Claim Missing Document
Check
Articles

Found 10 Documents
Search

PERAN OMEGA-3 DALAM ALGA MERAH UNTUK MENCEGAH PENYAKIT JANTUNG : TINJAUAN LITERATUR Aulia, Siti Zahroni; Karyana, Dewa Ngakan Nyoman; Wedangga, I Putu Reza; Saputri, Legis Octaviana
Jurnal Kesehatan Tambusai Vol. 6 No. 3 (2025): SEPTEMBER 2025
Publisher : Universitas Pahlawan Tuanku Tambusai

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.31004/jkt.v6i3.49146

Abstract

Alga merah termasuk salah satu jenis tumbuhan tingkat rendah yang memilki banyak kandungan vitamin dan mineral. Asam lemak omega-3 dan omega-6 dapat ditemukan dalam alga merah dan penting untuk kesehatan otak dan jantung. Penyakit jantung menjadi penyebab kematian utama di dunia dan dipicu oleh banyak faktor salah satunya faktor nutrisi yang tidak sehat dan pola makan. Penulisan ini mengkaji bagaimana peran Omega-3 yang terkandung dalam alga merah untuk kesehatan jantung. Metode yang digunakan adalah Literature review dari berbagai sumber dengan kata kunci “Cardiovascular disease”, “Red Algae”, “Rhodophyta”, “Omega-3”. Hasil yang diperoleh adalah beberapa spesies alga merah yang ditemukan di Indonesia mengandung Asam Eikosapentaenoat (EPA). Omega-3 diketahui memiiki manfaat bagi jantung dengan efek antiinflamasi, antiaritmia, antitrombotik, dan memelihara fungsi endotel. Uji klinis membuktikan omega-3 signifikan mengurangi kejadian penyakit jantung sebesar 25% dan direkomendasikan untuk mengonsumsi DHA dan EPA dalam kisaran 300-600 mg per hari untuk mencegah penyakit jantung
APENDISITIS AKUT : REKONSTRUKSI PATOFISIOLOGI DAN TANTANGAN DALAM PENEGAKAN DIAGNOSIS SERTA MANAJEMEN NON-OPERATIF A LITERATURE RIVIEW I Putu Reza Wedangga; Annisa Nuralfiah; Shafira Adinda Putri; Baiq Rizqika Catur Putri; Hudiya Ramadhani Virgianto; Aurellia Sabela Faiz; Ghina Aqillah Yasmine; Putri Rabiatun; Muhammad Iqbal Daniswara; Fito Danang Sofiandi; Mulyanatul Aliyyah; Lalu Aditya Satyawan; Raehanul Bahraen
Jurnal Kesehatan Tambusai Vol. 7 No. 2 (2026): JUNI 2026
Publisher : Universitas Pahlawan Tuanku Tambusai

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.31004/jkt.v7i2.52788

Abstract

Apendisitis akut merupakan salah satu penyebab tersering kasus bedah abdomen darurat di dunia yang masih menjadi tantangan dalam penegakan diagnosis serta pemilihan tatalaksana yang tepat. Variasi gejala yang menyerupai penyakit abdomen akut lain sering menyebabkan keterlambatan diagnosis maupun peningkatan angka negative appendectomy. Kajian ini bertujuan merekonstruksi mekanisme patofisiologi apendisitis akut, mengevaluasi pendekatan diagnostik, serta menelaah efektivitas manajemen non-operatif dibandingkan tindakan operatif. Penelitian menggunakan metode literature review deskriptif naratif melalui penelusuran artikel ilmiah pada database Google Scholar, PubMed, ScienceDirect, Garuda, dan Neliti tahun 2015–2025 menggunakan kata kunci terkait apendisitis akut, diagnosis, patofisiologi, dan tatalaksana non-operatif. Dari 58 artikel yang teridentifikasi, diperoleh 10 artikel yang memenuhi kriteria inklusi dan dianalisis secara deskriptif. Hasil kajian menunjukkan bahwa obstruksi lumen akibat fekalit, hiperplasia limfoid, maupun pola diet rendah serat menjadi faktor utama terjadinya inflamasi apendiks. Penegakan diagnosis paling efektif dilakukan melalui kombinasi sistem skoring, pemeriksaan fisik spesifik, marker inflamasi laboratorium, dan pencitraan. Tatalaksana antibiotik pada apendisitis tanpa komplikasi menunjukkan hasil non-inferior terhadap apendektomi pada luaran jangka pendek, meskipun sebagian pasien tetap memerlukan operasi lanjutan. Dengan demikian, diagnosis yang cepat dan akurat sangat penting untuk menentukan strategi terapi yang optimal serta mencegah komplikasi berat seperti perforasi, peritonitis, dan sepsis.
PENERAPAN PERILAKU HIDUP BERSIH DAN SEHAT (PHBS) MELALUI EDUKASI CUCI TANGAN PADA ANAK PRA SEKOLAH DI TK AL HAFIZ, DESA MALAKA, KABUPATEN LOMBOK UTARA Al Hafiez Ariouso; Rafi Radityo Daniswara; I Putu Reza Wedangga; Putu Arta Wibawa; Keisya Sherani Attari Yasmin; Mufidah Radwah Ja'faruddin; Indri Tiffani; Alfira Savitri; Alfiya Qurrata Aini; Sheilla Ninditya
Jurnal Abdi Insani Vol 13 No 7 (2026): Jurnal Abdi Insani
Publisher : Universitas Mataram

