Septianti, Septianti
Institut Seni Indonesia Yogyakarta

Published : 8 Documents Claim Missing Document
Claim Missing Document
Check
Articles

Found 8 Documents
Search

KOSTUM PRAJURIT KRATON YOGYAKARTA KAJIAN PERAN DAN NILAI SIMBOLIK Septianti Septianti
Corak : Jurnal Seni Kriya Vol 7, No 2 (2018): NOVEMBER 2018
Publisher : Institut Seni Indonesia Yogyakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (813.426 KB) | DOI: 10.24821/corak.v7i2.2673

Abstract

Each country has a military device, but if other countries use it as a means of maintaining the sovereignty of the region and its people, but in Yogyakarta is different. Soldiers of the palace in Yogyakarta have a role as a completeness in the ceremonies and on other occasions made by the Palace. In addition it will discuss four soldiers who use lurik as the main ingredient in the costum that is, soldiers Patang, Jagakarya, Ketanggung, and Mantrijero. The four selected soldiers have similarities to the motives imposed despite having different attributes on each costume, whether there is a supporting color on the black or red costume. The method used qualitative method with descriptive approach. While the study used in the form of role values and symbolic theories that exist in the costume. The semiotics theory was to be used belongs to Charles S. Peirce. Semiotics has a definition as a study of signs, essentially a study of codes, ie any system that allows us to view certain entities as signs or as meaningful. Therefore, the value of symbols that can be picked from this costume the existence of cultural values that can not be separated, such as lurik which mutually forwarded again with other colors, the depiction of loyalty of the warrior with his master who do not get the existence of estrangement.Keywords: Costume, soldiers, Kraton Yogyakarta   Setiap negara memiliki perangkat militer, namun bila negara lain menggunakannya sebagai alat mempertahankan kedaulatan wilayah dan bangsanya, tapi di Yogyakarta berbeda. Prajurit kraton di sini memiliki peran sebagai suatu kelengkapan dalam upacara-upacara dan pada kesempatan lain yang dilakukan oleh Kraton .Selain hal itu nanti akan hanya  membahas  empat prajurit yang menggunakan lurik sebagai bahan utama dalam kostumnya yaitu, prajurit Patang puluh, Jagakarya, Ketanggung, dan Mantri jero. Keempat prajurit yang dipilih memiliki kesamaan akan  motif yang dikenakan walaupun memiliki atribut-atribut yang berbeda pada setiap kostumnya, baik ada yang memiliki warna pendukung pada kostum  hitam  maupun merah. Metode yang akan digunakan   metode kualitatif dengan pendekatan deskriptif. Sedangkan kajian yang akan digunakan berupa nilai peran dan teori simbolik yang ada pada kostumnya. Teori semiotika yang akan digunakan milik Charles S. Peirce. Semiotika memiliki definisi sebagai suatu kajian tanda-tanda, pada dasarnya merupakan sebuah studi atas kode-kode, yaitu sistem apapun yang memungkinkan kita memandang entitas-entitas tertentu sebagai tanda atau sebagai suatu yang bermakna. Maka dari itu nilai simbol yang dapat dipetik dari kostum ini adanya nilai budaya yang  tak lepas, seperti lurik yang saling diteruskan lagi dengan warna lain, penggambaran kesetiaan prajurit dengan tuannya yang jangan sampai akan adanya kerenggangan.Kata kunci: Kostum, prajurit, Kraton Yogyakarta
KATAK ANAK BERACUN SEBAGAI SUMBER IDE PENCIPTAAN BUSANA PESTA SIANG ANAK Septi Anti
Corak : Jurnal Seni Kriya Vol 9, No 1 (2020): MEI 2020
Publisher : Institut Seni Indonesia Yogyakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24821/corak.v9i1.4102

