zidan el zaldie
Universitas Islam Negeri K.H. Abdurrahman Wahid Pekalongan

Published : 4 Documents Claim Missing Document
Claim Missing Document
Check
Articles

Found 4 Documents
Search

Implementation of Teacher Professional Ethics in Social Media Activities in the Digital Era Indah Ayu Febriana; Nur Khasanah; Nafila Mubarokah Mubarokah; zidan el zaldie
JUPE : Jurnal Pendidikan Mandala Vol 11 No 2 (2026): JUPE : Jurnal Pendidikan Mandala (Juni)
Publisher : Lembaga Penelitian dan Pendidikan Mandala

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.58258/320kh996

Abstract

This study aims to examine the normative basis of teacher professional ethics based on Law Number 14 of 2005 and examine its implementation in the use of social media in the digital era. The study uses a qualitative descriptive approach through a literature review by examining various regulations and relevant scientific literature from the past ten years. The results of the study indicate that teacher professionalism is not only determined by mastery of pedagogical, professional, social, and personality competencies, but also by moral integrity and adherence to the professional code of ethics. Technological developments expand ethical practices into the digital realm, presenting both opportunities and challenges, particularly regarding behavior on social media and student data protection. The government has responded by developing digital ethics guidelines, strengthening literacy through professional development programs, and providing protection and law enforcement mechanisms. Although their implementation still faces obstacles such as the digital literacy gap, limited access to training, and less than optimal dissemination of regulations. Therefore, ongoing strengthening efforts are needed through improving digital ethics competencies, establishing a school culture based on moral values, and collaboration between the government, professional organizations, and educational units. This study confirms that teaching professional ethics in the digital era is an inseparable part of adaptive professionalism, while adhering to humanitarian values and moral responsibility. Keywords: teaching professional ethics, professionalism, social media, digital literacy, education policy.
Peranan Psikologi Pendidikan Dalam Mendorong Pertumbuhan Dan Perkembangan Holistik Peserta Didik Melalui Aspek Kognitif, Afektif, Dan Psikomotorik Zidan el Zaldie; Ma’mun Hanif
Al-Ilmiya: Jurnal Pendidikan Islam Vol. 1 No. 3 (2025): Al-Ilmiya: Jurnal Pendidikan Islam (November)
Publisher : Al-Ilmiya: Jurnal Pendidikan Islam

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Diskusi ini mengkaji secara komprehensif konsep-konsep dasar pertumbuhan dan perkembangan siswa dengan menyoroti keterkaitan antara aspek fisik, kognitif, afektif, psikomotorik, dan spiritual dalam kerangka psikologi pendidikan dan penerapan pendekatan holistik. Pertumbuhan dan perkembangan individu terjadi secara bertahap, dari prenatal hingga dewasa, yang mencakup transformasi biologis dan psikologis yang saling bergantung. Secara kognitif, perkembangan siswa mencerminkan pematangan fungsi otak, yang berkorelasi dengan peningkatan kemampuan berpikir, analitis, dan pengambilan keputusan. Sementara itu, aspek afektif berperan krusial dalam membentuk sikap, nilai, dan motivasi belajar, yang menjadi dasar pengembangan karakter siswa. Aspek psikomotorik menekankan keterampilan fisik yang terkoordinasi dengan sistem saraf dan otot, yang berkembang melalui latihan, lingkungan yang suportif, dan kondisi emosional yang positif. Psikologi pendidikan berkontribusi dalam memahami dinamika perkembangan ini untuk membantu guru merancang strategi pembelajaran yang sesuai dengan tingkat kesiapan dan potensi siswa. Penerapan pendidikan holistik merupakan pendekatan integratif untuk mengembangkan siswa secara holistik, yang menggabungkan perkembangan intelektual, emosional, sosial, fisik, kreatif, dan spiritual. Pendekatan ini menekankan nilai-nilai hubungan, tanggung jawab, dan rasa hormat sebagai prinsip utama pendidikan yang berorientasi pada keseimbangan antara iman, sains, dan moral. Dengan demikian, konsep pertumbuhan dan perkembangan siswa tidak hanya dipahami sebagai proses biologis, tetapi juga sebagai perjalanan multidimensi menuju pembentukan manusia yang berkarakter, beriman, dan berdaya saing.
Pesantren sebagai Model Pendidikan Sepanjang Hayat (Life Long Education): Relevansi Metode Tradisional di Era Modern. zidan el zaldie; Nur Khasanah
Al-Ilmiya: Jurnal Pendidikan Islam Vol. 1 No. 3 (2025): Al-Ilmiya: Jurnal Pendidikan Islam (November)
Publisher : Al-Ilmiya: Jurnal Pendidikan Islam

