendekatan pedagogis, tetapi juga sebagai mekanisme psikologis yang membantu santri melewati fase krisis identitas secara konstruktif. Temuan ini memperkuat urgensi implementasi Pendidikan Berbasis Cinta sebagai pendekatan pendidikan karakter dalam lingkungan pesantren dan madrasah.