Wahyudi
IAIN Syaikh Abdurrahman Siddik Bangka Belitung

Published : 2 Documents Claim Missing Document
Claim Missing Document
Check
Articles

Found 2 Documents
Search

Implikasi Emotionally Freedom Tehnique untuk Mengatasi Kecemasan Santri dalam Public Speaking di Pesantren Pulau Bangka Nurviyanti Cholid; Wahyudi; Pebri Yanasari; Yogi Christian; Iza Zumrotul Zahro
CONS-IEDU: Jurnal Program Studi Bimbingan Dan Konseling Islam Vol 6 No 1 (2026): CONS IEDU
Publisher : Program Studi Bimbingan Konseling Islam, Fakultas Tarbiyah Dan Ilmu Keguruan, Institut Ummul Quro Al-Islami Bogor

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.51192/cons.v6i1.2413

Abstract

Problem: The ability to speak (muhadharah) is a mandatory competency in Islamic boarding schools, but many students on Bangka Island experience psychological barriers in the form of excessive anxiety (stage fright). This anxiety manifests in physical symptoms and loss of concentration when speaking in public. Objective: This community service activity aims to equip students with the independent technique of Emotional Freedom Technique (EFT) to reduce the intensity of anxiety and increase self-confidence when performing public speaking. Method: The implementation of the activity uses a participatory training method that includes three stages: (1) Socialization of the concept of energy psychology and anxiety mechanisms; (2) Independent practice of tapping techniques on 18 meridian points of the body; and (3) Post-intervention speech simulation assistance. The target of the service is middle-level students at one of the Islamic boarding schools on Bangka Island. Results: This activity succeeded in increasing students' understanding of emotional management by 85%. Based on self-evaluation, the majority of students reported a decrease in physical symptoms of anxiety (such as cold sweats and tremors) after practicing EFT. Students now have a self-help tool they can use anytime before stepping onto the pulpit. Conclusion: The implementation of EFT has positive implications as a practical and effective solution for overcoming students' psychological barriers. It is recommended that Islamic boarding school administrators adopt this program as part of their extracurricular da'wah activities to optimize students' rhetorical potential.Keywords: Emotional Freedom Technique, Speaking Anxiety, Public Speaking, Students, Community Service.
MODEL PENDIDIKAN TOLERANSI BERAGAMA BERBASIS LOCAL CULTURE DI DAERAH MINORITAS MUSLIM BUNGAYA BABENDEM KARANG ASEM BALI Suparta Suparta; Wahyudi Wahyudi; Mubaidi Sulaeman
Mawaizh : Jurnal Dakwah dan Pengembangan Sosial Kemanusiaan Vol. 16 No. 02 (2025): Vol 16 No 2 (2025) : Islamic Moderation
Publisher : Faculty of Da’wa and Islamic Communication, State Institute for Islamic Studies of Syaikh Abdurrahman Siddik Bangka Belitung

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.32923/7w9hvq42

Abstract

Permasalahan yang diambil dalam penelitian ini mengenai toleransi beragama berbasis budaya lokal dan Muslim minoritas di Bali. Kabupaten Karangasem Provinsi Bali luput dari pengkajian akademik lebih mendalam dan tertelan oleh popularitas Bali sebagai paradise for tourists, padahal dengan segala keeksotisannya ternyata Provinsi Bali menyimpan beragam fakta sebagai kawasan yang multi-religious. Penduduknya mayoritas memeluk agama hindu sedangkan Islam, Kristen Protestan, khatolik, Budha, dan agama lainnya adalah minoritas. Tujuan Penelitian ini yakni berupaya mengetahui secara mendalam tentang toleransi beragama berbasis budaya lokal di daerah muslim minoritas Bungaya Babendem karangasem Bali. Penelitian ini menggunakan penelitian kuantitatif-deskripsif dengan pendekatan fenomenologis Penelitian yang orientasinya pada penekanan pertanyaan tentang eksistensi para pemuka agama dan Kepala madrasah di wilayah muslim minoritas dalam menjalankan dan menerapkan model Pendidikan toleransi baik kepada Masyarakat maupun kepada para peserta didiknya. Hasil penelitian menunjukkan bahwa berbagai model toleransi beragama yang dipraktikkan oleh minoritas Muslim di Bungaya, Bali, dengan menekankan pentingnya saling menghormati dan memahami di antara berbagai agama dan latar belakang sosial. Para pemimpin masyarakat dan tokoh agama secara aktif mempromosikan kerukunan antaragama melalui praktik budaya bersama dan rasa saling menghormati, sehingga mendorong hidup berdampingan secara damai antara masyarakat Hindu dan Muslim