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.29303/abdiinsani.v13i7.3985

Abstract

Clean and Healthy Living Behavior (PHBS) in early childhood is an important effort to prevent the transmission of infectious diseases such as diarrhea and acute respiratory infections (ARI); however, handwashing practices among preschool children in Indonesia remain suboptimal, highlighting the need for early education using interactive, practice-based approaches involving teachers and the school environment. Various studies have shown that handwashing education interventions in educational settings are effective in improving children's knowledge, skills, and compliance. This community service activity aimed to improve the knowledge and skills of preschool children in applying proper handwashing techniques through interactive education at TK Al Hafiz, Malaka Village, North Lombok Regency. The activity employed an educational socialization method through counseling on sanitation, hygiene, and PHBS, conducted on August 13, 2025, involving 20 students and medical students from the Faculty of Medicine and Health Sciences, Universitas Mataram, as facilitators. The implementation included material delivery and direct practice of the six-step handwashing technique, while evaluation was conducted through observation of the children’s abilities. The results showed an improvement in the accuracy and independence of children in performing handwashing steps, accompanied by high enthusiasm during the activity and support from teachers and parents in sustaining the behavior. PHBS education through handwashing training has proven effective in improving children's knowledge and skills, making it an important promotive and preventive approach in establishing healthy behaviors from an early age.  
Perioperative Management of Patients with Obstructive Sleep Apnea: A Narrative Review Rama Aditya Baihaqi; I Putu Reza Wedangga; Salman Fawwaz Wahid
JURNAL KESEHATAN, SAINS, DAN TEKNOLOGI (JAKASAKTI) Vol. 5 No. 2 (2026): JURNAL KESEHATAN, SAINS, DAN TEKNOLOGI (JAKASAKTI)
Publisher : LPPM Universitas Dhyana Pura

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

This narrative review aimed to examine current evidence on the perioperative management of patients with OSA, focusing on preoperative screening and risk assessment, airway and anesthetic management, analgesic strategies, postoperative respiratory care, positive airway pressure (PAP) therapy, and perioperative complications. Literature searches were conducted through PubMed/MEDLINE and Google Scholar using combinations of terms related to obstructive sleep apnea, perioperative management, preoperative screening, anesthesia, airway management, analgesia, postoperative respiratory complications, PAP therapy, and ambulatory surgery. Original studies, observational studies, systematic reviews, meta-analyses, clinical guidelines, and relevant narrative reviews were considered, with greater emphasis on publications from 2023 to 2026. The reviewed evidence indicated that preoperative identification of OSA, assessment of disease severity, airway characteristics, comorbidities, and surgical risk are important for perioperative planning. OSA was associated with increased respiratory adverse events and airway interventions during procedural sedation and higher odds of same-day hospital admission following ambulatory surgery. Regional or neuraxial anesthesia, opioid-sparing analgesia, neuromuscular blockade monitoring, postoperative respiratory surveillance, and appropriate use of PAP therapy were identified as important components of perioperative care. Overall, perioperative management should be individualized according to OSA characteristics, surgical procedure, anesthetic technique, opioid requirements, and postoperative monitoring needs.
A Comprehensive Narrative Review on the Underlying Mechanisms Diagnosis and Updated Guidelines for Managing Hepatitis B Virus Reactivation during Immunosuppressive Therapy Ayeshia Ryasti Mustario; I Putu Reza Wedangga; Rifdatul Imtiyaz Anshari; Ghazalkahfi Romero Devianto
JURNAL KESEHATAN, SAINS, DAN TEKNOLOGI (JAKASAKTI) Vol. 5 No. 2 (2026): JURNAL KESEHATAN, SAINS, DAN TEKNOLOGI (JAKASAKTI)
Publisher : LPPM Universitas Dhyana Pura

