Latar Belakang: Penanganan Diabetes Melitus Tipe 2 (DMT2) pada lansia di layanan primer sering kali hanya berfokus pada terapi medis konvensional dengan mengabaikan aspek psikososial. Stres psikis kronis dapat memperburuk kontrol glikemik melalui aktivasi aksis HPA yang berlebihan. Tujuan: Tujuan penelitian ini adalah untuk menilai tingkat stres yang dirasakan (perceived stress) serta menguji pengaruh usia dan durasi penyakit terhadap distres psikologis pada lansia penderita DMT2 yang tinggal di komunitas. Metode: Penelitian kuantitatif deskriptif analitik dengan pendekatan cross sectional dilakukan terhadap 30 lansia melalui teknik purposive sampling di Puskesmas Rawat Inap Jungkat. Beban psikologis diukur menggunakan instrumen Perceived Stress Scale 10 dan data dianalisis dengan uji korelasi Rank Spearman. Hasil: Seluruh responden mengalami distres psikologis, dengan 60,0% berada pada kategori sedang dan 40,0% kategori berat. Terdapat korelasi positif yang signifikan antara tingkat stres dengan peningkatan usia (r=0,432; p=0,021) serta lama menderita DMT2 (r=0,512; p=0,015). Kesimpulan: Seluruh responden di Puskesmas Rawat Inap Jungkat mengalami distres psikologis, dengan tingkat stres yang cenderung meningkat seiring dengan bertambahnya usia lansia dan lamanya durasi menderita Diabetes Melitus Tipe 2. Hasil ini secara empiris menunjukkan bahwa kerentanan psikologis responden berbanding lurus dengan proses penuaan biologis dan kronisitas penyakit. Mengingat keterbatasan jumlah sampel yang kecil dan lingkup penelitian yang hanya mencakup satu lokasi, temuan ini tidak dapat digeneralisasi untuk populasi yang lebih luas. Namun, hasil ini memberikan urgensi bagi fasilitas layanan primer di wilayah kerja Puskesmas Rawat Inap Jungkat untuk mempertimbangkan integrasi asuhan psikogeriatrik, khususnya melalui penerapan pelatihan manajemen stres sebagai prosedur tetap dalam tata laksana DMT2 di komunitas.