Luk Luil Adni
Universitas Hamzanwadi

Published : 3 Documents Claim Missing Document
Claim Missing Document
Check
Articles

Found 3 Documents
Search

PENINGKATAN PEMAHAMAN MAHASISWA TERHADAP IMPLEMENTASI MANAJEMEN DAN PENGEMBANGAN PROGRAM BIMBINGAN DAN KONSELING DI SMP MELALUI FOCUS GROUP DISCUSSION Riza Hidayati; Maharani; Nurlaila Syipa’unnupus; Indah Shofianita; Latif Hamidi; Eli Ermayanti; Luk Luil Adni; Sintia Pratiwi; Siti Zawyah Nanga Wara; Rizkia Maulida; Anisa Sapira; Silmi Rostiana; Imam Nawawi Zain; M. Muzayyin Fanani; Fitri Aulia
Didaktik : Jurnal Ilmiah PGSD STKIP Subang Vol. 11 No. 03 (2025): Volume 11 No. 03 September 2025
Publisher : STKIP Subang

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.36989/didaktik.v11i03.17677

Abstract

This study aims to examine the improvement of university students' understanding of the implementation of guidance and counseling (GC) management and program development at junior high schools through the Focus Group Discussion (FGD) method. The study employed a qualitative approach using a case study design. Data were collected through in-depth interviews, observations, and documentation, and analyzed using the Miles, Huberman, and Saldaña model, which includes data condensation, data display, and conclusion drawing. The findings indicate that prior to participating in the FGD, students' understanding of the implementation of GC management and program development was limited to conceptual knowledge and they had difficulty relating theory to actual school practices. After participating in the FGD, students demonstrated a significant improvement in understanding, particularly regarding the stages of GC program management, including needs assessment, planning, implementation, evaluation, and program follow-up. This improvement was supported by interactive discussions, the facilitator's expertise, the relevance of the materials to real school practices, and opportunities for participants to exchange ideas and experiences. However, several challenges were identified, including differences in students' prior knowledge, limited field experience, and the relatively short duration of the FGD sessions. Therefore, the study concludes that Focus Group Discussion is an effective learning strategy for bridging the gap between theory and practice and for enhancing the professional readiness of Guidance and Counseling students in implementing and developing school guidance and counseling programs.
Makna Pengembangan Pribadi Konselor bagi Peningkatan Profesionalitas Guru BK dalam Pelaksanaan Konseling Individu di SMP: Studi Kualitatif Fenomenologis Ratna Aida Hifzi Inayatika; Saopian Azhari; Baiq Mahyatun; Luk Luil Adni; Yuliana Asmiati; Luski Meri Alfin; Indra Surya Ali; Sintiya Pratiwi; Nanang Ervia
Jurnal Ilmiah Profesi Pendidikan Vol. 11 No. 3 (2026): Agustus
Publisher : Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan, Universitas Mataram

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.29303/jipp.v11i3.5290

Abstract

Konseling individu merupakan layanan inti dalam bimbingan dan konseling yang menuntut guru Bimbingan dan Konseling (BK) tidak hanya memiliki kompetensi teknis, tetapi juga kualitas pribadi yang memadai. Dalam praktiknya, efektivitas konseling individu sangat dipengaruhi oleh kemampuan konselor memahami diri, mengelola emosi, menunjukkan empati, serta membangun hubungan yang autentik dengan konseli. Penelitian ini bertujuan untuk mengungkap makna pengembangan pribadi konselor bagi peningkatan profesionalitas guru BK dalam pelaksanaan konseling individu di SMP. Penelitian menggunakan pendekatan kualitatif dengan desain fenomenologi interpretatif. Partisipan penelitian terdiri atas 1 guru BK yang aktif memberikan layanan konseling individu. Data dikumpulkan melalui wawancara semi-terstruktur dan observasi. Analisis data dilakukan melalui proses reduksi data, pengkodean tematik, interpretasi makna, dan penarikan kesimpulan. Hasil penelitian menunjukkan bahwa pengembangan pribadi dimaknai guru BK sebagai proses pembentukan kesadaran diri profesional, penguatan kematangan emosional, pengembangan kepekaan interpersonal, dan internalisasi nilai-nilai etika profesi. Dengan demikian dapat disimpulkan bahwa pengembangan pribadi memiliki makna yang sangat penting dalam meningkatkan profesionalitas guru Bimbingan dan Konseling pada pelaksanaan layanan konseling individu. Pengembangan pribadi dimaknai sebagai proses berkelanjutan yang membentuk kesadaran diri, kematangan emosional, empati, kemampuan komunikasi, refleksi diri, dan integritas profesional.
Pengalaman Siswa Terisolir Dalam Mengembangkan Relasi Sosial Melalui Layanan Konseling Individu Saopian Azhari; Ratna Aida Hifzi Inayatika; Baiq Mahyatun; Luk Luil Adni; Yuliana Asmiati; Luski Meri Alfin; Indra Surya Ali; Sintiya Pratiwi; Nanang Ervia
Jurnal Ilmiah Profesi Pendidikan Vol. 11 No. 3 (2026): Agustus
Publisher : Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan, Universitas Mataram

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.29303/jipp.v11i3.5291

Abstract

Penelitian ini bertujuan untuk mendeskripsikan pengalaman siswa terisolir dalam mengembangkan relasi sosial melalui layanan konseling individu di sekolah .Penelitian menggunakan pendekatan kualitatif dengan desain studi kasus. Teknik pengumpulan data dilakukan melalui observasi, angket sosiometri, wawancara mendalam, dan dokumentasi. Analisis data menggunakan model Miles dan Huberman yang meliputi reduksi data, penyajian data, dan penarikan kesimpulan, sedangkan keabsahan data diperoleh melalui triangulasi sumber Subjek penelitian terdiri atas satu siswa yang teridentifikasi sebagai siswa terisolir berdasarkan hasil angket sosiometri, dengan guru Bimbingan dan Konseling (BK) serta wali kelas sebagai informan pendukung. Hasil penelitian menunjukkan bahwa keterisoliran siswa dipengaruhi oleh pengalaman menjadi korban bullying pada masa sekolah dasar yang menimbulkan trauma, rasa takut ditolak, dan rendahnya kepercayaan diri dalam berinteraksi sosial. Layanan konseling individu membantu siswa mengungkapkan pengalaman traumatis, meningkatkan kepercayaan diri, serta mendorong keberanian untuk mulai berinteraksi dengan teman sebaya. Keberhasilan layanan didukung oleh kolaborasi antara guru BK, wali kelas, orang tua, dan teman sebaya sehingga siswa menunjukkan perubahan positif berupa keberanian menyapa teman, berpartisipasi dalam diskusi kelompok, dan menjalin hubungan sosial yang lebih baik. Dengan demikian dapat disimpulkan bahwa Layanan konseling individu terbukti efektif menjadi wadah yang aman bagi siswa untuk mengekspresikan pengalaman traumatis, mengelola kecemasan, serta membangun kembali rasa percaya dirinya secara bertahap. Setelah mengikuti layanan konseling individu, siswa menunjukkan dinamika perubahan positif, seperti mulai berani menyapa teman, terlibat dalam kerja kelompok, serta berpartisipasi lebih aktif dalam aktivitas pembelajaran.