p-Index From 2021 - 2026
0.408
P-Index
This Author published in this journals
All Journal Illea
Claim Missing Document
Check
Articles

Found 2 Documents
Search

Konseling Suportif dan Perubahan Stres yang Dirasakan pada Ibu dengan Kehamilan Risiko Tinggi: Studi Pretest–Posttest Nurfaidah; Ade Irma; Ayu Sri Wiyanti; Anuthfa Amri; Asbudi; Hardianti Rahman
Illea : Journal of Health Sciences, Public Health and Medicine Vol. 2 No. 2 (2026): Juni
Publisher : Education and Talent Development Center Indonesia (ETDC Indonesia)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.51574/illea.v2i2.5582

Abstract

Kehamilan risiko tinggi dapat meningkatkan tekanan psikologis akibat kekhawatiran terhadap kondisi ibu, perkembangan janin, komplikasi kehamilan, dan proses persalinan. Konseling suportif berpotensi membantu ibu mengekspresikan kekhawatiran, memperoleh informasi yang tepat, dan mengembangkan strategi koping yang lebih adaptif. Tujuan penelitian ini untuk menganalisis perubahan tingkat stres yang dirasakan pada ibu dengan kehamilan risiko tinggi sebelum dan setelah pemberian konseling suportif. Penelitian ini menggunakan desain kuasi-eksperimental satu kelompok sebelum–sesudah tanpa kelompok kontrol. Sebanyak 50 ibu dengan kehamilan risiko tinggi di Desa Taccorong, Kabupaten Bulukumba, dipilih melalui purposive sampling. Peserta memperoleh empat sesi konseling suportif individual selama empat minggu, dengan durasi 45–60 menit per sesi. Tingkat stres diukur menggunakan Perceived Stress Scale-10 sebelum dan setelah intervensi. Data dianalisis menggunakan Wilcoxon Signed-Rank Test dengan taraf signifikansi .05. Sebelum intervensi, 3 peserta (6%) mengalami stres ringan, 36 peserta (72%) mengalami stres sedang, dan 11 peserta (22%) mengalami stres berat. Setelah intervensi, jumlah peserta dengan stres ringan meningkat menjadi 42 orang (84%), stres sedang menurun menjadi 8 orang (16%), dan tidak terdapat peserta dengan stres berat. Median skor PSS-10 menurun dari 23,0 (IQR 20,0–26,0) menjadi 10,0 (IQR 8,0–13,0), dengan median perubahan sebesar −12,0 poin (95% CI −14,0 hingga −10,0). Uji Wilcoxon menunjukkan perbedaan yang bermakna antara skor sebelum dan sesudah intervensi (Z=-6,197), p<.001), dengan ukuran efek besar (r=0,88). Kesimpulan: Tingkat stres yang dirasakan menurun secara bermakna setelah pemberian konseling suportif. Konseling suportif berpotensi menjadi intervensi pendamping dalam pelayanan antenatal bagi ibu dengan kehamilan risiko tinggi. Namun, karena penelitian tidak menggunakan kelompok kontrol, penelitian terkontrol diperlukan untuk mengonfirmasi hubungan kausal dan keberlanjutan efek intervensi.
Hubungan Persepsi Pasien terhadap Implementasi Integrasi Pelayanan Kesehatan Primer dengan Kepuasan Pasien Rawat Jalan di Puskesmas Ampana Timur, Kabupaten Tojo Una-Una Anuthfa Amri; Nining Djamal; Asbudi; Nurfaidah
Illea : Journal of Health Sciences, Public Health and Medicine Vol. 2 No. 2 (2026): Juni
Publisher : Education and Talent Development Center Indonesia (ETDC Indonesia)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.51574/illea.v2i2.5583

Abstract

Integrasi Pelayanan Kesehatan Primer (ILP) ditujukan untuk meningkatkan keterpaduan, kesinambungan, dan responsivitas pelayanan di Puskesmas. Namun, bukti mengenai hubungan persepsi pasien terhadap implementasi ILP dengan kepuasan pasien masih terbatas. Adapun tujuan penelitian ini yaitu menganalisis hubungan persepsi pasien terhadap lima dimensi ILP dengan kepuasan pasien rawat jalan di Puskesmas Ampana Timur. Penelitian ini menggunakan metode observasional analitik dengan desain potong lintang dilakukan pada September 2025 terhadap 83 pasien rawat jalan yang dipilih secara consecutive sampling. Persepsi terhadap Klaster Manajemen, Ibu dan Anak, Usia Dewasa dan Lanjut Usia, Penanggulangan Penyakit Menular, Lintas Klaster, serta kepuasan pasien diukur menggunakan kuesioner terstruktur. Data dianalisis menggunakan korelasi Pearson dan regresi linear berganda dengan pendidikan sebagai kovariat. Berdasarkan penelitian ini. Sebanyak 79,5% responden dikategorikan puas. Proporsi penilaian positif tertinggi terdapat pada Klaster Penanggulangan Penyakit Menular (88,0%), sedangkan yang terendah pada Lintas Klaster (62,7%). Model regresi signifikan dan menjelaskan 64,6% variasi kepuasan pasien ((R^2=0,646); adjusted (R^2=0,618); (p<0,001)). Lintas Klaster menunjukkan hubungan paling kuat dengan kepuasan ((B=0,263); (\beta=0,344); (p<0,001)), diikuti Klaster Manajemen dan Klaster Usia Dewasa dan Lanjut Usia. Pendidikan berhubungan negatif dengan kepuasan ((B=-1,397); (p=0,001)). Persepsi pasien yang lebih positif terhadap implementasi ILP berkaitan dengan kepuasan yang lebih tinggi. Penguatan koordinasi Lintas Klaster dan manajemen pelayanan perlu menjadi prioritas.