Abstract

 Frogs are one of the animals that are not liked by the general public, but the prestige of these animals is far from compared to other tetrapods. One of the poisonous dart frogs that will later become work ideas will be used as a form of child psychology or the idea that frogs are not disgusting or ugly creatures but have their own charm and introduce different types of frogs The embodiment of this work is to visualize the motif of poison dart frogs that will be translated into children's day party outfits. To realize this, it is also necessary to use several methods in the creation of works, which pay attention to the aesthetic value of fashion by taking into account the design, motifs, and the value of beauty in fashion, ergonomics which is the comfort of the child when using clothing and the semiotics of the markings on clothing. In creating this work, the 10 most dangerous poisonous dart frogs in its genus have striking and attractive colors when they see it. The coloring process itself uses naphtol and indigosol dyes. After carrying out all these processes, the process of embodying the work begins and results in children's day party outfits that are sourced from poisonous arrow frogs. Katak merupakan salah satu hewan yang tidak disukai oleh masyarakat umumnya, namun pamor hewan ini jauh dari dibandingkan tetrapoda lain. Salah Satunya katak anak panah beracun yang nantinya menjadi ide karya akan digunakan sebagai bentuk psikologi anak atau pemikiran bahwa katak bukan makhluk yang menjijikan maupun jelek namun memiliki daya tarik tersendiri dan memperkenalkan adanya jenis katak yang berbeda dengan lainya. Perwujudan karya ini berupa memvisualisasikan motif katak anak panah beracun yang akan diwujudkan ke dalam busana pesta siang anak.  Untuk mewujudkan hal tersebut juga perlu menggunakan beberapa metode dalam penciptaan karya, yang memperhatikan nilai estetika pada busana dengan memperhitungkan desain, motif, dan nilai keindahan pada busana, ergonomi yaitu kenyaman anak saat menggunakan busana dan semiotika nilai tanda yang ada pada busana. Dalam menciptakan karya ini menggunakan 10 jenis katak anak panah beracun yang paling berbahaya di genusnya yang memiliki warna-warna yang mencolok dan menarik saat melihatnya. Proses pewarnaanya sendiri menggunakan pewarna naphtol dan indigosol.  Setelah melakukan semua proses tersebut mulai melakukan proses perwujudan karya dan menghasilkan busana pesta siang anak yang bersumber ide dari katak anak panah beracun.
Kajian Bentuk, Fungsi, dan Makna Simbolik Motif Gurda pada Batik Larangan Yogyakarta Septianti Septianti
INVENSI (Jurnal Penciptaan dan Pengkajian Seni) Vol 5, No 1 (2020): Juni 2020
Publisher : Program Pascasarjana Institut Seni Indonesia Yogyakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (1065.131 KB) | DOI: 10.24821/invensi.v1i1.4125

Abstract

ABSTRAKMotif gurda merupakan ragam hias yang terbentuk dari refleksi kebudayaan kita, akan tetapi dalam pemahaman beberapa masyarakat Indonesia terhadap makna motif gurda yang berbeda, adanya perubahan makna konseptual. Beranjak dari hal tersebut penelitian ini bertujuan memberikan pengetahuan mengenai bentuk, fungsi, dan makna simbolik yang ada pada motif gurda pada batik larangan Yogyakarta. Metode yang digunakan dalam penelitian ini metode kualitatif deskriptif, dengan pendekatan multidisiplin, yaitu pendekatan estetika, pendekatan sejarah, dan pendekatan sosiologi. Hasil penelitian ini menunjukkan bentuk gurda yang bervariatif disebabkan oleh hasil penyelesaian dalam pembuatan pola gurda selain itu adanya deformasi dan stilisasi terhadap bentuknya, sementara perbedaan gurda Yogyakarta dengan daerah lain disebabkan adanya faktor internal dan eksternal yaitu sosial kultural. Pada fungsi gurda, perubahan fungsi dari gurda sebagai benda sakral, bentuk status sosial, dan perubahan menjadi komoditas industri. Pada analisis kosmologi yang ada pada motif gurda yang ada pada batik larangan Yogyakarta, gurda melambangkan dunia atas yaitu seseorang yang mengendalikan hidupnya dapat mencapai kebenaran yaitu termasuk dunia atas. Pada batik semen yang terdapat motif sawat ageng melambangkan kekuasaan, keperkasaan yang hanya dikenakan oleh raja, mengacu pada mitologi Hindu-Jawa garuda mewakili dari bentuk manusia.ABSTRACT Gurda motifs are a variety of decorations that are formed from the reflection of our culture, but in the understanding of some Indonesian people towards the different meanings of the Gurda motif, there is a change in conceptual meaning. Starting from this, this study aims to provide knowledge about the forms, functions, and symbolic meanings that exist in gurda motifs in larangan batik of Yogyakarta. The method used in this research is a descriptive qualitative method, with a multidisciplinary approach, namely the aesthetic approach, historical approach, and sociological approach. The results of this study address the varied forms of gurda caused by the results of completion in the making of gurda patterns besides the deformation and stylization of the shape, while the difference between Yogyakarta and other regions is due to internal and external factors, namely social and cultural. In the gurda function changes the function of the gurda as a sacred object, a form of social status, and change into industrial commodities. In the cosmological analysis of the existing motifs of gurda in larangan batik of Yogyakarta, gurda symbolizes the upper world, namely someone who controls his life can achieve the truth, including the upper world. In the cement batik there is a motif of Sawat Ageng symbolizing power, might that is only worn by the king, referring to the Hindu-Javanese mythology of Garuda representing the human form.
FENOMENA IDE GERAK PADA PENCIPTAAN SENI KRIYA KAYU SEPTIANTI SEPTIANTI
Harmoni: Jurnal Pemikiran Pendidikan, Penelitian Ilmu-ilmu Seni, Budaya dan Pengajarannya Vol 8, No 1 (2018): HARMONI
Publisher : Program Studi Pendidikan Seni Rupa Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan Universitas Muham

