Perkembangan teknologi digital dan maraknya game online mendorong munculnya variasi bahasa baru pada Generasi Alpha, termasuk dalam komunikasi lisan sehari-hari. Namun, kajian mengenai penggunaan terminologi game online pada anak usia sekolah dasar masih terbatas. Penelitian ini bertujuan untuk mendeskripsikan bentuk terminologi game online, menganalisis makna kontekstualnya, serta menjelaskan fungsi sosial penggunaannya dalam komunikasi lisan anak. Penelitian menggunakan pendekatan kualitatif dengan jenis deskriptif analitik. Subjek penelitian adalah siswa kelas III sekolah dasar (usia 8–9 tahun) yang aktif menggunakan istilah game dalam interaksi sehari-hari. Data dikumpulkan melalui observasi dan wawancara, kemudian dianalisis menggunakan perspektif sosiolinguistik dan konsep neologisme. Hasil penelitian menunjukkan bahwa istilah seperti sigma, rizz, sus, NPC, GOAT, dan slay digunakan secara aktif dalam komunikasi lisan di luar konteks permainan. Secara linguistik, istilah tersebut terbentuk melalui proses neologisme, seperti peminjaman, akronim, pemendekan, dan pergeseran makna. Secara sosiolinguistik, penggunaannya berfungsi untuk membentuk identitas, mengekspresikan emosi, membangun solidaritas, serta meningkatkan efisiensi komunikasi. Selain itu, makna istilah bersifat kontekstual dan dibentuk melalui interaksi sosial antarpenutur. Temuan ini menunjukkan bahwa bahasa gamer merupakan variasi bahasa yang dinamis dan terintegrasi dalam praktik komunikasi Generasi Alpha. Penelitian ini menegaskan bahwa pengaruh budaya digital tidak hanya menghasilkan kosakata baru, tetapi juga membentuk pola makna dan fungsi sosial bahasa dalam kehidupan sehari-hari anak.