Claim Missing Document
Check
Articles

Found 2 Documents
Search

Environmental Crisis as Moral Failure: An Ecotheological Reading of An Nabulsi's Qur'anic Exegesis Asep Ahmad Arsyul Munir
Proceeding ISETH (International Summit on Science, Technology, and Humanity) 2025: Proceeding ISETH (International Summit on Science, Technology, and Humanity)
Publisher : Universitas Muhammadiyah Surakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

The global environmental crisis has predominantly been framed as a technical problem demanding scientific solutions, managerial interventions, and green technologies, while the ethical dimension shaping human-nature relations remains marginalized in analytical discourse. This approach leaves fundamental questions unresolved, as ecological degradation persists despite advances in technological innovation and environmental policy. This article proposes an alternative reading by positioning the environmental crisis as a moral-civilizational failure through an ecotheological study of Muhammad Ratib An Nabulsi's Qur'anic exegesis. Employing a qualitative hermeneutic approach with thematic analysis, environmentally-themed Qur'anic verses are read constellatively alongside An Nabulsi's interpretations to reveal a value structure linking faith, stewardship (amanah), balance, and ecological responsibility. This reading demonstrates that within An Nabulsi's exegesis, environmental destruction is understood as carrying spiritual consequences stemming from distorted human life orientations— particularly through consumerism, excess (isrāf), and the erosion of moral boundaries. Nature becomes positioned as a space of ethical accountability reflecting the quality of faith and civilizational maturity. By establishing Islamic ecotheology as a framework of religious ethics, this article offers theoretical contributions to contemporary environmental ethics discourse, specifically in responding to the global ecological crisis amid technological acceleration, instrumental rationality, and modern civilizational transformation.
KONSTRUKSI ASAS MENS REA DALAM TINDAK PIDANA PENGGELAPAN: ANALISIS PUTUSAN PENGADILAN NEGERI TASIKMALAYA NOMOR 304/PID.B/2025/PN TSM Jurist Naufal; Asep Ahmad Arsyul Munir
Siyasyatuna | Jurnal Hukum Tata Negara Vol 8 No 2 (2026): September
Publisher : Program Studi Hukum Tata Negara

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.70143/gtez7026

Abstract

Penelitian ini dilatarbelakangi oleh pentingnya asas mens rea sebagai dasar pertanggungjawaban pidana yang menegaskan bahwa pemidanaan tidak hanya didasarkan pada perbuatan, tetapi juga pada kesalahan batin pelaku. Dalam praktik peradilan pidana di Indonesia, unsur mens rea sering kali tidak dikonstruksikan secara eksplisit dalam pertimbangan hakim, melainkan disimpulkan dari fakta persidangan. Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis konstruksi asas mens rea dalam Putusan Pengadilan Negeri Tasikmalaya Nomor 304/Pid.B/2025/PN Tsm, penerapan tindak pidana penggelapan menurut KUHP, serta kedudukannya dalam perspektif kepastian hukum dan negara hukum. Metode penelitian yang digunakan adalah yuridis normatif-empiris dengan pendekatan perundang-undangan, konseptual, dan kasus. Hasil penelitian menunjukkan bahwa Majelis Hakim telah menerapkan asas mens rea secara substansial melalui analisis pola tindakan terdakwa, rangkaian transaksi, dan penggunaan dana perusahaan untuk kepentingan pribadi. Namun demikian, konstruksi kesengajaan belum diuraikan secara eksplisit dan sistematis dalam pertimbangan hukum. Putusan tersebut secara umum telah mencerminkan prinsip due process of law dan asas legalitas, namun masih memerlukan penguatan argumentasi untuk mencapai kepastian hukum yang lebih substantif.