Apendisitis akut merupakan salah satu penyebab tersering kasus bedah abdomen darurat di dunia yang masih menjadi tantangan dalam penegakan diagnosis serta pemilihan tatalaksana yang tepat. Variasi gejala yang menyerupai penyakit abdomen akut lain sering menyebabkan keterlambatan diagnosis maupun peningkatan angka negative appendectomy. Kajian ini bertujuan merekonstruksi mekanisme patofisiologi apendisitis akut, mengevaluasi pendekatan diagnostik, serta menelaah efektivitas manajemen non-operatif dibandingkan tindakan operatif. Penelitian menggunakan metode literature review deskriptif naratif melalui penelusuran artikel ilmiah pada database Google Scholar, PubMed, ScienceDirect, Garuda, dan Neliti tahun 2015–2025 menggunakan kata kunci terkait apendisitis akut, diagnosis, patofisiologi, dan tatalaksana non-operatif. Dari 58 artikel yang teridentifikasi, diperoleh 10 artikel yang memenuhi kriteria inklusi dan dianalisis secara deskriptif. Hasil kajian menunjukkan bahwa obstruksi lumen akibat fekalit, hiperplasia limfoid, maupun pola diet rendah serat menjadi faktor utama terjadinya inflamasi apendiks. Penegakan diagnosis paling efektif dilakukan melalui kombinasi sistem skoring, pemeriksaan fisik spesifik, marker inflamasi laboratorium, dan pencitraan. Tatalaksana antibiotik pada apendisitis tanpa komplikasi menunjukkan hasil non-inferior terhadap apendektomi pada luaran jangka pendek, meskipun sebagian pasien tetap memerlukan operasi lanjutan. Dengan demikian, diagnosis yang cepat dan akurat sangat penting untuk menentukan strategi terapi yang optimal serta mencegah komplikasi berat seperti perforasi, peritonitis, dan sepsis.