Guntur Pratama
Universitas Negeri Surabaya

Published : 1 Documents Claim Missing Document
Claim Missing Document
Check
Articles

Found 1 Documents
Search

Pengaruh Adiksi AI Terhadap Kemampuan Berpikir Kritis Siswa: Pengaruh Adiksi AI Terhadap Kemampuan Berpikir Kritis Siswa Guntur Pratama; Kharisma Hilmi; Wiryo Nuryono
Didaktik : Jurnal Ilmiah PGSD STKIP Subang Vol. 12 No. 02 (2026): Volume 12 Nomor 02, Juni 2026 Published
Publisher : STKIP Subang

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.36989/didaktik.v12i02.15767

Abstract

Perkembangan Artificial Intelligence (AI) telah memberikan perubahan yang signifikan dalam dunia pendidikan dengan menghadirkan berbagai kemudahan dalam memperoleh informasi, menyelesaikan tugas akademik, serta mendukung proses pembelajaran. Di sisi lain, penggunaan AI yang berlebihan berpotensi menimbulkan adiksi atau ketergantungan yang dapat memengaruhi kemampuan berpikir kritis peserta didik. Penelitian ini bertujuan untuk mendeskripsikan pengaruh adiksi AI terhadap kemampuan berpikir kritis siswa berdasarkan hasil kajian pustaka. Penelitian menggunakan metode kualitatif dengan pendekatan studi kepustakaan (library research) melalui pengumpulan dan analisis berbagai sumber ilmiah berupa buku, jurnal, dan artikel yang relevan. Hasil kajian menunjukkan bahwa adiksi AI ditandai oleh ketergantungan individu dalam menyelesaikan tugas dan mengambil keputusan dengan mengandalkan sistem AI sehingga mengurangi keterlibatan proses berpikir mandiri. Kondisi tersebut berkaitan dengan fenomena cognitive offloading, yaitu pemindahan sebagian proses berpikir kepada teknologi. Ketergantungan terhadap AI berdampak pada menurunnya kemampuan menganalisis informasi, mengevaluasi sumber, menyusun argumen, memecahkan masalah, serta menghasilkan gagasan secara mandiri. Namun demikian, AI tetap memberikan manfaat positif apabila dimanfaatkan secara proporsional, kritis, dan disertai literasi digital yang memadai. Oleh karena itu, penggunaan AI dalam pendidikan perlu diarahkan sebagai sarana pendukung pembelajaran, bukan sebagai pengganti proses berpikir peserta didik, sehingga kemampuan berpikir kritis tetap dapat berkembang secara optimal.