Claim Missing Document
Check
Articles

Found 2 Documents
Search

Mangrove Rehabilitation Action: Growing Hope from the Coast in Tabu Hamlet, Bone Regency, South Sulawesi Muchtar Amiluddin; Mohammad Roin Najih; Anisa Aulia Sabilah; Irwan; Yasser Arafat; Yakub Suleman; Ismail; Hawati; Khairul Jamil; Awaluddin; Deni Sarianto; Lalu Penta Febri Suryadi
Majalah Pengabdian Indonesia Vol. 3 No. 1 (2026): April 2026
Publisher : Teras Kampus as a member of PT Palem Edukasi Nusantara

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.69616/maindo.v3i1.558

Abstract

Mangrove ecosystems play a critical ecological role in maintaining coastal stability by serving as natural buffers against erosion, storing blue carbon, and providing habitat for marine organisms. In recent years, coastal zones in Bone Regency, South Sulawesi, have been degraded due to anthropogenic activities such as mangrove clearing, land conversion for aquaculture, and coastal infrastructure development. To address this issue, the Politeknik Kelautan dan Perikanan Bone in collaboration with Lembaga Survey Nypah Indonesia conducted a community service activity titled “Mangrove Rehabilitation Action: Growing Hope from the Coastline”. The activity was held on November 8th, 2025, in Tabu Hamlet, Waetuwo Village, Tanete Riattang Timur Sub-district, Bone Regency. Its objectives were to restore the mangrove ecosystem, raise community awareness of environmental conservation, and foster collaboration between vocational education institutions, environmental organizations, and local communities. A total of 100 participants—including students, lecturers, and residents—planted 2,000 seedlings of Rhizophora mucronata and Avicennia marina. The activity improved participants’ understanding of mangrove ecology, strengthened community-academic collaboration, and initiated plans for an eco-education area. This program serves as a participatory model for sustainable coastal ecosystem restoration.
SEBARAN DAERAH PENANGKAPAN BAGAN PERAHU DI SAMUDERA HINDIA Ratih Martia Rahmani; Deni Sarianto; Tashwir Tashwir; Indra Syamson; Zalmi Rosano; Mesenu Mesenu; Siti Aisyah
JOURNAL OF SCIENCE AND SOCIAL RESEARCH Vol. 8 No. 4 (2025): November 2025
Publisher : Smart Education

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.54314/jssr.v8i4.4510

Abstract

Abstract: Fishing areas have long been used by fishermen to determine the potential or not of a body of water. Mapping of fishing areas is often forgotten by fishermen in determining whether or not an area has the potential to be targeted. This research aims to map fishing areas using fishing gear and the types of fish caught in the Indian Ocean. This research was carried out in the waters of the Mentawai Islands and Tiku waters, West Sumatra Province. The research results show that there are three fishing areas in the Indian Ocean, namely (1) Siberut Island Zone, (2) Siberut Tiku Inter-Island Zone and (3) Tiku Zone. The main catch was 16 types of fish which were the target catch. The biggest catches are mackerel, Gymnocranius griseus and Carangoides armatus. The smallest catch is anchovies. With such a small catch of anchovies, it can be said that Bagan is no longer the main target for anchovies. This change was caused by the difficult fishing areas for anchovies and the cheap selling prices for anchovies. Keyword: Catch, Fishing ground, Mapping, Zone, Sustainability Abstrak: Daerah penangkapan telah lama digunakan oleh para nelayan untuk menentukan potensial atau tidak suatu perairan. Pemetaan daerah penangkapan seringkali dilupakan oleh nelayan dalam menentukan potensial atau tidaknya suatu perairan yang akan dijadikan sasaran penangkapan. Penelitian ini bertujuan untuk memetakan daerah penangkapan dengan alat tangkap bagan dan jenis ikan yang tertangkap di Samudera Hindia. Penelitian ini dilaksanakan di Perairan Kepulauan Mentawai dan Perairan Tiku, Propinsi Sumatera Barat. Hasil penelitian menunjukkan bahwa terdapat tiga wilayah daerah penangkapan di Samudera Hindia yaitu (1) Zona Pulau Siberut, (2) Zona antar Pulau Siberut Tiku dan (3) zona Tiku. Hasil tangkapan utama diperoleh sebanyak 16 jenis ikan yang menjadi target tangkapan. Tangkapan terbanyak adalah ikan kembung, gulamah, dan kuwe. Tangkapan paling sedikit adalah ikan teri. Dengan hasil tangkapan teri yang sedikit dapat dikatakan bahwa bagan bukan lagi target utamanya ikan teri. Perubahan ini disebabkan oleh daerah penangkapan ikan teri susah makin susah dan harga jual ikan teri yang semakin murah. Kata kunci: Daerah tangkapan, Hasil tangkapan, Keberlanjutan, Pemetaan, Zona