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Dalam seni kriya kayu, terdapat pekerjaan dengan tingkat dasar atau tingkat permulaan. Kayu sangat banyak dimanfaatkan dalam pembuatan berbagai benda kerajinan seperti patung, wayang golek, topeng, furnitur, dan hiasan ukir-ukiran.  Para seniman kayu mulai mengembangkan ide gerak dalam penciptaan karyanya. Ide gerak pada karya kayu ini merupakan benda yang bergerak menggunakan mesin maupun manual dengan penggunaan bahan berupa kayu sebagai media dalam proses penciptaanya. Dalam pengamatan ini dilakukan dengan teknik interpretasi sebagai cara untuk memperoleh informasi mengenai ide gerak selain hal tersebut dalam perkembangan seni kriya baik dulu maupun sekarang yang mengalami perubahan terhadap perkembangannya.
MENYESEJAHTERAKAN P3 DI DUSUN JREBENG PADA MASA PANDEMI COVID-19 (PENDIDIKAN, PANGAN, DAN PENGELOLAHAN LIMBAH) Septianti, Septianti; Damayanti, Fira Dwi; Qoriah, Eka Nur; Cholis, Muhammad Nur
Batoboh Vol 7, No 1 (2022): BATOBOH : JURNAL PENGABDIAN PADA MASYARAKAT
Publisher : Institut Seni Indonesia Padangpanjang

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.26887/bt.v7i1.2506

Abstract

Dusun Jrebeng merupakan desa Sidomulyo suatu kelurahan berada di kecamatan Krian, Sidoarjo Jawa Timur. Kelompok kami melakukan observasi daerah ini mengamati adanya suatu masalah yang terjadi di TPQ Nurul Jannah. TPQ Nurul Jannah mengalami kesulitan dalam proses pembelajaran selama pandemi. Selain mengamati hal tersebut, kami juga melihat adanya bahan kain percah yang tidak digunakan dan adanya UMKM yang belum memiliki merek dalam pemasaran produknya. Tujuan dalam pengabdian ini yaitu untuk membantu mengembangkan pembelajaran melalui media daring dan diadakan menyuluhan akan pentingnya prokol kesehatan selama pandemi covid-19. Selain itu meningkatkan perkonomian melalui pemanfaat bahan percah dan adanya pembuatan brand pada UMKM yang ada di desa Sidomulyo. Dalam proses pengabdian ini dilakukan tahapan dalam pelaksanaannya yaitu dengan melakukan 1). Perencanaan yaitu dengan melakukan observasi dan mengamati pemasalahan yang ada, 2) pelaksanaan dilakukan dengan menyusun program dan mulai melakukan program yang telah direncanakan, dan 3) evalusi, yaitu melakukan evaluasi atas program yang dilaksanakan. Sementara hasil dari program pengabdian ini berupa pembuatan e-learning untuk proses mengajar di TPQ Nurul Jannah dan pembuatan tempat cuci tangan sertta poster mengenai protokol kesehatan. Proses pembuatan kerajianan dengan menggunakan bahan kain percah dan adanya penyuluhan mengenai pembuatan brand  pada UMKM yang ada di desa Sidomulyo.
TANAMAN BERUS MATA BUAYA SEBAGAI INSIRASI MOTIF BATIK DALAM BUSANA KEBAYA MODERN Septianti, Septianti; Nurviana, Fenty
BAJU: Journal of Fashion and Textile Design Unesa Vol. 6 No. 1 (2025)
Publisher : Universitas Negeri Surabaya

