Claim Missing Document
Check
Articles

Found 3 Documents
Search

Tranformasi PDI Perjuangan dari Oposisi ke Kekuasaan: Kepemimpinan dan Strategi dalam Sistem Multipartai Indonesia 1999-2004 Danu Prasetyo; Endang Sulastri
Jurnal Multidisiplin Dehasen (MUDE) Vol 5 No 3 (2026): Juli
Publisher : LPPJPHKI Universitas Dehasen Bengkulu

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.37676/mude.v5i3.10932

Abstract

This study examines the political transformation of the Indonesian Democratic Party of Struggle (PDI Perjuangan) from opposition to governing party during 1999–2004. Using a qualitative case study approach, this research explores the interaction between internal factors including Marhaenism ideology, Megawati Soekarnoputri's leadership, and party organizational institutionalization and external factors comprising fragmented multiparty system and post-reform coalition dynamics. The findings reveal that PDI Perjuangan's transformation was a multidimensional and dialectical process: the party's spectacular 33.74% electoral victory in the 1999 election did not automatically translate into executive power due to the political blockade by the Central Axis (Poros Tengah) coalition in the People's Consultative Assembly. This failure became a catalyst for strengthening internal institutionalization through grassroots consolidation, ideological revitalization, and systematic cadre development via the Party School. Megawati's leadership functioned as a unifying nexus integrating ideological, institutional, and coalition-building capacities. The successful transformation in 2001 reflects the party's ability to balance ideological steadfastness with strategic flexibility within an unconsolidated multiparty system.
Kepentingan Nasional Indonesia dalam Kerja Sama Kendaraan Listrik dan Hilirisasi Nikel dengan Tiongkok Asep Setiawan; Hamka Hamka; Latifah Latifah; Indah Eka Priyanto; Danu Prasetyo
Jejak digital: Jurnal Ilmiah Multidisiplin Vol. 2 No. 5 (2026): AGUSTUS-SEPTEMBER
Publisher : INDO PUBLISHING

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.63822/cfm7k738

Abstract

  Artikel ini bertujuan untuk menelaah kerja sama kendaraan listrik antara Indonesia dan Tiongkok pada periode 2019–2026 sebagai instrumen pencapaian kepentingan nasional Indonesia. Permasalahan yang diangkat adalah belum optimalnya konversi cadangan nikel menjadi penguasaan teknologi, modal manusia, dan posisi geoekonomi meskipun investasi asal Tiongkok telah melampaui USD 30 miliar. Menggunakan pendekatan kualitatif dengan desain studi kasus tunggal, artikel ini memadukan teori kepentingan nasional Donald E. Nuechterlein, geoeconomics, dan economic statecraft untuk menganalisis kerja sama EV secara berlapis. Hasil analisis menunjukkan lima dimensi kepentingan nasional: ekonomi-investasi, teknologi-industrialisasi, keamanan energi, sosial-lingkungan-ketenagakerjaan, dan geopolitik. Indonesia memiliki daya tawar berbasis nikel dan pasar domestik, namun menghadapi kesenjangan teknologi, dominasi modal asing, serta tantangan lingkungan hidup. Artikel mengajukan Model Kepentingan Nasional Berlapis sebagai kerangka teoretis baru yang mengintegrasikan kelima dimensi tersebut. Implikasi praktis menunjukkan perlunya strategi diversifikasi mitra, penguatan regulasi alih teknologi, dan reformasi tata kelola lingkungan agar kerja sama EV benar-benar berorientasi pada transformasi industri jangka panjang.
Perspektif Middle Power Indonesia dalam Kerja Sama Kendaraan Listrik dengan Tiongkok (2019–2026) Asep Setiawan; Hamka Hamka; Latifah Latifah; Indah Eka Priyanto; Danu Prasetyo
Jurnal Ilmu Sosial dan Humaniora Vol. 2 No. 3 (2026): JULI-SEPTEMBER
Publisher : Indo Publishing

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.63822/z5snnp37

Abstract

Artikel ini menganalisis otonomi strategis Indonesia dalam kerja sama sektor kendaraan listrik (electric vehicle/EV) dengan Tiongkok pada periode 2019–2026, dengan fokus pada masa pemerintahan Prabowo Subianto (2024–2026). Meskipun Indonesia berhasil menarik lebih dari USD 30 miliar investasi, dominasi modal Tiongkok yang menguasai lebih dari 65% rantai nilai EV nasional menimbulkan pertanyaan mengenai sejauh mana otonomi strategis Jakarta dapat dipertahankan dalam hubungan asimetris tersebut. Penelitian ini menggunakan tiga kerangka teori yang diintegrasikan secara terpadu—middle power theory, strategic autonomy framework, dan two-level game theory—serta desain studi kasus tunggal (single-country case study) dengan pendekatan kualitatif. Data sekunder berupa dokumen kebijakan, laporan lembaga internasional, dan artikel jurnal peer-review periode 2019–2026 dianalisis melalui interpretive policy analysis. Temuan menunjukkan bahwa otonomi strategis Indonesia bersifat domain-spesifik dan bertingkat: kuat secara formal di seluruh domain kebijakan, kuat secara substantif pada tataran kebijakan makro dan segmen perakitan kendaraan, namun lemah secara struktural pada segmen sel baterai yang paling strategis. Artikel ini memperkenalkan konsep instrumental multilateralisme sebagai mekanisme spesifik kekuatan menengah dalam mengelola asimetri bilateral dan memberikan rekomendasi kebijakan yang terkalibrasi secara empiris bagi Indonesia dan negara-negara Global South lain.