Claim Missing Document
Check
Articles

Found 2 Documents
Search

Khidmah dan Pedagogi Kerja Kolektif: Tradisi Haul-Haflah Sebagai Spirit Pendidikan Karakter di Pondok Pesantren Al-Iman Bulus Purworejo Akhmad Luthfi Mubarok; Ghufron Hamzah
Blantika: Multidisciplinary Journal Vol. 4 No. 7 (2026): Blantika: Multidisciplinary Journal
Publisher : PT. Publikasiku Academic Solution

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.57096/blantika.v4i7.533

Abstract

Tradisi haul dan haflah di pondok pesantren merupakan ruang kultural yang sangat sarat makna, namun belum banyak dikaji secara sistematis sebagai medium pembentukan karakter santri. Penelitian ini hadir untuk mengisi celah tersebut dengan menganalisis peran haul dan haflah dalam membentuk karakter santri melalui tiga lensa teoritis, yaitu kearifan lokal, nilai khidmah, dan experiential learning. Penelitian ini menggunakan pendekatan kualitatif dengan metode studi pustaka dan analisis konseptual. Data dikumpulkan dari literatur primer dan sekunder yang mencakup kitab kuning, karya akademik tentang pesantren, jurnal terindeks Sinta, serta teori-teori pendidikan karakter kontemporer. Analisis dilakukan secara tematik untuk mengidentifikasi pola nilai dan mekanisme pembentukan karakter dalam tradisi haul dan haflah. Hasil penelitian menunjukkan bahwa haul dan haflah berfungsi sebagai medium pembentukan karakter yang efektif karena mengintegrasikan dimensi spiritual, sosial, dan kultural secara simultan. Kearifan lokal menjadi fondasi nilai, khidmah menjadi praktik pengabdian yang membentuk empati dan tanggung jawab sosial, sedangkan experiential learning menjadi kerangka proses belajar yang bermakna. Inti dari proses ini adalah apa yang penelitian ini sebut sebagai Pedagogi Kerja Kolektif: pilihan sadar pesantren untuk mempertahankan kerja kolektif langsung memasak, menjahit, mendekorasi, dan mengelola acara berskala besar secara mandiri sebagai wahana pedagogis yang tidak tergantikan, bukan karena soal efisien atau tidaknya, melainkan karena kerja kolektif itu sendiri adalah kurikulum karakter. Penelitian ini berkontribusi dalam memperkaya khazanah keilmuan pendidikan karakter berbasis pesantren dan menawarkan model konseptual yang relevan bagi pengembangan pendidikan karakter di lembaga pendidikan Islam.
Rekonstruksi Historis Pendidikan Islam Pra-Walisongo di Nusantara Akhmad Luthfi Mubarok; Mudzakir Ali
Jurnal Pendidikan Indonesia Vol. 7 No. 8 (2026): Jurnal Pendidikan Indonesia (Japendi)
Publisher : Publikasi Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.59141/japendi.v7i8.10612

Abstract

Pendidikan Islam di Nusantara tidak dapat dipahami hanya melalui fase Walisongo. Jauh sebelum para wali berkiprah secara intensif di Jawa, proses transmisi ajaran Islam telah berlangsung seiring dengan islamisasi kawasan pesisir, pertumbuhan komunitas Muslim, serta munculnya kerajaan-kerajaan Islam awal di wilayah Sumatera dan kawasan Melayu. Dalam konteks tersebut, fase pra-Walisongo merupakan tahap penting yang menandai lahirnya praktik pendidikan Islam awal di Nusantara. Namun, fase ini masih relatif kurang mendapat perhatian khusus dalam kajian sejarah pendidikan Islam. Oleh karena itu, artikel ini bertujuan merekonstruksi pendidikan Islam pra-Walisongo di Nusantara dengan menelaah konteks historis islamisasi, bentuk dan ruang pendidikan, para aktor yang berperan, serta kedudukannya sebagai fondasi bagi perkembangan pendidikan Islam pada masa Walisongo dan sesudahnya. Penelitian ini menggunakan pendekatan kualitatif berbasis kajian kepustakaan dengan perspektif sejarah-historiografis. Sumber data diperoleh dari buku-buku sejarah Islam Indonesia, artikel jurnal ilmiah, dan karya akademik lain yang relevan dengan Islamisasi Nusantara dan sejarah pendidikan Islam awal. Hasil penelitian menunjukkan bahwa pada fase pra-Walisongo telah berkembang praktik pendidikan Islam yang bersifat sederhana, nonformal, dan berbasis komunitas. Pendidikan berlangsung di rumah pedagang dan ulama, masjid, surau, meunasah, rangkang, serta dayah, dengan pelaku utama berupa pedagang muslim, ulama, sufi, dan elite politik setempat. Pola pengajaran halaqah, pembinaan keagamaan berbasis komunitas, serta tradisi pendidikan berasrama pada lembaga seperti dayah menunjukkan kesinambungan yang kuat dengan perkembangan pesantren pada masa Walisongo. Dengan demikian, pendidikan Islam pra-Walisongo dapat dipahami sebagai fase embrional sekaligus fondasi sejarah bagi pertumbuhan pendidikan Islam di Nusantara.