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.26740/baju.v6n1.p1-12

Abstract

The purpose of designing modern kebaya fashion inspired by the crocodile eye brush plant is as a form of introduction to the crocodile eye brush plant so that people will preserve and cultivate this plant which will later be introduced through batik motifs and applied to modern kebaya fashion. This is because the crocodile eye brush plant is a typical plant from the West Kalimantan Coast which has experienced a population decline due to the surrounding community destroying the habitat of this plant. To create this work, a qualitative descriptive approach method was used with a method of creating craft art with four stages, namely pre-design, design, manifestation, and presentation of the work. Through these stages, 3 fashion designs were produced with batik motifs inspired by the crocodile eye brush plant that were stylized. The three fashion designs have a distinctive feature on the neck with the addition of a tie accent on each dress, and the materials used are brocade and cotton cloth that has been batiked. The batik motif on this dress is applied to the skirt and back of the dress. The batik design displays the characteristics of flowers, leaves, and tendrils on the crocodile eye brush plant and the colors used in this dress are black and green. This creation resulted in three dresses with batik motifs inspired by the crocodile eye brush plant which were realized into modern kebaya dresses.
FUNGSI MOTIF GURDA PADA BATIK YOGYAKARTA Septianti Septianti
Gorga : Jurnal Seni Rupa Vol. 13 No. 1 (2024): Gorga : Jurnal Seni Rupa
Publisher : Fakultas Bahasa dan Seni Universitas Negeri Medan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24114/gr.v13i01.60214

Abstract

Batik has various decorative patterns in its motifs, in batik in Yogyakarta you often see the gurda motif combined with other motifs. The gurda motif is used as a form of reflection of Indonesian culture. This article reviews the gurda motif in terms of function in batik in Yogyakarta. The method used is a descriptive qualitative method with an aesthetic and social approach to understand the form and function of the gurda motif. Apart from that, the aesthetic approach helps in dissecting the function of the gurda motif towards values and paying attention to the current scope of society. To dissect the gurda motif using Edmund Burke Felman's theory in understanding its function. By using Felman's theory, three functions were found, namely spiritual function, social function and industrial commodity function. Through this article, it will result in a change in function from sacred to a form of social strata which will turn into an industrial commodity which is ultimately used as a mass item. Apart from this, we can see a comprehensive change in the significance of the gurda motif in the spiritual realm, which aims to clarify its contemporary function.Keywords: batik, gurda, motif,  YogyakartaAbstrakBatik memiliki berbagai raham hias pada motifnya, pada batik yang ada di Yogyakarta sering kali dilihat motif gurda yang dikombinasikan dengan motif lain. Motif gurda digunakan sebaga bentuk refleski budaya bangsa Indonesia. Tulisan ini mengulas mengenai motif gurda dari segi fungsi pada batik di Yogyakarta. Metode yang digunakan yaitu metode kualitatif deskriptif dengan pendekatan estetika dan sosial untuk dapat memahami bentuk dan fungsi dari bentuk motif gurda tersebut. Selain itu dengan pendekatan estetika membantu dalam membedah fungsi yang terdapat pada motif gurda terhadap nilai-nilai dan memperhatikan lingkup masyarakat pada saat ini. Untuk membedah mengenai motif gurda dengan menggunakan teori Edmund Burke Felman dalam memahami fungsinya. Dengan menggunakan teori dari Felman ditemukan tiga fungsi yaitu fungsi sebagai spiritual, fungsi sosial, dan fungsi sebagai komoditas industri. Melalui tulisan ini menghasilkan adanya perubahan fungsi dari sakral hingga sebagai bentuk strata sosial yang akan berubahan mejadi barang komoditas industri yang akhirnya digunakan sebagai barang masal.  Selain hal tersebut dapat dilihat adanya perubahan  komprehensif terhadap signifikansi motif gurda dalam ranah spiritual, yang bertujuan untuk memperjelas fungsi kontemporernya.Kata Kunci:batik, gurda, motif, Yogyakarta Author:Septianti : ISI Yogyakarta ReferencesAtmojo, W. T. (2011). Barong dan Garuda dari Sakral ke Profan. Yogyakarta: Pascasarjana ISI Yogyakarta.Cahya, H. E. (2018). Partisipasi Masyarakat, Kegiatan Pendidikan Membatik, Pelestarian Budaya Lokal Membatik Di Dusun Semin. Jurnal Kebijakan Pendidikan Vol., 7(2), 120“130.Falahi, Y., & Hermawan, H. (2023). Konsumerisme Pada Batik Dalam Perspektif Identitas, Komoditas, dan Gayat Hidup. Katarupa, 1 No.1(Vol. 1 No. 1 (2023): Katarupa Volume 1 no 1 2023), 11“20. Retrieved from https://journals.itb.ac.id/index.php/katarupa/article/view/21067Feldman, E. B. (1991). Art As Image And Idea (Sp Gustami). Yogyakarta: Fakultas Seni Rupa ISI Yogyakarta.Harmoko. (1996). Indonesia Indah Buku ke-8 " Batik. Jakarta: TMII.Jesper, J. E., & Pirngadie, M. (2017). Batik: Seni Kerajinan Pribumi di Hindia Belanda. Yogyakarta: DEKRANAS.Kawindrasusanta, K. (1981). Mengenai Seni Batik di Yogyakarta. Yogyakarta: Balai Besar Kerajinan dan Batik.Murtihadi, & Mukminatun. (1979). Pengetahuan Teknologi Batik. Jakarta: Departemen pendidikan dan Kebudayaan.Novrita, S. Z., & Pratiwi, M. (2022). Makna Motif Batik Di Kabupaten Solok Selatan Studi Kasus Pada Sanggar Azyanu Batik 1000 Rumah Gadang. Gorga¯: Jurnal Seni Rupa, 11(2), 628. https://doi.org/10.24114/gr.v11i2.39652Santana, S. (2007). Menulis Ilmiah Metode Penelitian Kualitatif. Jakarta: OBOR.Septianti. (2019). Gurda Pada Batik Larangan Yogyakarta. Yogyakarta: Tesis Pascasarjana ISI Yogyakarta.Septianti. (2020). Kajian Bentuk, Fungsi, Dan Makna Simbolik Motif Gurda Pada Batik Larangan Yogyakarta. INVENSI (Jurnal Penciptaan Dan Pengkajian Seni), 5(1), 65“80. https://doi.org/10.24821/invensi.v1i1.4125Suwito, S. Y., Marwito, T., Damami, Riswinarno, & Gupta, D. (2010). Nilai Budaya dan Filosofi Upacara Sekaten di Yogyakarta. Yogyakarta: Dinas Kebudayaan dan Pariwisata Yogyakarta.Suyanto, A. N. (2002). Sejarah Kerajinan Batik Indonesia. Yogyakarta: Rumah Penerbit Merapi.Trixie, A. A. (2017). Filosofi Motif Batik Sebagai Identitas Bangsa Indonesia. Paradigma, 19(2), 127“130.
BATIK JAMU GENDHONG: Konsep Estetika Sebagai Identitas Lokal Kabupaten Sukoharjo Priyanto, Danang; Septianti
DESKOVI : Art and Design Journal Vol. 8 No. 1 (2025): Vol. 8 No.1 JUNI 2025
Publisher : Universitas Maarif Hasyim Latif

