Claim Missing Document
Check
Articles

Found 2 Documents
Search

Implementasi Pemupukan Berdasarkan Analisis Sensor Tanah berbasis IoT untuk Optimalisasi Pertumbuhan Tanaman Jagung (Zea mays L.) Moh Hasbi Ash Shidiqi; Eka Nurmala Sari; Aldy Bahaduri Indraloka; Bagus Eka Mahendra; Zuyinatul Magfiroh
Jurnal Ilmu-Ilmu Pertanian Indonesia Vol 28 No 1 (2026)
Publisher : BPFP Universitas Bengkulu

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.31186/jipi.28.1.1-9

Abstract

[OPTIMIZING CORN (Zea mays L.) GROWTH THROUGH FERTILIZATION BASED ON IOT SOIL SENSOR ANALYSIS. Corn (Zea mays L.) plays an important role in Indonesia's agricultural sector as a source of food, animal feed, and industrial raw materials. However, the main challenge in cultivation is improper fertilization, which can reduce yields and damage the environment. Efficient and sustainable fertilization is necessary to increase productivity. Internet of Things (IoT)-based soil sensor technology provides a solution by providing accurate data on soil conditions that help with fertilization efficiency. The purpose of this study was to examine the effect of fertilization variations adjusted to the results of IoT-based soil sensor analysis on corn plant growth. The study was conducted in Labanasem Village, Banyuwangi Regency, from July to September 2025, using a non-factorial randomized block design (RBD) with four treatments, namely conventional, chemical, balanced, and organic fertilization, repeated six times. Data were collected using IoT soil sensors to analyze pH, moisture, temperature, and nutrients. Fertilization was carried out at 20, 35, and 55 days after planting for conventional and chemical fertilizers, while balanced and organic fertilizers followed the dosage recommendations from the IoT system. The results showed that balanced fertilization did not differ significantly from conventional and chemical fertilization in terms of plant growth parameters, including plant height, number of leaves, stem diameter, leaf area, leaf area index, and flowering age (p > 0.05). Organic fertilization showed significantly different results (p < 0.05), but balanced fertilization was more efficient in reducing input costs and supporting agricultural sustainability compared to organic fertilization, as well as supporting agricultural sustainability. IoT-based soil sensor technology can improve fertilization precision and support fertilizer use efficiency.based soil sensors and balanced fertilization is recommended to increase corn production efficiently and sustainably.
Pengaruh Pupuk Silika Terhadap Jumlah Populasi dan Keanekaragaman Hama dan Musuh Alami Pada Kedelai Eka Nurmala Sari; Retno Wijayanti; Moh Hasbi Ash Shidiqi; Retna Bandriyati Arniputri
Agroteknika Vol 8 No 2 (2025): Juni 2025
Publisher : Green Engineering Society

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.55043/agroteknika.v8i2.534

Abstract

Salah satu tanaman pangan utama di Indonesia adalah kedelai. Kebutuhan akan kedelai terus meningkat seiring dengan permintaan dari konsumen. Hama merupakan organisme penggangu tanaman yang keberadaannya dapat menjadi hambatan dalam budidaya kedelai. Oleh karena itu, perlu adanya sistem pemeliharaan yang tepat terhadap tanaman budidaya. Salah satu tahap dalam pemeliharaan yaitu pemberian unsur hara dan pengendalian hama, pupuk silika memiliki dua manfaat selain sebagai unsur hara juga berguna dalam meningkatkan ketahanan tanaman terhadap serangan hama. Tujuan penelitian ini adalah untuk menentukan waktu dan konsentrasi pupuk silika yang tepat untuk meningkatkan ketahanan kedelai terhadap serangan hama. Penelitian dilakukan di Cawas, Klaten, Jawa Tengah dari Juli hingga Oktober 2020. Menggunakan rancangan penelitian petak terbagi (split plot). Konsentrasi pupuk silika sebagai anak petak adalah P1= 2 ml/L, P2= 4 ml/L, dan P3 = 6 ml/L dan waktu aplikasi sebagai petak utama adalah T1= pemupukan seminggu sekali dan T2= pemupukan dua minggu sekali. Kesimpulan dari penelitian ini adalah bahwa Aphids glycine adalah hama dengan populasi tertinggi, sedangkan Coccinela transversalis adalah musuh alami hama. Nilai indeks keanekaragaman (H`) sedang pada hama, sedangkan untuk musuh alami rendah. Intensitas kerusakan daun dan polong kedelai tidak berbahaya karena tingkat keparahannya rendah.