Abstrak Penelitian ini bertujuan untuk melihat bagaimana pengalaman nyata orang tua dalam membantu mengelola emosi anak usia 1–2 tahun (toddler) di Kampung Tegal Wangi, Cilegon, Banten, serta faktor apa saja yang melatarbelakangi. Penelitian ini menggunakan pendekatan kualitatif fenomenologi untuk menggali cerita yang jujur dan mendalam langsung dari situasi kehidupan informan. Data dalam skripsi ini dikumpulkan melalui wawancara mendalam kepada 5 orang tua yang dipilih secara khusus, serta didukung oleh foto dokumentasi dan penggunaan catatan lapangan (fieldnote) selama berada di lokasi riset. Hasil penelitian menunjukkan bahwa kemampuan setiap orang tua berbeda-beda saat menghadapi anak yang rewel. Orang tua yang memiliki pemahaman baik tentang pengasuhan cenderung bisa lebih sabar. Mereka mampu menenangkan anak secara fisik saat menangis (co-regulation), memberikan contoh perilaku yang tenang (emotional modeling), dan pintar memberi tahu nama perasaan kepada anak (emotion labeling). Sebaliknya, kemampuan ini bisa terhambat oleh beberapa masalah nyata, seperti kurangnya ilmu mengasuh anak, rasa lelah fisik, dan kejenuhan mengurus rumah sendirian (parenting burnout). Masalah-masalah inilah yang memicu stres sehingga orang tua refleks membentak atau terpaksa memberikan HP sebagai penenang instan (digital pacifier). Kesimpulannya, kemampuan orang tua dalam melatih emosi anak sangat bergantung pada cara mereka menahan emosi diri sendiri, di mana bantuan nyata dari suami lewat kerja sama mengasuh anak (coparenting) menjadi faktor pendukung yang paling utama. Kata kunci: Kemampuan Orang Tua, Mengembangkan Regulasi Emosi, Anak Usia Toddler, Faktor Pengasuhan, Kerja Sama Suami Istri (Coparenting). Abstract This study aims to examine the lived experiences of parents in managing the emotions of toddlers (aged 1–2 years) in Kampung Tegal Wangi, Cilegon, Banten, as well as the underlying factors involved. A qualitative phenomenological approach was employed to elicit honest, in-depth narratives directly from the informants' real-life situations. Data were gathered through in-depth interviews with five purposively selected parents, supplemented by photographic documentation and field notes recorded at the research site. The findings reveal that parents vary in their ability to handle a fussy child. Parents with a solid understanding of child-rearing tend to exhibit greater patience; they are able to physically soothe a crying child (co-regulation), model calm behavior (emotional modeling), and effectively teach their children to identify and name their feelings (emotion labeling). Conversely, these abilities can be hindered by tangible challenges such as a lack of parenting knowledge, physical exhaustion, and the burnout associated with managing the household alone. These issues trigger stress, leading parents to reflexively shout or resort to using a mobile phone as an instant soother (digital pacifier). In conclusion, a parent's ability to foster emotional regulation in their child depends heavily on their own capacity to manage their emotions, with tangible support from a spouse through shared parenting (coparenting) serving as the primary facilitating factor. Keywords : Parental Ability, Developing Emotional Regulation, Toddlers, Parenting Factors, Co-parenting