Claim Missing Document
Check
Articles

Found 2 Documents
Search

THE ROLE OF PERCEIVED ORGANIZATIONAL SUPPORT AND EMPLOYEE ENGAGEMENT IN OPTIMIZING EMPLOYEE PERFORMANCE Ali Koesoema Wardhana; Rabitha Fazira
Dynamic Management Journal Vol. 10 No. 3 (2026): July
Publisher : Universitas Muhammadiyah Tangerang

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.31000/rhv68a12

Abstract

Employee performance is a crucial factor determining organizational success. The declining trend in sales target achievement at PT Tiga Pilar Doa Suplindo indicates performance issues presumably related to negative perceptions of organizational support and low employee engagement. This study aims to analyze the influence of perceived organizational support (POS) and employee engagement on employee performance and identify the dominant predictor. This quantitative research employed total sampling involving all 41 employees. Data were collected through a validated and reliable Likert-scale questionnaire and analyzed using descriptive statistics, classical assumption tests, and multiple linear regression with SPSS version 24. The findings reveal that POS and employee engagement simultaneously have a positive and significant effect on employee performance. Partially, employee engagement is proven to have a positive and significant effect on employee performance, while POS shows a positive but non-significant effect. These findings indicate that employee engagement is a more dominant predictor in improving performance compared to POS. The novelty lies in examining the simultaneous influence of POS and employee engagement within the Indonesian distribution company context and identifying employee engagement as the dominant performance predictor. This study contributes theoretically to human resource management literature and provides practical implications for designing engagement-based performance improvement interventions.
Pendampingan Lansia Hipertensi Melalui Intervensi Autosugesti Model Ravs Dalam Mendukung Pengendalian Tekanan Darah Wahidin Wahidin; Dina Raidanti; Adi Riyan; Ali Koesoema Wardhana
Jurnal Pengabdian Masyarakat Kesehatan Vol. 12 No. 2 (2026): JPM September 2026
Publisher : UPPM - STIKES Pemkab Jombang

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.33023/jpm.v12i2.3375

Abstract

Hipertensi pada lansia memerlukan pengelolaan yang tidak hanya berfokus pada terapi medis, tetapi juga pada kemampuan self-management, pengelolaan stres, kepatuhan terhadap pengobatan, serta dukungan sosial. Kegiatan pengabdian kepada masyarakat ini bertujuan untuk memperkuat kemampuan lansia dalam mendukung pengelolaan hipertensi melalui penerapan Model Autosugesti RAVS (Reframing, Relaxation, Affirmation, Visualization, dan Spirituality Reflection). Kegiatan dilaksanakan di Desa Daon, Kecamatan Rajeg, Kabupaten Tangerang, dengan melibatkan 27 lansia serta dukungan kader Posbindu dan keluarga. Metode menggunakan pendekatan Participatory Community Empowerment melalui tiga tahap, yaitu persiapan, pelaksanaan, dan evaluasi. Pelaksanaan meliputi edukasi hipertensi, demonstrasi dan praktik RAVS, pendampingan selama 4 minggu sebanyak 12 sesi, monitoring, serta evaluasi melalui pengukuran pengetahuan, tekanan darah, kualitas hidup, kepatuhan pengobatan, dan capaian penerapan RAVS. Hasil menunjukkan capaian penerapan RAVS yang relatif baik, dengan skor tertinggi pada relaksasi dan pernapasan (3,31) serta terendah pada pemahaman materi (2,92). Skor pengetahuan meningkat dari 2,07 menjadi 2,65 pada pengukuran akhir, sedangkan tekanan darah berubah dari 144,59/85,37 mmHg pada baseline menjadi 131,48/78,19 mmHg pada pengukuran terakhir. Skor kepatuhan pengobatan meningkat dari 2,02 menjadi 3,88, dan kualitas hidup meningkat dari 1,94 menjadi 2,85. Selain itu, sedikitnya lima kader Posbindu dilatih untuk mendukung pendampingan bagi lansia. Hasil tersebut menunjukkan bahwa RAVS berpotensi menjadi pendekatan psikospiritual pendukung dalam pemberdayaan lansia hipertensi berbasis komunitas. Temuan ini perlu ditafsirkan sebagai perubahan selama pelaksanaan program, bukan sebagai bukti hubungan kausal, karena kegiatan ini tidak menggunakan kelompok pembanding