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

This narrative review aimed to examine the underlying mechanisms of HBV reactivation, identify major risk factors, and review current strategies for diagnosis, risk stratification, antiviral prophylaxis, monitoring, and management. Literature searches were conducted through PubMed/MEDLINE and Google Scholar using terms related to HBV, HBV reactivation, immunosuppressive therapy, diagnosis, prophylaxis, monitoring, chemotherapy, B-cell-depleting therapy, hematopoietic stem cell transplantation, and newer immunomodulatory agents. Original studies, observational studies, systematic reviews, meta-analyses, guidelines, consensus statements, and relevant clinical reviews were considered, with emphasis on recent evidence. The reviewed evidence indicates that HBV reactivation results from impaired immune control, allowing renewed viral replication from persistent HBV reservoirs, followed in some cases by hepatitis during immune restoration. Risk varies according to HBV serological status, baseline viral activity, underlying disease, and the type and intensity of immunosuppression, with particularly high risk associated with B-cell-depleting therapies and hematopoietic stem cell transplantation. Diagnosis requires assessment of HBsAg, anti-HBc, HBV DNA, alanine aminotransferase, and clinical findings before and during therapy. Current evidence supports risk-based antiviral prophylaxis with potent nucleos(t)ide analogues, particularly entecavir or tenofovir, while selected lower-risk patients may undergo regular monitoring. Updated EASL and AGA guidelines provide guidance for screening, prophylaxis, and post-treatment monitoring, although uncertainty remains for several newer immunomodulatory therapies. Individualized risk assessment and continued surveillance are essential to reduce HBV reactivation-related morbidity and mortality.
Pituitary Neuroendocrine Tumors: A Narrative Review of Epidemiology, Classification, Pathogenesis, Diagnosis, and Management Gede Tresna Ardiawan; I Putu Reza Wedangga; Adhwa x Renata
JURNAL KESEHATAN, SAINS, DAN TEKNOLOGI (JAKASAKTI) Vol. 5 No. 2 (2026): JURNAL KESEHATAN, SAINS, DAN TEKNOLOGI (JAKASAKTI)
Publisher : LPPM Universitas Dhyana Pura

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

This narrative review aimed to summarize current evidence on the epidemiology, classification, pathogenesis, clinical manifestations, diagnosis, histopathology, management, and prognosis of PitNETs. Literature searches were conducted through PubMed/MEDLINE and Google Scholar using combinations of terms related to PitNETs, pituitary adenomas, epidemiology, classification, genetic and epigenetic mechanisms, clinical manifestations, diagnosis, MRI, histopathology, treatment, recurrence, and prognosis. The reviewed evidence indicates that PitNETs range from incidental and clinically nonfunctioning tumors to hormone-secreting tumors associated with distinct endocrine syndromes. Recent classification systems emphasize transcription factor-based lineage determination, particularly PIT1, TPIT, and SF1, reflecting the biological heterogeneity of these tumors. Genetic alterations, epigenetic regulation, intracellular signaling abnormalities, mitochondrial dysfunction, and oxidative stress contribute to tumor development and behavior. Diagnosis requires integration of hormonal evaluation, pituitary magnetic resonance imaging, visual assessment when indicated, and histopathological examination. Management is individualized according to hormonal activity, tumor size, anatomical extension, visual or neurological involvement, and residual or recurrent disease. Long-term follow-up remains important because hormonal abnormalities, hypopituitarism, tumor recurrence, treatment-related complications, and impaired quality of life may persist despite treatment.
FETAL OUTCOMES IN PREGNANCY-SPECIFIC DERMATOSES : A SYSTEMATIC REVIEW A.A. Gde Duta Putrana Sasmatra; Rika Yolanda Putri; Florensa Putri Wijaya; I Putu Reza Wedangga; Yunita Hapsari
Jurnal Kesehatan Tambusai Vol. 7 No. 3 (2026): SEPTEMBER 2026
Publisher : Universitas Pahlawan Tuanku Tambusai

