Claim Missing Document
Check
Articles

Found 13 Documents
Search

Stuart Halls Reception in Netizens Comments on the Close the Door Podcast Episode Featuring Buya Arrazy: An Islamic Communication Perspective Balqis, Farah Dalilah; Walisyah, Tengku
Riwayat: Educational Journal of History and Humanities Vol 8, No 4 (2025): Oktober, Social Issues and Problems in Society
Publisher : Universitas Syiah Kuala

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24815/jr.v8i4.49675

Abstract

This study aims to analyze netizens responses to Buya Arrazys statements in Deddy Corbuziers Close The Door podcast on his YouTube channel, using Stuart Halls Reception Theory and the Ethics of Islamic Communication. The study highlights how the use of social media produces meaning based on each users ideological position. This research employs a descriptive qualitative method with thematic analysis, applying a virtual ethnography approach to examine netizens comments. The findings show that audiences occupy three reception positions: Dominant, Negotiated, and Oppositional, with the Oppositional position being the most prevalent. Furthermore, the results reveal that some netizens engage in critique following the ethics of Islamic communication, such as Qaulan Baligha, Layyina, Sadida, Karima, and Maisura. Conversely, there are also comments that do not reflect Islamic communication ethics. The novelty of this study lies in the integration of Stuart Halls Reception Theory with Islamic communication ethics as an analytical model to understand digital communication, particularly in religious discourse within the public sphere. This research offers an interdisciplinary approach between Western theory and Islamic perspectives. Such integration provides a theoretical contribution to the expansion of digital communication analysis models grounded in Islamic values. This approach remains rarely applied in contemporary Islamic communication studies, making it a valuable reference for understanding the dynamics of reception in public spaces.
Deconstructing Masculinity: K–Pop's Effect in Shaping a New Representation of Men Walisyah, Tengku; Sikumbang, Ahmad Tamrin; Efendi, Erwan
Pena Justisia: Media Komunikasi dan Kajian Hukum Vol. 24 No. 1 (2025): Pena Justisia
Publisher : Faculty of Law, Universitas Pekalongan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.31941/pj.v24i2.6220

Abstract

This study examines how K-Pop culture influences the construction and deconstruction of male masculinity in Indonesia in complex social, cultural, and religious contexts. Using a virtual ethnography approach and social media sentiment analysis, this study reveals that representations of masculinity in K-Pop culture—which are gentle, aesthetic, and androgynous—challenge traditional Indonesian masculinity norms that emphasize assertiveness, dominance, and emotional restraint. K-Pop idols as cosmetic brand ambassadors introduced a new form of masculine expression that was more inclusive, but triggered resistance from conservative Islamic norms and values. The novelty of this research lies in the integration of visual analysis, online discourse, and religious perspectives in explaining the negotiation of gender identity in the digital era. The findings show that masculinity is now a tug-of-war between global and local values. Social media serves as a cultural mediation arena where new masculine images can be negotiated, tested, and maintained. This study confirms that K-Pop is influential as an ideological agent in destabilizing and reformulating the boundaries of male identity in contemporary Indonesian society.
Semiotika Pesan Dakwah Kekinian Gen-Z dalam Saluran Whatsapp Ustadz Hanan Attaki Ginting, Sri Tsulatsiah Putri Nabilah; Faridah, Faridah; Walisyah, Tengku
Journal of Innovative and Creativity Vol. 5 No. 3 (2025)
Publisher : Fakultas Ilmu Pendidikan Universitas Pahlawan Tuanku Tambusai

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Pendahuluan. Perkembangan teknologi komunikasi digital telah mengubah cara penyampaian pesan dakwah. Media sosial seperti Whatsapp memiliki peranan penting dalam penyampaian dakwah yang efektif terutama kepada gen-Z. Penelitian ini bertujuan untuk melihat visualisasi konten pesan dakwah tema Akhlak yang terdapat di dalam saluran Whatsapp Ustadz Hanan Attaki dan juga untuk mengetahui Makna denotasi, konotasi dan mitos yang terdapat di dalam saluran Whatsapp Ustadz Hanan Attaki. Metode. Penelitian ini menggunakan jenis penelitian kualitatif pendekatan analisis konten berbasis Semiotika Roland Barthes. Dengan menggunakan dua teknik pengumpulan data yaitu Observasi dan Studi Dokumentasi, data dalam penelitian ini diperoleh dari dokumentasi isi saluran WhatsApp resmi Ustadz Hanan Attaki, yang kemudian dianalisis melalui tiga tahapan makna. Hasil. Hasil penelitian menunjukkan bahwa Visualisasi konten pesan dakwah dalam Saluran Whatsapp Ustadz Hanan Attaki yang terdiri dari sembilan konten yang menjadi fokus penelitian ini dapat diterima dan mampu dipahami oleh gen-Z. Kemudian makna konten pesan dakwah pada level denotasi pesan dakwah tampil dalam bentuk visual dan teks yang sederhana, akrab, dan menggunakan bahasa gaul, kemudian pada level konotasi gaya tersebut mengandung makna kedekatan emosional, penguatan identitas religius yang inklusif, dan representasi bahwa Islam dapat dirangkul tanpa meninggalkan gaya hidup modern. Sementara pada level mitos, dakwah Hanan Attaki membentuk narasi ideologis bahwa hijrah dan keislaman tidak bertentangan dengan kehidupan urban, melainkan bagian integral dari identitas spiritual generasi muda. Kesimpulan. Penelitian ini menyimpulkan bahwa komunikasi dakwah Ustadz Hanan Attaki melalui saluran WhatsApp efektif dalam menjangkau Generasi Z. Visualisasi konten bertema akhlak mampu menarik perhatian sekaligus memudahkan pemahaman pesan. Analisis denotasi, konotasi, dan mitos menunjukkan bahwa penggunaan simbol dan bahasa yang dekat dengan budaya audiens membuat pesan dakwah lebih relevan, mudah diterima, dan berdampak positif dalam kehidupan sehari-hari. Dengan demikian, saluran WhatsApp tidak hanya menjadi media dakwah, tetapi juga sarana membangun komunikasi interaktif dan pembelajaran berkelanjutan bagi generasi muda.