Halusinasi pendengaran merupakan salah satu gangguan persepsi sensori yang sering ditemukan pada pasien dengan gangguan jiwa, terutama skizofrenia. Kondisi ini ditandai dengan munculnya persepsi suara tanpa adanya rangsangan nyata yang dapat memengaruhi kemampuan individu dalam berinteraksi sosial, menjalankan aktivitas sehari-hari, dan kualitas hidup. Tujuan studi kasus ini adalah menerapkan manajemen asuhan keperawatan jiwa dengan pendekatan service excellent pada Tn. M yang mengalami halusinasi pendengaran di Ruangan Sorik Merapi 6 UPTD Khusus RSJ Prof. Dr. Muhammad Ildrem Provinsi Sumatera Utara Tahun 2026. Metode yang digunakan adalah studi kasus dengan pendekatan deskriptif. Pengumpulan data dilakukan melalui wawancara, observasi, dan dokumentasi. Proses asuhan keperawatan meliputi pengkajian, penetapan diagnosis keperawatan, intervensi, implementasi, dan evaluasi keperawatan. Hasil pengkajian menunjukkan bahwa Tn. M mengalami halusinasi pendengaran yang ditandai dengan mendengar suara memanggil nama serta menyuruh melakukan tindakan tertentu, perilaku berbicara sendiri, menarik diri, dan kontak mata kurang. Diagnosa keperawatan yang ditegakkan yaitu halusinasi pendengaran dan isolasi sosial. Intervensi yang diberikan meliputi membina hubungan saling percaya, mengidentifikasi karakteristik halusinasi, mengajarkan teknik menghardik, bercakap-cakap, aktivitas terjadwal, serta kepatuhan minum obat. Hasil evaluasi menunjukkan adanya penurunan frekuensi halusinasi, peningkatan kemampuan mengontrol halusinasi, meningkatnya interaksi sosial, dan kepatuhan pasien terhadap pengobatan. Penerapan asuhan keperawatan jiwa dengan service excellent terbukti membantu meningkatkan kondisi pasien secara bertahap.