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.31004/jkt.v7i3.61144

Abstract

Pregnancy-specific dermatoses merupakan kelompok kelainan kulit yang muncul selama kehamilan dan memiliki tingkat risiko yang berbeda terhadap ibu maupun janin. Beberapa kondisi bersifat relatif jinak, sedangkan pemphigoid gestationis (PG) dan terutama intrahepatic cholestasis of pregnancy (ICP) dapat berhubungan dengan luaran janin dan perinatal yang merugikan. Penelitian ini bertujuan menganalisis hubungan pregnancy-specific dermatoses dengan luaran janin melalui pendekatan systematic review. Penelitian disusun berdasarkan pedoman Preferred Reporting Items for Systematic Reviews and Meta-Analyses (PRISMA). Pencarian literatur dilakukan melalui PubMed, Google Scholar, Wiley Online Library, dan ScienceDirect. Studi yang diikutsertakan merupakan penelitian kohort observasional pada ibu hamil dengan pregnancy-specific dermatoses yang melaporkan minimal satu luaran janin, neonatal, atau perinatal. Kualitas metodologis studi dinilai menggunakan Newcastle-Ottawa Scale (NOS). Dari 344 artikel yang teridentifikasi, empat studi memenuhi kriteria inklusi dengan kualitas metodologis baik hingga sangat baik (skor NOS 7-9). Studi yang memenuhi kriteria hanya mencakup ICP dan PG. Tiga studi ICP menunjukkan peningkatan risiko persalinan prematur, perawatan NICU, meconium-stained amniotic fluid, serta stillbirth, terutama pada kadar asam empedu ≥100 µmol/L. Sebaliknya, satu studi PG tidak menunjukkan hubungan bermakna dengan luaran neonatal yang buruk. ICP merupakan dermatosis yang paling konsisten berhubungan dengan luaran perinatal yang merugikan, sehingga deteksi dini dan pemantauan kadar asam empedu penting dilakukan.
SISTEM KLASIFIKASI FRAKTUR RADIUS DISTAL : TINJAUAN NARATIF PENGAMBILAN KEPUTUSAN DALAM TRAUMA ORTOPEDI Baiq Rizqika Catur Putri; Annisa Nuralfiah; Aurellia Sabela Faiz; Fito Danang Sofiandi; Ghina Aqillah Yasmine; Hudiya Ramadhani Virgianto; I Putu Reza Wedangga; Muhammad Iqbal Daniswara; Mulayanatul Aliyyah; Putri Rabiatun; Shafira Adinda Putri
Jurnal Kesehatan Tambusai Vol. 7 No. 3 (2026): SEPTEMBER 2026
Publisher : Universitas Pahlawan Tuanku Tambusai

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.31004/jkt.v7i3.61593

Abstract

Artikel ini bertujuan meninjau berbagai sistem klasifikasi fraktur radius distal serta pengaplikasiannya dalam pengambilan keputusan klinis. Artikel ini mengggunakan desain berupa narrative review melalui telaah pustaka dari literatur terkait fraktur radius distal yang membahas anatomi, epidemiologi, biomekanika, sistem klasifikasi dan reliabilitasnya, serta penerapannya dalam praktik klinis. Analisis dilakukan secara deskriptif dengan membandingkan karakteristik, kelebihan, dan kekurangan dari masing-masing sistem klasifikasi. Masing-masing sistem klasifikasi seperti Frykman, Fernandez, Melone, eponym, dan AO/OTA, memiliki pendekatan yang berbeeda berdasarkan kompleksitas fraktur maupun struktur anatomi. AO/OTA merupakan klasifikasi yang umum digunakan dan memudahkan komunikasi klinis, sedangkan klasifikasi Fernandez mempertimbangkan mekanisme cedera. Tidak terdapat suatu sistem klasfikasi yang benar-benar sempurna atau memiliki reliabilitas dan reproduksibilitas yang optimal, sehingga penilaian klinis perlu memadukan antara evaluasi radiografi, CT scan 3D (apabila diperlukan), karakteristik pasien, dan kriteria instabilitas. Pemilihan sistem klasifikasi fraktur radius distal perlu menyesuaikan tujuan klinis yang diharapkan serta kombinasi penilaian radiologis dan karakteristik pasien. Pendekatan yang komprehensif mendukung terapi yang tepat dengan mengharapkan luaran fungsional yang baik dan mengurangi risiko komplikasi pascatrauma.
RENAL SAFETY AND KIDNEY FUNCTION CHANGES ASSOCIATED WITH SGLT2 INHIBITORS IN PATIENTS WITH HFpEF/HFmrEF AND CKD : A SYSTEMATIC REVIEW I Wayan Putra Kesumantara Wiguna; Pande Komang Inten Widya Iswari Oka; I Putu Reza Wedangga; Ni Made Shinta Putri Kesumantara
Jurnal Kesehatan Tambusai Vol. 7 No. 3 (2026): SEPTEMBER 2026
Publisher : Universitas Pahlawan Tuanku Tambusai