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.51804/deskovi.v8i1.16784

Abstract

Kabupaten Sukoharjo merupakan salah satu daerah induk batik dari wilayah Surakarta. Selain dikenal sebagai kabupaten produsen batik, Kabupaten Sukoharjo juga familiar dengan Kabupaten Jamu dengan tagline jamu gendhong. Eksistensi produksi jamu tradisional yang digendong dan dijajakan berkeliling dengan berjalan kaki direspon para seniman batik untuk membuat desain motif yang terinspirasi dari konsep ide tersebut. Urgensi dari penelitian ini adalah upaya untuk mengungkap eksistensi dan estetika dari batik jamu gendhong. Rumusan Masalah dalam adalah 1.Mengapa jamu gendhong menjadi identitas motif batik Kabupaten Sukoharjo. 2.Bagaimana konsep estetika dalam motif batikjamu gendhong Kabupaten Sukoharjo. Tujuan dari penelitian ini akan menjadi menganalisiseksistensi batik jamu gendhong sebagai identitas Kabupaten Sukoharjo dan menganalisis konsep estetika batik jamu gendhong dengan identifikasi struktur komposisi dari pola motif yang terdiri dari motif utama, motif pendukung, dan isen-isen. Pendekatan dalam penelitian  ini memanfaatkan pendekatan histori dan estetika.   Hasil dari penelitian didapat bahwa wilayah Kecamatan Nguter merupakan pusat industri pembuatan jamu di Sukoharjo yang diproduksi baik secara tradisional berbasis home industri dan skala pabrik. Dalam perkembangannya praktek menjajakan jamu dengan cara di-gendhong bergeser menjadi dijual dengan mengendarai sepeda, motor dan dijajakan secara menetap di outlet.  Dalam perkembangannya, jamu gendhong dijadikan sebagai ikon identitas batik di Kabupaten Sukoharjo. Adapun persebaran industri batik ada di daerah Bekonang dan Kedunggudel tawangsari. Visual batik jamu gendhong menampilkan figur mbok jamu gendhong dengan membawa rinjing dan gendul kaca, pola ditambahkan dengan motif pendukung bunga, kupu dan burung dengan isen ceceg, sawut, kemukus, pari sawuli dan lain-lain. Diharapkan penelitian menjadi referensi dalam analisis batik identitas daerah.