Kharisma Hilmi
Universitas Negeri Surabaya

Published : 2 Documents Claim Missing Document
Claim Missing Document
Check
Articles

Found 2 Documents
Search

Pendidikan Sebagai Sistem Guntur Sandi Pratama; Bakhrudin All Habsy; Abdan Habib Syakur; Kharisma Hilmi
Jurnal Penelitian Pendidikan Indonesia (JPPI) Vol. 2 No. 2 (2025): Januari
Publisher : Publikasi Inspirasi Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.62017/jppi.v2i2.2816

Abstract

Penelitian ini menggunakan metode penelitian kualitatif, metode penelitian kualitatif merupakan studi yang meneliti suatu kualitas hubungan, aktivitas, situasi, atau berbagai material. Artinya penelitian kualitatif lebih menekankan pada deskripsi. (Nina Adlini dkk., 2022). Metode yang digunakan adalah studi pustaka (library research), pengumpulan data dengan cara mencari sumber dan merkontruksi dari berbagai sumber seperti buku, jurnal, dan riset-riset yang sudah ada. (Nina Adlini dkk., 2022). Hasil penelitian menunjukkan bahwa interaksi antar sistem pendidikan memberikan dampak yang signifikan untuk mencapai tujuan pendidikan yang diinginkan. Pendidikan sebagai sebuah sistem adalah perpaduan yang lengkap dan dinamis, yang Sistem berasal dari bahasa Yunani “systema” yang memiliki arti sehimpunan bagian atau komponen yang saling berhubungan secara teratur dan merupakan suatu keseluruhan. Bisa dibilang sistem adalah istilah yang mempunyai makna sangat luas dan dapat dipakai sebagai sebutan yang melekat pada sesuatu. (Purwaningsih dkk., 2022). Pendidikan sebagai sistem terbentuk dari beberapa subsistem tujuan, pelajar, manajemen, struktur dan jadwal waktu, materi, tenaga pengajar dan pelaksana, alat bantu belajar, teknologi, fasilitas, kendali mutu, penelitian, dan biaya pendidikan. Tujuan penelitian ini menganalisis tentang sistem pada pendidikanterdiri dari berbagai komponen seperti kurikulum, pengajaran, pembelajaran, dan evaluasi. Penelitian ini memberitahukan bagaimana sistem pendidikan bisa menyesuaikan dengan perubahan sosial, teknologi, dan ekonomi. Dengan memahami pendidikan sebagai sistem, kita dapat mengembangkan strategi yang lebih efektif untuk meningkatkan hasil belajar dan mempersiapkan generasi mendatang menghadapi tantangan yang ada dan yang akan datang.
Pengaruh Adiksi AI Terhadap Kemampuan Berpikir Kritis Siswa: Pengaruh Adiksi AI Terhadap Kemampuan Berpikir Kritis Siswa Guntur Pratama; Kharisma Hilmi; Wiryo Nuryono
Didaktik : Jurnal Ilmiah PGSD STKIP Subang Vol. 12 No. 02 (2026): Volume 12 Nomor 02, Juni 2026 Published
Publisher : STKIP Subang

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.36989/didaktik.v12i02.15767

Abstract

Perkembangan Artificial Intelligence (AI) telah memberikan perubahan yang signifikan dalam dunia pendidikan dengan menghadirkan berbagai kemudahan dalam memperoleh informasi, menyelesaikan tugas akademik, serta mendukung proses pembelajaran. Di sisi lain, penggunaan AI yang berlebihan berpotensi menimbulkan adiksi atau ketergantungan yang dapat memengaruhi kemampuan berpikir kritis peserta didik. Penelitian ini bertujuan untuk mendeskripsikan pengaruh adiksi AI terhadap kemampuan berpikir kritis siswa berdasarkan hasil kajian pustaka. Penelitian menggunakan metode kualitatif dengan pendekatan studi kepustakaan (library research) melalui pengumpulan dan analisis berbagai sumber ilmiah berupa buku, jurnal, dan artikel yang relevan. Hasil kajian menunjukkan bahwa adiksi AI ditandai oleh ketergantungan individu dalam menyelesaikan tugas dan mengambil keputusan dengan mengandalkan sistem AI sehingga mengurangi keterlibatan proses berpikir mandiri. Kondisi tersebut berkaitan dengan fenomena cognitive offloading, yaitu pemindahan sebagian proses berpikir kepada teknologi. Ketergantungan terhadap AI berdampak pada menurunnya kemampuan menganalisis informasi, mengevaluasi sumber, menyusun argumen, memecahkan masalah, serta menghasilkan gagasan secara mandiri. Namun demikian, AI tetap memberikan manfaat positif apabila dimanfaatkan secara proporsional, kritis, dan disertai literasi digital yang memadai. Oleh karena itu, penggunaan AI dalam pendidikan perlu diarahkan sebagai sarana pendukung pembelajaran, bukan sebagai pengganti proses berpikir peserta didik, sehingga kemampuan berpikir kritis tetap dapat berkembang secara optimal.