Oksfriani Jufri Sumampouw
Program Studi Ilmu Kesehatan Masyarakat, Pascasarjana Universitas Sam Ratulangi, Manado, Indonesia

Published : 3 Documents Claim Missing Document
Claim Missing Document
Check
Articles

Found 3 Documents
Search

Efektivitas Edukasi Berbasis Health Belief Model terhadap Pengetahuan dan Sikap Tenaga Kesehatan dalam Pencegahan Infeksi Tuberkulosis Lumataw Fransisca Priscilia; Martha Marie Kaseke; Greta Wahongan; Josef Sem Berth Tuda; Oksfriani Jufri Sumampouw
Jurnal Promotif Preventif Vol 8 No 6 (2025): Desember 2025: JURNAL PROMOTIF PREVENTIF
Publisher : Fakultas Kesehatan Masyarakat Universitas Pancasakti

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.47650/jpp.v8i6.2503

Abstract

Indonesia menempati peringkat kedua kasus Tuberkulosis (TB) tertinggi di dunia, dengan risiko penularan yang signifikan di fasilitas pelayanan kesehatan. Tenaga kesehatan merupakan kelompok berisiko tinggi sehingga penguatan pengetahuan dan sikap pencegahan menjadi sangat penting. Pendekatan edukasi berbasis Health Belief Model (HBM) berpotensi meningkatkan pemahaman dan motivasi tenaga kesehatan dalam menerapkan perilaku pencegahan TB. Penelitian ini bertujuan menganalisis efektivitas edukasi berbasis Health Belief Model terhadap pengetahuan dan sikap tenaga kesehatan mengenai pencegahan penularan Tuberkulosis Paru di RSUD Provinsi Sulawesi Utara. Penelitian ini menggunakan desain true experimental dengan pendekatan pretest–posttest control group. Sebanyak 60 tenaga kesehatan dibagi menjadi kelompok intervensi dan kontrol melalui simple random sampling. Intervensi edukasi berbasis HBM dilaksanakan dalam tiga sesi terstruktur. Data dianalisis menggunakan uji independent sample t-test, N-Gain score, dan ANCOVA. Hasil penelitian menunjukkan bahwa kelompok intervensi mengalami peningkatan pengetahuan dan sikap yang signifikan dibandingkan kelompok kontrol (p<0,05), sedangkan kelompok kontrol tidak menunjukkan perubahan bermakna. Edukasi berbasis HBM terbukti efektif dalam meningkatkan kapasitas kognitif dan afektif tenaga kesehatan terkait pencegahan penularan TB Paru. Temuan ini menegaskan bahwa edukasi berbasis teori perilaku perlu diintegrasikan secara sistematis dalam kebijakan promosi dan pencegahan TB di fasilitas pelayanan kesehatan guna memperkuat kepatuhan tenaga kesehatan dan menurunkan risiko penularan nosokomial.
Tantangan Ketersediaan Dokter Spesialis dan Dampaknya terhadap Efektivitas Sistem Rujukan di Rumah Sakit Tipe D: Studi Kualitatif di Indonesia Imelda Maria Siwi; Windy Mariane Virenia Wariki; Jonesius Eden Manoppo; Wulan Pingkan Julia Kaunang; Oksfriani Jufri Sumampouw
Jurnal Promotif Preventif Vol 8 No 6 (2025): Desember 2025: JURNAL PROMOTIF PREVENTIF
Publisher : Fakultas Kesehatan Masyarakat Universitas Pancasakti

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.47650/jpp.v8i6.2519

Abstract

Ketersediaan dokter spesialis merupakan determinan penting dalam menjamin mutu pelayanan kesehatan dan efektivitas sistem rujukan berjenjang, khususnya pada rumah sakit tipe D. Penelitian ini bertujuan menganalisis ketersediaan dokter spesialis, mengidentifikasi tantangan pemenuhannya, serta menilai dampak keterbatasan dokter spesialis terhadap efektivitas sistem rujukan pasien di RSU GMIM Tonsea Airmadidi, Kabupaten Minahasa Utara. Penelitian menggunakan pendekatan kualitatif dengan desain studi kasus. Informan dipilih secara purposive sampling dan melibatkan 7 informan, terdiri atas unsur manajemen rumah sakit, tenaga kesehatan (dokter umum, dokter spesialis, dan perawat), serta pasien rujukan. Pengumpulan data dilakukan melalui wawancara mendalam, observasi lapangan, dan telaah dokumen rumah sakit periode Januari–September 2025. Analisis data dilakukan secara tematik dengan menjaga validitas melalui triangulasi sumber dan metode, serta konfirmasi temuan utama (member checking). Hasil penelitian menunjukkan bahwa ketersediaan dokter spesialis masih terbatas dari sisi jumlah dan keragaman spesialisasi, sehingga mendorong rujukan dini, menurunkan kontinuitas pelayanan spesialistik, dan meningkatkan beban sosial ekonomi pasien. Studi ini menegaskan perlunya penguatan kebijakan rekrutmen dan retensi dokter spesialis serta optimalisasi sistem rujukan regional berbasis kebutuhan lokal.
Implementasi Sistem Manajemen Keselamatan dan Kesehatan Kerja di Puskesmas: Studi Kualitatif di Puskesmas Kotabunan, Indonesia Nurul Suciyanti Abdul; Jimmy Posangi; Diana Vanda D. Doda; Erwin Gidion Kristanto; Oksfriani Jufri Sumampouw
Jurnal Promotif Preventif Vol 9 No 1 (2026): Februari 2026: JURNAL PROMOTIF PREVENTIF
Publisher : Fakultas Kesehatan Masyarakat Universitas Pancasakti

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.47650/jpp.v9i1.2581

Abstract

Penerapan sistem manajemen Keselamatan dan Kesehatan Kerja (K3) di puskesmas sangat penting untuk memastikan keselamatan petugas kesehatan dan pasien. Studi ini bertujuan untuk menganalisis penerapan sistem manajemen K3 di Puskesmas Kotabunan, Kabupaten Bolaang Mongondow Timur. Studi deskriptif kualitatif dilakukan dari November hingga Desember 2025. Data dikumpulkan melalui wawancara mendalam, observasi, dan tinjauan dokumen yang melibatkan lima informan yang dipilih secara purposif, termasuk kepala puskesmas, kepala administrasi, koordinator mutu dan keselamatan, dokter, dan perawat. Data dianalisis menggunakan model Miles dan Huberman melalui reduksi data, penyajian data, dan penarikan kesimpulan. Hasil penelitian menunjukkan bahwa puskesmas telah membentuk tim K3 dan menerapkan beberapa komponen sistem manajemen K3, termasuk kebijakan, identifikasi bahaya, pengendalian risiko, dan ketersediaan alat pelindung diri. Namun, beberapa kelemahan teridentifikasi, seperti tidak adanya anggaran K3 khusus, kurangnya personel K3 bersertifikat, tidak adanya prosedur formal untuk pelaporan kecelakaan kerja, dan mekanisme pemantauan dan evaluasi yang terbatas. Studi ini menyimpulkan bahwa implementasi sistem manajemen K3 telah dimulai tetapi belum optimal. Penguatan komitmen kelembagaan, penyediaan pelatihan berkala, dan peningkatan mekanisme pemantauan dan evaluasi direkomendasikan untuk meningkatkan implementasi K3.