Abdul Rozak
Syarif Hidayatullah State Islamic University Jakarta

Published : 2 Documents Claim Missing Document
Claim Missing Document
Check
Articles

Found 2 Documents
Search

The Integration of Al-Ghazali’s Ta’dib Framework in Shaping the Contemporary Pesantren Curriculum: Insights from Indonesia Eny Fatimatuszuhro Pahlawati; Al Amin; Al Munip; Muttaqin Muttaqin; Boby Hendro Wardono; Abdul Rozak
Jurnal Ushuluddin Vol. 33 No. 2 (2025): December
Publisher : Universitas Islam Negeri Sultan Syarif Kasim Riau

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24014/jush.v33i2.38008

Abstract

Pesantren in Indonesia are increasingly challenged by modernization, state-driven standardization, and globalization, which have fragmented religious and secular knowledge, marginalizedmoral and spiritualformation, and reduced educationto merecredentialism—developments that contradict Imam al-Ghazali’s classical vision of ethical and spiritual refinement. To address these challenges, this study proposes a practical model for integrating al-Ghazali’s ta’dib framework—emphasizing adab (discipline), tazkiyah (spiritual purification), mujāhadah (inner struggle), niyyah (sincerity), and ma‘rifah (divine knowledge)—into contemporary pesantren curricula and evaluates its effectiveness through measurable indicators. Adopting a qualitative dual-method design, the research combines hermeneutical analysis of al-Ghazali’s seminal works (Iḥyā’ ‘Ulūm al-Dīn, Ayyuhā al-Walad, al-Tarbiyah wa al-Ta‘līm, al-Risālah al-Ladunniyyah) with field-based case studies in three purposively selected pesantren. Data were collected through semi-structured interviews (n=12), participant observations, and document analysis, and subjected to thematic coding. The study addresses three key gaps in the literature: the absence of empirical implementation models, the lack of rigorous evaluation frameworks, and limited stakeholder-driven research. From field validation, a ta’dib integration model with seven quantifiable indicators was developed—moral reasoning, spiritual disposition, academic performance, pedagogical coherence, stakeholder satisfaction, institutional alignment, and ritual engagement. Findings revealed significant improvements in student character scores (18%) and academic achievement (12%) after one year. Key enabling factors included strong kyai leadership and community involvement, while barriers stemmed from accreditation demands and insufficient teacher training. The results suggest that systematic ta’dib integration can alignspiritual and moralformation with academic excellence, offering evidence-based guidance for pesantren leaders and policymakers in advancing holistic, value-based educationalreform.
Peran Organisasi Perguruan Pencak Silat Beksi Sejati Haji Hasbullah Upaya Pelestarian Kesenian Tradisi Betawi Fatkhur Dwi Adriansyah; Abdul Rozak; Zaharah Zaharah
Jurnal Dinamika Sosial Budaya Vol. 25 No. 2 (2023): Desember (2023)
Publisher : Universitas Semarang

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.26623/jdsb.v25i4.8062

Abstract

Dalam penelitian ini mempunyai tujuan untuk mengetahui perihal Peran Organisasi Perguruan Pencak Silat Beksi Sejati Haji Hasbullah dalam upayanya melestarikan kesenian tradisi Betawi di Kelurahan Kreo Selatan. Penelitian ini dilakukan menggunakan pendekatan penelitian kualitatif dengan metode analisis deskriptif dan teknik pengumpulan data yang digunakan adalah observasi, wawancara, dan dokumentasi. Analisis data model Miles dan Huberman yang meliputi Reduksi Data, Penyajian Data, dan Pengambilan Kesimpulan atau Verifikasi. Dalam keabsahan data menggunakan teknik perpanjangan pengamatan dan triangulasi yang terdiri dari teknik dan sumber.Hasil penelitian yang diperoleh bahwasanya Peran Organisasi Perguruan Pencak Silat Beksi Sejati Haji Hasbullah dalam upaya pelestarian kesenian tradisi Betawi di Kreo Selatan yaitu menjalankan kegiatan-kegiatan berkelanjutan secara aktif dalam periode kepengurusannya dari berbagai bidang, diantaranya Keagamaan, Kebudayaan, dan Sosial disertai pola interaksi dengan sistem kekeluargaan. Organisasi itu memiliki karakteristik yang berupa Peran, Tugas, dan Fungsi, serta Manfaat yang dilakukan dalam upaya melestarikan kesenian tradisi Betawi di Kreo Selatan. Selain itu menggunakan analisis SWOT dalam strategi pelestarian budaya dan menggunakan Implementasi Strategi Manajemen Pelestarian Budaya yang terdiri dari Perlindungan, Pengembangan, dan Pemanfaatan. Bentuk kepercayaan yang dijalankan oleh seluruh pengurus organisasinya adalah kepada Tuhan Yang Maha Esa dengan beragama Islam. Implementasi nilai-nilai moral tetap berperilaku yang baik dimanapun berada, dan peninggalan budaya dengan kemurnian ilmu Silat Beksi yang telah diwariskan dari guru-guru sebelumnya.