p-Index From 2021 - 2026
0.408
P-Index
This Author published in this journals
All Journal Jurnal Selaksa Makna
Claim Missing Document
Check
Articles

Found 2 Documents
Search

ANALISIS MAKNA DENOTATIF DAN KONOTATIF DALAM PANTUN PENOBATAN GELAR DATUK DI KUANTANSINGINGI: KAJIAN SEMANTIK Sri Rahayu; Selsi Aulia; Ririn Rahmadani; Dani Arli Ramayani; Alfa Ramadandika; Tasya Ayuni Syahira; Dhea Altha Fino; Suci Ramadhani
JURNAL SELAKSA MAKNA Vol. 2 No. 2 (2026): JURNAL SELAKSA MAKNA
Publisher : PROGRAM STUDI PENDIDIKAN BAHASA LAMPUNG, FKIP UNIVERSITAS LAMPUNG

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.23960/selaksamakna.v2i2.1839

Abstract

Language is the primary means of communication and the transmission of local wisdom, especially in Malay society, which is rich in oral literary traditions such as pantun. The problem of this research is how the denotative and connotative meanings in the pantun for the coronation of the Datuk title in Kuantan Singingi. This study aims to describe and analyze both types of meanings. The method used is descriptive qualitative with data sources in the form of pantun texts resulting from interviews with native Kuantan Singingi residents who understand the traditional procession. Data collection techniques were carried out through interviews, listening, and taking notes, while data analysis used Abdul Chaer's semantic theory which focuses on the relationship between language forms and denotative and connotative meanings. The results of the study show that there are 16 data in eight pantun stanzas consisting of 8 denotative meanings and 8 connotative meanings. This is because each stanza is composed of a sampiran and a fixed pattern of content, where the sampiran describes concrete things that have denotative meanings and the content contains traditional messages that have connotative meanings. This balance occurs because, in the Malay tradition, pantun serves as both a medium for conveying messages and a linguistic aesthetic that demands harmony between form and meaning. This uniqueness lies in the balance between literal and symbolic meaning in each verse of the pantun conferring the title of Datuk in Kuantan Singingi.   Bahasa merupakan sarana utama komunikasi dan pewarisan kearifan lokal, terutama dalam masyarakat Melayu yang kaya akan tradisi sastra lisan seperti pantun. Permasalahan penelitian ini adalah bagaimana makna denotatif dan konotatif dalam pantun penobatan gelar Datuk di Kuantan Singingi. Penelitian ini bertujuan untuk mendeskripsikan dan menganalisis kedua jenis makna tersebut. Metode yang digunakan adalah deskriptif kualitatif dengan sumber data berupa teks pantun hasil wawancara dengan masyarakat asli Kuantan Singingi yang memahami prosesi adat. Teknik pengumpulan data dilakukan melalui wawancara, simak, dan catat, sedangkan analisis data menggunakan teori semantik Abdul Chaer yang berfokus pada hubungan bentuk bahasa dengan makna denotatif dan konotatif. Hasil penelitian menunjukkan terdapat 16 data dalam delapan bait pantun yang terdiri atas 8 makna denotatif dan 8 makna konotatif. Hal ini karena setiap bait tersusun atas sampiran dan isi yang berpola tetap, di mana sampiran menggambarkan hal konkret yang bermakna denotatif dan isi memuat pesan adat yang bermakna konotatif. Keseimbangan ini terjadi karena dalam tradisi Melayu pantun berfungsi sebagai media penyampaian pesan sekaligus estetika bahasa yang menuntut keselarasan bentuk dan makna. Inilah keunikannya, yaitu adanya keseimbangan antara makna literal dan simbolik dalam setiap bait pantun penobatan gelar Datuk di Kuantan Singingi.
FENOMENA ALIH KODE DAN CAMPUR KODE PODCAST CINTA LAURA: KAJIAN SOSIOLINGUISTIK Alfa Ramadandika; Alber Alber
JURNAL SELAKSA MAKNA Vol. 2 No. 3 (2026): JURNAL SELAKSA MAKNA
Publisher : PROGRAM STUDI PENDIDIKAN BAHASA LAMPUNG, FKIP UNIVERSITAS LAMPUNG

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.23960/selaksamakna.v2i3.2110

Abstract

This study aims to describe the forms of code-switching and code-mixing, the causal factors, and the function of mixed language use in Cinta Laura and Raditya Dika's YouTube podcast based on sociolinguistic studies. The study used a qualitative descriptive method with a listening and note-taking technique on the video "Creative Strategies Departing from Personal Anxiety" on the Paraswara YouTube channel. The results of the study found 137 speech events consisting of 57 code-switching data and 80 code-mixing data, with 10 samples from each form analyzed in more depth. The results show that code-switching and code-mixing are dominated by external forms, in the form of the use of English clauses and the insertion of words, phrases, and hybrid forms in Indonesian speech. This phenomenon is influenced by the speakers' bilingual abilities, the topic of the creative industry, and the function of emphasizing meaning in digital communication. Penelitian ini bertujuan mendeskripsikan bentuk alih kode dan campur kode, faktor penyebab, serta fungsi penggunaan bahasa campuran dalam podcast Cinta Laura dan Raditya Dika di YouTube berdasarkan kajian sosiolinguistik. Penelitian menggunakan metode deskriptif kualitatif dengan teknik simak dan catat pada video “Strategi Kreatif yang Berangkat dari Keresahan Personal” di kanal YouTube Paraswara. Hasil penelitian menemukan 137 peristiwa tutur yang terdiri atas 57 data alih kode dan 80 data campur kode, dengan 10 sampel dari masing-masing bentuk dianalisis lebih mendalam. Hasil menunjukkan bahwa alih kode dan campur kode didominasi bentuk ekstern, berupa penggunaan klausa bahasa Inggris serta penyisipan kata, frasa, dan bentuk hibrida dalam tuturan bahasa Indonesia. Fenomena ini dipengaruhi kemampuan bilingual penutur, topik industri kreatif, dan fungsi penegasan makna dalam komunikasi digital.