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Konsep pendidikan sepanjang hayat (Pendidikan Sepanjang Hayat/PJH) mengacu pada pembelajaran yang berlangsung terus-menerus sepanjang hidup, mencakup pendidikan formal, nonformal, dan informal. UNESCO (2015) menekankan bahwa tujuan PJH adalah untuk mengembangkan potensi individu secara menyeluruh dalam aspek pribadi, sosial, ekonomi, dan budaya. Konsep ini sejalan dengan ajaran Islam yang mengharuskan umatnya untuk menuntut ilmu sepanjang hidup, sebagaimana tercantum dalam hadis Nabi Muhammad SAW. Pendidikan sepanjang hayat dapat ditemukan dalam berbagai bentuk, salah satunya melalui pesantren sebagai lembaga pendidikan Islam tradisional. Pesantren mengintegrasikan pendidikan agama dengan nilai-nilai moral, akhlak, dan spiritual, yang tetap relevan meskipun menghadapi tantangan modernisasi. Pesantren tradisional, yang berfokus pada pengajaran kitab-kitab kuning dan metode halaqah, memiliki peran penting dalam pembentukan karakter dan akhlak santri. Meskipun demikian, pesantren tidak luput dari tuntutan adaptasi terhadap perkembangan teknologi dan sistem pendidikan global. Di era digital, pesantren mulai mengintegrasikan teknologi dalam proses pembelajaran untuk meningkatkan efektivitas pendidikan tanpa mengorbankan nilai-nilai tradisional. Oleh karena itu, pesantren sebagai lembaga pendidikan Islam dapat memainkan peran penting dalam konsep pendidikan sepanjang hayat, menggabungkan tradisi dengan inovasi guna menghadapi tantangan zaman yang terus berubah.    
Epistimologi dalam Pendidikan Islam: Dari Wahyu Menuju Pemahaman Ilmiah Nafila Mubarokah; Zidan El Zaldie; Retno Enggar Lestari; Risma Wati Agustina; Abdul Khobir
Al-Ilmiya: Jurnal Pendidikan Islam Vol. 1 No. 4 (2026): Al-Ilmiya: Jurnal Pendidikan Islam (Januari)
Publisher : Al-Ilmiya: Jurnal Pendidikan Islam

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Epistemologi pendidikan Islam dihadapkan pada tantangan fragmentasi antara wahyu, akal, dan pengalaman spiritual dalam praktik pendidikan saat ini yang seringkali menimbulkan dikotomi antara pengetahuan agama dan sekuler, serta kecenderungan untuk mengutamakan pendekatan tekstual-normatif yang mengabaikan aspek rasional dan intuitif-spiritual. Artikel ini bertujuan untuk membangun kembali dasar-dasar epistemologis pendidikan Islam dengan mengintegrasikan tiga paradigma kunci bayani (wahyu), burhani (akal-empiris), dan irfani (intuisi-spiritual), sebagai respons terhadap krisis makna dan relevansi pendidikan agama di tengah gelombang modernitas dan kebutuhan generasi muda akan pendekatan holistik. Dengan menerapkan metode deskriptif kuntitatif melalui pembagian angket, penelitian ini mengungkapkan bahwa ketiga paradigma tersebut tidak saling bertentangan, melainkan saling mendukung dalam kerangka tauhid, 'adl, dan akhlak al-karimah. Integrasi ini tidak hanya memungkinkan pendidikan Islam tetap berakar pada nilai-nilai wahyu, tetapi juga memungkinkannya beradaptasi dengan perkembangan ilmiah kontemporer dan kebutuhan pembentukan karakter yang komprehensif intelektual, moral, dan spiritual. Temuan ini secara teoritis berkontribusi pada pengembangan model pendidikan Islam yang komprehensif, kritis, dan sesuai konteks. Hal ini khususnya relevan dalam menghadapi kompleksitas peradaban digital dan tantangan eksistensial Generasi Z.