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.31004/jkt.v7i3.62909

Abstract

Heart failure with preserved or mildly reduced ejection fraction (HFpEF/HFmrEF) sering disertai chronic kidney disease (CKD), sehingga meningkatkan risiko gangguan kardiorenal. SGLT2 inhibitors terbukti memperbaiki luaran gagal jantung, tetapi penurunan awal estimated glomerular filtration rate (eGFR) dapat menimbulkan kekhawatiran terhadap keamanan ginjal. Systematic review ini bertujuan mengevaluasi keamanan renal dan perubahan fungsi ginjal pada pasien dewasa dengan HFpEF/HFmrEF, terutama pada pasien dengan CKD. Pencarian literatur dilakukan melalui PubMed, Google Scholar, Wiley Online Library, ScienceDirect, dan Cochrane CENTRAL selama April-Juli 2026. Bukti utama berasal dari analisis renal EMPEROR-Preserved dan DELIVER. Hasil menunjukkan bahwa SGLT2 inhibitors dapat menyebabkan initial eGFR dip ringan setelah terapi dimulai, tetapi perubahan tersebut tidak menunjukkan pola kerusakan ginjal progresif. Pada EMPEROR-Preserved, perlambatan penurunan eGFR konsisten pada pasien dengan dan tanpa CKD, sedangkan hard kidney composite outcome tidak menunjukkan perbedaan bermakna berdasarkan definisi renal yang digunakan dalam trial. Pada DELIVER, dapagliflozin memperlambat penurunan eGFR jangka panjang meskipun composite kidney outcome tidak berbeda bermakna. Secara keseluruhan, SGLT2 inhibitors menunjukkan profil renal yang dapat diterima pada HFpEF/HFmrEF. Penurunan eGFR awal yang ringan tidak seharusnya menjadi alasan tunggal untuk menghentikan terapi, tetapi fungsi ginjal dan status volume tetap perlu dipantau secara klinis.
RECENT ADVANCES IN THE TREATMENT OF AGE-RELATED MACULAR DEGENERATION FROM ANTI-VEGF THERAPY TO COMPLEMENT INHIBITION Nazriel Ilham Adhyaksa; I Putu Reza Wedangga; I Wayan Putra Kesumantara Wiguna
Jurnal Kesehatan Tambusai Vol. 7 No. 3 (2026): SEPTEMBER 2026
Publisher : Universitas Pahlawan Tuanku Tambusai

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.31004/jkt.v7i3.63167

Abstract

Degenerasi makula terkait usia (age-related macular degeneration/AMD) merupakan salah satu penyebab utama kehilangan penglihatan sentral pada usia lanjut, terutama pada bentuk neovaskular (nAMD) dan atrofi geografis (GA). Perkembangan terapi AMD telah melampaui inhibisi vascular endothelial growth factor (VEGF) konvensional dengan hadirnya terapi berdurasi lebih panjang dan terapi yang dapat memperlambat progresi atrofi retina. Narrative review ini bertujuan meninjau perkembangan terbaru terapi AMD, meliputi terapi anti-VEGF, inhibisi komplemen, dan strategi terapi yang masih dalam tahap pengembangan. Pencarian literatur dilakukan melalui PubMed/MEDLINE dan Google Scholar, dengan publikasi tahun 2023–2026 sebagai sumber utama. Literatur dipilih berdasarkan relevansinya terhadap efektivitas, keamanan, interval pemberian, beban pengobatan, dan perkembangan terapi AMD. Pada nAMD, aflibercept 8 mg yang diberikan setiap 12 atau 16 minggu mampu mempertahankan ketajaman penglihatan yang sebanding dengan aflibercept 2 mg setiap 8 minggu. Faricimab juga memberikan hasil penglihatan yang sebanding dengan aflibercept, dengan sebagian pasien dapat menerima pengobatan setiap 12 atau 16 minggu. Pada GA, pegcetacoplan dan avacincaptad pegol dapat memperlambat pertumbuhan area atrofi, dengan efek pegcetacoplan tetap terlihat setelah 36 bulan pengobatan. Terapi gen seperti RGX-314 menunjukkan potensi menghasilkan efek anti-VEGF secara berkelanjutan pada penelitian fase awal. Perkembangan ini memperluas pilihan terapi AMD dan berpotensi mengurangi frekuensi pemberian obat serta memperlambat kerusakan retina, meskipun keamanan jangka panjang, durasi efek, manfaat fungsional, dan beban pengobatan masih perlu diperhatikan.