Retno Enggar Lestari
Universitas Islam Negeri K.H. Abdurrahman Wahid Pekalongan

Published : 2 Documents Claim Missing Document
Claim Missing Document
Check
Articles

Found 2 Documents
Search

KONSTRUKSI TOTAL QUALITY MANAGEMENT (TQM) DALAM PENGEMBANGAN KOMPETENSI GURU PAI: ANALISIS KRITIS KEPUSTAKAAN DEKADE TERAKHIR Retno Enggar Lestari; Afif Sulton; Samet Untung; Firda Natasya Khaerunisa
Didaktik : Jurnal Ilmiah PGSD STKIP Subang Vol. 12 No. 3 (2026): Volume 12 No. 3, September 2026 Release
Publisher : STKIP Subang

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.36989/didaktik.v12i3.17246

Abstract

The demands for modern educational quality force Islamic educational institutions to adopt Total Quality Management (TQM) to enhance the performance of Islamic Religious Education (IRE) teachers. However, implementing this industrial system risks eroding the spiritual values of educators. Therefore, this study aims to critically evaluate the impact of TQM standardization on the personality competence of IRE teachers and to formulate a quality governance framework aligned with *tarbiyah* (Islamic educational) values. This study employs a library research method with a critical-analytical approach, examining various national academic literatures published over the last decade. The literature analysis reveals a managerial paradox. On the one hand, TQM principles have successfully transformed the conventional management of teachers into a structured, disciplined, and accountable system. On the other hand, a rigid obsession with completing accreditation forms has triggered an excessive clerical burden, leading to mental exhaustion (*burnout*) among educators. Consequently, valuable time for spiritual interaction and moral guidance between teachers and students is lost. In response to this conflict, this study concludes the urgency of implementing a "Humanistic-Religious TQM" concept. This concept calls for bureaucratic simplification, the utilization of digital automation, and a redefinition of the meaning of educational quality. The quality assurance system must be repositioned as an instrument of service that frees up IRE teachers' time, ensuring that the sustainability of their personality competence and dignity as true *murabbi* (educators) is maintained amidst global accountability demands.
Epistimologi dalam Pendidikan Islam: Dari Wahyu Menuju Pemahaman Ilmiah Nafila Mubarokah; Zidan El Zaldie; Retno Enggar Lestari; Risma Wati Agustina; Abdul Khobir
Al-Ilmiya: Jurnal Pendidikan Islam Vol. 1 No. 4 (2026): Al-Ilmiya: Jurnal Pendidikan Islam (Januari)
Publisher : Al-Ilmiya: Jurnal Pendidikan Islam

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Epistemologi pendidikan Islam dihadapkan pada tantangan fragmentasi antara wahyu, akal, dan pengalaman spiritual dalam praktik pendidikan saat ini yang seringkali menimbulkan dikotomi antara pengetahuan agama dan sekuler, serta kecenderungan untuk mengutamakan pendekatan tekstual-normatif yang mengabaikan aspek rasional dan intuitif-spiritual. Artikel ini bertujuan untuk membangun kembali dasar-dasar epistemologis pendidikan Islam dengan mengintegrasikan tiga paradigma kunci bayani (wahyu), burhani (akal-empiris), dan irfani (intuisi-spiritual), sebagai respons terhadap krisis makna dan relevansi pendidikan agama di tengah gelombang modernitas dan kebutuhan generasi muda akan pendekatan holistik. Dengan menerapkan metode deskriptif kuntitatif melalui pembagian angket, penelitian ini mengungkapkan bahwa ketiga paradigma tersebut tidak saling bertentangan, melainkan saling mendukung dalam kerangka tauhid, 'adl, dan akhlak al-karimah. Integrasi ini tidak hanya memungkinkan pendidikan Islam tetap berakar pada nilai-nilai wahyu, tetapi juga memungkinkannya beradaptasi dengan perkembangan ilmiah kontemporer dan kebutuhan pembentukan karakter yang komprehensif intelektual, moral, dan spiritual. Temuan ini secara teoritis berkontribusi pada pengembangan model pendidikan Islam yang komprehensif, kritis, dan sesuai konteks. Hal ini khususnya relevan dalam menghadapi kompleksitas peradaban digital dan tantangan eksistensial Generasi Z.